Rabu, 02 Oktober 2013

CARA MEMBUAT KULIT PUTIH :)

Dewasa ini kalangan perempuan kita, terutama yang berlabel selebritas, berlomba-lomba untuk membuat kulitnya putih. Mereka seolah tak mau kalah dengan gadis-gadis Jepang yang memang sudah dari sananya diberikan kulit yang putih dan mulus. Memang memiliki kulit yang putih dan bersih menjadi dambaan banyak perempuan sehingga tak mengherankan kalau berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan kulit yang putih. Lantas bagaimana dengan Anda?
Banyak diantara para perempuan tersebut yang rela merogoh koceknya dalam-dalam demi untuk mendapatkan kulit yang putih bersih. Padahal menurut banyak pakar kesehatan kulit, sebetulnya cukup mudah untuk mendapatkan kulit putih sesuai dengan yang diinginkan. Kondisi kulit seseorang sangat tergantung dari makanan yang dikonsumsinya setiap hari. Sebaiknya Anda mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung nutrisinya untuk kesehatan kulit. Dan berikut merupakan makanan yang sebaiknya Anda rutin konsumsi untuk mendapatkan kulit putih bercahaya.
--> Buah stroberi
Barangkali orang banyak mengenal buah ini karena rasanya yang masam. Buah stroberi paling mantap kalau dibuat jus dan diminum di siang hari bolong. Nah, selain buah yang menyegarkan, stroberi juga termasuk buah yang tinggi kandungan vitamin C-nya. Untuk diketahui bahwa vitamin C ini sangat bermanfaat untuk menyehatkan kulit karena memiliki kandungan kolagen. Disamping itu, vitamin C juga memiliki peranan yang aktif untuk mencerahkan kulit. Konsumsi buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C dapat menyamarkan garis-garis kerutan di muka.
--> Telur
Didalam telur terkandung zat-zat penting semisala lutein dan zeaxanthin yang dapat membantu membuat kulit lebih putih. Kedua zat tersebut bahu-membahu dalam menjaga kelembaban dan keindahan kulit dengan cara memblok paparan sinar ultraviolet yang berpotensi untuk merusak kulit. Apakah hanya itu khasiatnya? Masih banyak khasiat telur lainnya seperti dapat membantu dalam menjaga kekencangan kulit, melembabkan dan melembutkan kulit.
--> Tomat
Tomat juga memiliki peranan yang tak kalah pentingnya dibandingkan dengan telur. Didalam tomat terkandung lycopene yang mampu melindungi kulit dari bahayanya paparan sinar ultraviolet yang dapat merusak kulit. Makanya dengan mengkonsumsi tomat dalam jumlah yang cukup setiap harinya akan membantu menjaga kulit dan menambah elastisitasnya. Tomat juga dapat membantu kulit Anda lebih kencang karena memiliki kandungan yang mampu merangsang kolagen didalam sel kulit. Dan kolagen itulah yang sangat bermanfaat untuk membuat kulit tidak kendur.
--> Soya
Soya merupakan bahan makanan selanjutnya yang dapat membuat kulit lebih cerah dan bercahaya. Makanan yang termasuk dalam family kacang-kacangan ini sangat kaya akan isoflavon yang dapat membantu membuat kulit lebih cerah dan juga bebas dari kerutan. Jika tak percaya maka Anda bisa menjajalnya langsung dengan cara mengkonsumsinya secara rutin.
Itulah beberapa makanan untuk membuat kulit putih, alami dan berseri.

TUGAS PORTOFOLIO 1

A. PENGANTAR

1. Definisi Manajemen
Kata Manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno ménagement, yang memiliki arti "seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.

2. Definisi Kepemimpinan
Berikut ini beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli mengenai definisi kepemimpinan :
  • George R. Terry (yang dikutip dari Sutarto, 1998 : 17). Kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seseorang atau pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
  • Ordway Tead (1929). Kepemimpinan sebagai perpaduan perangai yang memungkinkan seseorang mampu mendorong pihak lain menyelesaikan tugasnya.
  • Rauch & Behling (1984). Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas-aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan.
  • Katz & Kahn (1978). Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada, dan berada diatas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi.
  • Hemhill & Coon (1995). Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktifitas-aktifitas suatu kelompok kesuatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal).
  • William G.Scott (1962). Kepemimpinan adalah sebagai proses mempengaruhi kegiatan yang diorganisir dalam kelompok di dalam usahanya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.

3. Teori Kepemimpinan Contingency Fiedler (matching leaders and task)
Fiddler mendefinisikan efektivitas pemimpin dalam hal performa grup dalam mencapai tujuannya. Fiddler membagi tipe pemimpin menjadi 2: yang berorientasi pada tugas dan yang berorientasi pada maintenance. Dari observasi ini ditemukan fakta bahwa tidak ada korelasi konsisten antara efektifitas grup dan perilaku kepemimpinan.
Pemimpin yang berorientasi pada tugas akan efektif pada 2 set kondisi.
  • Pada set yang pertama, pemimpin ini sangat memiliki hubungan yang baik dengan anggotanya, tugas yang didelegasikan pada anggota sangat terstruktur dengan baik, dan memiliki posisi yang tinggi dengan otoritas yang tinggi juga. Pada keadaan ini, grup sangat termotivasi melakukan tugasnya dan bersedia melakukan tugas yang diberikan dengan sebaik-baiknya.
  • Pada set yang kedua, pemimpin ini tidak memiliki hubungan yang baik dengan anggotanya, tugas yang diberikan tidak jelas, dan memiliki posisi dan otoritas yang rendah. Dalam kondisi semacam ini, pemimpin mempunyai kemungkinan untuk mengambil alih tanggung jawab dalam mengambil keputusan, dan mengarahkan anggotanya.
Kepemimpinan tidak akan terjadi dalam satu kevakuman sosial atau lingkungan. Para pemimpin mencoba melakukan pengaruhnya kepada anggota kelompok dalam kaitannya dengan situasi2 yg spesifik.Karena situasi dapat sangat bervariasi sepanjang dimensi yang berbeda, oleh karenanya hanya masuk akal untuk memperkirakan bahwa tidak ada satu gaya atau pendekatan kepemimpinan yang akan selalu terbaik. Namun, sebagaimana telah kita pahami bahwa strategi yg paling efektif mungkin akan bervariasi dari satu situasi ke situasi lainnya.
Penerimaan kenyataan dasar ini melandasi teori tentang efektifitas pemimpin yang dikembangkan oleh Fiedler, yang menerangkan teorinya sebagai Contingency Approach.Asumsi sentral teori ini adalah bahwa kontribusi seorang pemimpin kepada kesuksesan kinerja oleh kelompoknya adalah ditentukan oleh kedua hal yakni karakteristik pemimpin dan dan oleh berbagai variasi kondisi dan situasi. Untuk dapat memahami secara lengkap efektifitas pemimpin, kedua hal tsb harus dipertimbangkan.
Fiedler memprediksi bahwa para pemimpin dengan Low LPC yakni mereka yang mengutamakan orientasi pada tugas, akan lebih efektip dibanding para pemimpin yang High LPC, yakni mereka yang mengutamakan orientasi kepada orang/hubungan baik dengan orang apabila kontrol situasinya sangat rendah ataupun sangat tinggi.
Sebaliknya para pemimpin dengan High LPC akan lebih efektif dibanding pemimpin dengan Low LPC apabila kontrol situasinya moderat.

4. Model Kepemimpinan normatif menurut Vroom & Yetton
Salah satu tugas utama dari seorang pemimpin adalah membuat keputusan. Karena keputusan2 yg dilakukan para pemimpin sering kali sangat berdampak kpd para bawahan mereka, maka jelas bahwa komponen utama dari efektifitas pemimpin adalah kemampuan mengambil keputusan yang sangat menentukan keberhasilan ybs melaksanakan tugas2 pentingnya. Pemimpin yang mampu membuat keputusan dengan baik akan lebih efektif dalam jangka panjang dibanding dengan mereka yg tidak mampu membuat keputusan dengan baik. Dalam mengambil keputusan, bagaimana pemimpin memperlakukan bawahannya? Dengan kata lain seberapa jauh para bawahannya diajak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan?
Sebagaimana telah kita pahami bahwa partisipasi bawahan dalam pengambilan keputusan dapat meningkatkan kepuasan kerja, mengurangi stress, dan meningkatkan produktivitas.Namun seberapa jauh partisipasi bawahan dalam pengambilan keputusan akan diberikan pemimpinnya? Jawabannya adalah Normative Theory dari Vroom and Yetton.
Vroom dan Yetton (1973) mengembangkan model kepemimpinan normatif dalam 3 kunci utama: metode taksonomi kepemimpinan, atribut-atribut permasalahan, dan pohon keputusan (decision tree). 5 tipe kunci metode kepemimpinan yang teridentifikasi (Vroom & Yetton, 1973) :
  • Autocratic I: membuat keputusan dengan menggunakan informasi yang saat ini terdapat pada pemimpin.
  • Autocratic II: membuat keputusan dengan menggunakan informasi yang terdapat pada seluruh anggota kelompok tanpa terlebih dahulu menginformasikan tujuan dari penyampaian informasi yang mereka berikan.
  • Consultative I: berbagi akan masalah yang ada dengan individu yang relevan, mengetahui ide-ide dan saran mereka tanpa melibatkan mereka ke dalam kelompok; lalu membuat keputusan.
  • Consultative II: berbagi masalah dengan kelompok, mendapatkan ide-ide dan saran mereka saat diskusi kelompok berlangsung, dan kemudian membuat keputusan.
  • Group II: berbagi masalah yang ada dengan kelompok, mengepalai diskusi kelompok, serta menerima dan menerapkan keputusan apapun yang dibuat oleh kelompok.
Tidak ada satupun dari metode ini yang dianggap terbaik untuk diterapkan pada berbagai situasi. Para pemimpin harus mencocokkan metode kepemimpinan dengan situasi yang ada. Ada 7 atribut dari situasi yang harus diambil dalam memutuskan metode kepemimpinan seperti apa yang harus digunakan (Vroom & Yetton, 1973):
  • Adakah kualitas lain yang lebih rasional daripada solusi yang telah ada?
  • Apakah saya memiliki informasi dan keahlian yang cukup untuk membuat sebuah keputusan yang berkualitas tinggi?
  • Apakah masalahnya terstruktur?
  • Apakah penerimaan subordinat saya terhadap keputusan yang saya buat akan mempengaruhi efektivitas dalam implementasi keputusan saya?
  • Jika saya harus membuat keputusan sendiri, apakah keputusan saya dapat diterima secara beralasan oleh subordinat saya?
  • Apakah subrodinat saya memiliki tujuan organisasi yang sama dengan saya saat memecahkan masalah ini?
  • Apakah konflik akan terjadi di kalangan subordinat saya ketika solusi ini terpilih?
Jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut terspesifikasi melalui metode kepemimpinan macam apa yang paling tepat diterapkan pada situasi tertentu. Jawaban “ya” dan “tidak” akan mengarah pada pohon keputusan (decision tree) yang membantu pemimpin untuk melanjutkan tanggungjawabnya. Aturan Yang Dirancang Untuk Mendukung Dan Melindungi Hasil Penerimaanm Keputusan ; Vroom & Yetton, 1973 :
  • Penerimaan Aturan: Jika penerimaan oleh bawahan sangat penting untuk pelaksanaan yang efektif, menghilangkan gaya otokratis.
  • Konflik Aturan: Jika penerimaan oleh bawahan sangat penting untuk pelaksanaan yang efektif, dan mereka memegang pendapat yang saling bertentangan atas sarana untuk mencapai beberapa tujuan, menghilangkan gaya otokratis.
  • Keadilan Aturan: Jika kualitas keputusan penerimaan tidak penting tapi penting, gunakan gaya yang paling partisipatif.
  • Penerimaan Aturan Prioritas: Jika penerimaan sangat penting dan tidak pasti hasil dari keputusan otokratis, dan jika súbor-dinates tidak termotivasi untuk mencapai tujuan organisasi, gunakan gaya yang sangat partisipatif.
5. Path_Goal Theory dalam kepemimpinan
Sekarang ini salah satu pendekatan yang paling diyakini adalah teori path-goal, teori path-goal adalah suatu model kontijensi kepemimpinan yang dikembangkan oleh Robert House, yang menyaring elemen-elemen dari penelitian Ohio State tentang kepemimpinan pada inisiating structure dan consideration serta teori pengharapan motivasi.
Menurut teori path-goal, suatu perilaku pemimpin dapat diterima oleh bawahan pada tingkatan yang ditinjau oleh mereka sebagai sebuah sumber kepuasan saat itu atau masa mendatang. Perilaku pemimpin akan memberikan motivasi sepanjang (1) membuat bawahan merasa butuh kepuasan dalam pencapaian kinerja yang efektif, dan (2) menyediakan ajaran, arahan, dukungan dan penghargaan yang diperlukan dalam kinerja efektif (Robins, 2002).
Bawahan sering berharap pemimpin membantu mengarahkan mereka dalam mencapai tujuan. Dengan kata lain bawahan berharap para pemimpin mereka membantu mereka dalam pencapaian tujuan2 bernilai mereka. Ide di atas memainkan peran penting dalam House’s path-goal theory yang menyatakan bahwa kegiatan2 pemimpin yang menjelaskan bentuk tugas dan mengurangi atau menghilangkan berbagai hambatan akan meningkatkan persepsi para bawahan bahwa bekerja keras akan mengarahkan ke kinerja yg baik dan kinerja yg baik tsb selanjutnya akan diakui dan diberikan ganjaran.
Model kepemimpinan path-goal berusaha meramalkan efektivitas kepemimpinan dalam berbagai situasi. Menurut model ini, pemimpin menjadi efektif karena pengaruh motivasi mereka yang positif, kemampuan untuk melaksanakan, dan kepuasan pengikutnya. Teorinya disebut sebagai path-goal karena memfokuskan pada bagaimana pimpinan mempengaruhi persepsi pengikutnya pada tujuan kerja, tujuan pengembangan diri, dan jalan untuk menggapai tujuan.
Model path-goal menjelaskan bagaimana seorang pimpinan dapat memudahkan bawahan melaksanakan tugas dengan menunjukkan bagaimana prestasi mereka dapat digunakan sebagai alat mencapai hasil yang mereka inginkan. Teori Pengharapan (Expectancy Theory) menjelaskan bagaimana sikap dan perilaku individu dipengaruhi oleh hubungan antara usaha dan prestasi (path-goal) dengan valensi dari hasil (goal attractiveness). Individu akan memperoleh kepuasan dan produktif ketika melihat adanya hubungan kuat antara usaha dan prestasi yang mereka lakukan dengan hasil yang mereka capai dengan nilai tinggi. Model path-goal juga mengatakan bahwa pimpinan yang paling efektif adalah mereka yang membantu bawahan mengikuti cara untuk mencapai hasil yang bernilai tinggi. Model path-goal menganjurkan bahwa kepemimpinan terdiri dari dua fungsi dasar:
  • Fungsi Pertama; adalah memberi kejelasan alur. Maksudnya, seorang pemimpin harus mampu membantu bawahannya dalam memahami bagaimana cara kerja yang diperlukan di dalam menyelesaikan tugasnya.
  • Fungsi Kedua; adalah meningkatkan jumlah hasil (reward) bawahannya dengan memberi dukungan dan perhatian terhadap kebutuhan pribadi mereka.
Untuk membentuk fungsi-fungsi tersebut, pemimpin dapat mengambil berbagai gaya kepemimpinan. Empat perbedaan gaya kepemimpinan dijelaskan dalam model path-goal sebagai berikut (Koontz et al dalam Kajanto, 2003) :
  • Instrumental (directive) àInstrumental (directive): suatu pendekatan yang berfokus pada penyediaan bimbingan tertentu, menetapkan jadwal kerja dan aturan. Pemimpinan memberitahukan kepada bawahan apa yang diharapkan dari mereka, memberitahukan jadwal kerja yang harus disesuaikan dan standar kerja, serta memberikan bimbingan/arahan secara spesifik tentang cara-cara menyelesaikan tugas tersebut, termasuk di dalamnya aspek perencanaan, organisasi, koordinasi dan pengawasan
  • SupportiveàMendukung: sebuah gaya terfokus pada membangun hubungan baik dengan bawahan dan memuaskan kebutuhan mereka. Pemimpin bersifat ramah dan menunjukkan kepedulian akan kebutuhan bawahan. Ia juga memperlakukan semua bawahan sama dan menunjukkan tentang keberadaan mereka, status, dan kebutuhan-kebutuhan pribadi, sebagai usaha untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang menyenangkan di antara anggota kelompok. Kepemimpinan pendukung (supportive) memberikan pengaruh yang besar terhadap kinerja bawahan pada saat mereka sedang mengalami frustasi dan kekecewaan.
  • ParticipativeàPartisipatif: suatu pola di mana pemimpin berkonsultasi dengan bawahan, memungkinkan mereka untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Pemimpin partisipatif berkonsultasi dengan bawahan dan menggunakan saran-saran dan ide mereka sebelum mengambil suatu keputusan. Kepemimpinan partisipatif dapat meningkatkan motivasi kerja bawahan. 
  • Achievement-orientedà Prestasi berorientasi: suatu pendekatan di mana pemimpin menetapkan tujuan yang menantang dan mencari perbaikan dalam kinerja. Gaya kepemimpinan dimana pemimpin menetapkan tujuan yang menantang dan mengharapkan bawahan untuk berprestasi semaksimal mungkin serta terus menerus mencari pengembangan prestasi dalam proses pencapaian tujuan tersebut.
Terdapat dua faktor situasional yang diidentifikasikan kedalam model teori path-goal, yaitu: personal characteristic of subordinate and environmental pressures and demmand (Gibson, 2003).
a. Karakteristik Bawahan
Pada faktor situasional ini, teori path-goal memberikan penilaian bahwa perilaku pemimpin akan bisa diterima oleh bawahan jika para bawahan melihat perilaku tersebut akan merupakan sumber yang segera bisa memberikan kepuasan atau sebagai suatu instrumen bagi kepuasan-kepuasan masa depan. Karakteristik bawahan mencakup tiga hal, yakni:
  • Letak Kendali (Locus of Control), Hal ini berkaitan dengan keyakinan individu sehubungan dengan penentuan hasil. Individu yang mempunyai letak kendali internal meyakini bahwa hasil (reward) yang mereka peroleh didasarkan pada usaha yang mereka lakukan sendiri. Sedangkan mereka yang cenderung letak kendali eksternal meyakini bahwa hasil yang mereka peroleh dikendalikan oleh kekuatan di luar kontrol pribadi mereka. Orang yang internal cenderung lebih menyukai gaya kepemimpinan yang participative, sedangkan eksternal umumnya lebih menyenangi gaya kepemimpinan directive.
  • Kesediaan untuk Menerima Pengaruh (Authoritarianism), Kesediaan orang untuk menerima pengaruh dari orang lain. Bawahan yang tingkat authoritarianism yang tinggi cenderung merespon gaya kepemimpinan yang directive, sedangkan bawahan yang tingkat authoritarianism rendah cenderung memilih gaya kepemimpinan partisipatif.
  • Kemampuan (Abilities), Kemampuan dan pengalaman bawahan akan mempengaruhi apakah mereka dapat bekerja lebih berhasil dengan pemimpin yang berorientasi prestasi (achievement-oriented) yang telah menentukan tantangan sasaran yang harus dicapai dan mengharapkan prestasi yang tinggi, atau pemimpin yang supportive yang lebih suka memberi dorongan dan mengarahkan mereka. Bawahan yang mempunyai kemampuan yang tinggi cenderung memilih gaya kepemimpinan achievement oriented, sedangkan bawahan yang mempunyai kemampuan rendah cenderung memilih pemimpin yang supportive.

b. Karakteristik Lingkungan
pada faktor situasional ini path-goal menyatakan bahwa perilaku pemimpin akan menjadi faktor motivasi terhadap para bawahan, jika:
  • Perilaku tersebut akan memuaskan kebutuhan bawahan sehingga akan memungkinkan tercapainya efektivitas dalam pelaksanaan kerja.
  • Perilaku tersebut merupakan komplimen dari lingkungan para bawahan yang dapat berupa pemberian latihan, dukungan dan penghargaan yang diperlukan untuk mengidentifikasikan pelaksanaan kerja.
Karakteristik lingkungan terdiri dari tiga hal, yaitu:

1) Struktur Tugas
Struktur kerja yang tinggi akan mengurangi kebutuhan kepemimpinan yang direktif.

2) Wewenang Formal
Kepemimpinan yang direktif akan lebih berhasil dibandingkan dengan participative bagi organisasi dengan strktur wewenang formal yang tinggi

3) Kelompok Kerja
Kelompok kerja dengan tingkat kerjasama yang tinggi kurang membutuhkan kepemimpinan supportive.

Dengan menggunakan salah satu dari empat gaya di atas, dan dengan memperhitungkan faktor-faktor seperti yang diuraikan tersebut, seorang pemimpin harus berusaha untuk mempengaruhi persepsi para karyawan atau bawahannya dan mampu memberikan motivasi kepada mereka, dengan cara mengarahkan mereka pada kejelasan tugas-tugasnya, pencapaian tujuan, kepuasan kerja dan pelaksanaan kerja yang efektif.
MenurutPath-Goal Theory, dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi, namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi, tingkah laku pemimpin dan variabel situasional.


B. PERENCANAAN PENETAPAN MANAJEMEN
1. Definisi dari perencanaan manajemen
Dalam manajemen, perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain—pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan—tak akan dapat berjalan.
Rencana dapat berupa rencana informal atau rencana formal. Rencana informal adalah rencana yang tidak tertulis dan bukan merupakan tujuan bersama anggota suatu organisasi. Sedangkan rencana formal adalah rencana tertulis yang harus dilaksanakan suatu organisasi dalam jangka waktu tertentu. Rencana formal merupakan rencana bersama anggota korporasi, artinya, setiap anggota harus mengetahui dan menjalankan rencana itu. Rencana formal dibuat untuk mengurangi ambiguitas dan menciptakan kesepahaman tentang apa yang harus dilakukan.

2. Langkah-langkah dalam menyusun perencanaan manajemen
ANASIR DASAR pengambilan keputusan bagi pimpinan suatu lembaga/ organisasi mutlak diperlukan, yaitu proses memilih dan mengembangkan langkah-langkah yang akan diambil dalam menghadapi tantangan maupun masalah dalam organisasi/ institusi/ lembaga. Perancanaan adalah masuk dalam salah satu konsep yang dikemukakan oleh G.R. Terry yaitu terkenal dengan POAC, planning, organizing, actuating dan controlling-nya.
Perencanaan (Planning) ialah fungsi manajemen yang harus bisa menjawab rumus 5W+1H. WHAT(apa) yang akan dilakukan, WHY (mengapa) harus melakukan apa, WHEN (kapan) melakukan apa, WHERE (dimana) melakukan apa, WHO (siapa) yang melakukan apa, HOW (bagaimana) cara melakukan apa.
Pemimpin lembaga/ oragnisasi/ institusi tersebut harus mengambil prediksi-presdiksi keputusan yang akan terjadi untuk masa mendatang. Pimpinan tersebut harus memutuskan sasaran yang akan dicapai, analisa kepegawaian yang akan mengoperasikannya dimasa yang akan datang, berapa banyak jumlahnya dan mengaplikasikannya untuk dalam mencapi tujuan yang diinginkan. Elemen-elemen terkait dalam suatu lembaga harus memiliki kajian-kajian, misalnya dengan diadakannya “Rapat Staf atau Staf Meeting “. Salah satu keunggulan saat melaksanakan staf meeting adalah menggali ide-ide kreatif yang berguna demi kesinambungan institusi, mencapai satu visi misi bersama sehingga arah dan tujuan lembaga tersebut tertera jelas. Sikap fleksibel juga mutlak diperlukan untuk menghadapi segala macam perubahan.
Langkah-langkah dalam perencanaan, dimana secara garis besarnya terdiri dari empat langkah dasar perencanaan yang bisa diterapkan untuk semua tipe jenajang organisasi/ lembaga/ institusi. Langkah-langkahnya antara lain adalah :
  • Menetapkan sasaran : Kegiatan perencanaan dimulai dengan menetapkan apasaja yang ingin dicapai oleh organisasi, tanpa dasar yang jelas, sumber daya yang ada akan meluas menyebar dengan menetapkan prioritas dan merinci serta mengkalkulasi sasaran secara jelas maka organisasi dapat mengarahkan sega sumber daya yang lebih efektif dan efisien serta tepat guna dan tepat sasaran. Tugas pokok dan fungsi harus sudah ada, jika sudah memiliki tupoksi yang jelas, maka akan semakin memudahkan untu membuat sasaran yang bisa dipakai untuk satu tahun kedepan maupun sasaran yang ingin dicapai dalam lima tahuan kedepan.
  • Merumuskan Posisi Organisasi : Posisi organisasi saat ini diman pimpinan harus tahu dengan posisi organisasinya saat ini. Sumber daya apa yang dimiliki organisasinya saat ini. Barulah rencana dapat disusun setelah diketahui posisi organisasinya, kekuatan-kekuatan yang akan melaksanakan dari apa-apa yang telah direncanakan dengan mengetahui keuangan dan statistic organisasi saat ini.
  • Mengidentifikasi berbagai faktor : Mengetahui factor-faktor pendukung dan penghambat selanjutnya perlu diketahui factor-faktor baik dari dalam maupun yang datang dari luar yang diperkirakan dapat membantu dan mendukung serta yang menghambat organisasi untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Diakui mengetahui lebih mudah keadaan yang terjadi saat ini dibandingkan meramal peluang yang akan didapat di masa yang akan datang. Dan unsure utama dalam perencanaan yang paling sulit adalah melihat kedepan. Namun biarbagaimanapun harus ditunjang dengan sikap optimis.
  • Menyusun langkah-langkah untuk mencapai sasaran : Langkah terakhir dalam menyusun perencanaan adalah mengembangkan berbagai kemungkinan alternative atau langkah yang diambil untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan, mengevaluasi alternative ini dengan memilih mana yang baik dan mana yang dianggap cocok dan memuaskan.
Namanya juga rencana, namanya juga perencanaan. Segala sesuatu bisa saja terjadi sehingga apa yang telah kita rencanakan menjadi terkendala oleh beberapa faktor x, namun kita harus optimis dan berusaha untuk mewujudkan apa yang kita rencanakan adalah untuk sebuah keberhasilan. Ada sebentuk kepuasan batin jika apa yang telah kita rencanakan akan berjalan mulus dan sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan.
Namun jika perencanaan kita menemui beberapa faktor kendala, kita juga harus optimis, biar bagaimana pun pepatah "biar tidak tepat sasaran, namun tidak melenceng terlalu jauh", artinya jangan sampai benar-benar keluar dari jalur perencanaan, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok, lusa dan seterusnya. Namun perencanaan mutlak kiranya diperlukan.
Tidak Cuma untuk lembaga, pribadi pun kiranya multak membuat rencana. Nah, apa kira-kira rencana rekan-rekan pembaca? Kalimat terakhir dari saya untuk kita semua sebagai penutup akhir tulisan ini adalah semoga apa yang kira rencanakan untuk kedepan nantinya akan berjalan sesuai dengan keinginan (rencana) dengan tanpa mengalami kendala berarti dan kalaupun perlu semuanya mesti berjalan dengan lancar!

3. Manfaat perencanaan dalam organisasi
  • Membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan.
  • Membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami.
  • Meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti.
  • Manajer dapat memahami keseluruhan gambaran operasi lebih jelas.
4. Jenis-jenis perencanaan dalam organisasi
Berdasarkan jangka waktunya, rencana terbagi menjadi 2 macam yaitu:
  • Rencana jangka panjang( long term plan). Merupakan rencana yang memiliki jangka waktu lima tahun lebih.
  • Rencana jangka pendek( short term plan). Merupakan rencana yang memiliki jangka waktu satu sampai tiga tahun.
Pembagian jenis rencana dapat dilihat dari antara jenis rencana yang dibuat dan jenis keputusan yang dibuat. Pada saat perusahaan berhubungan dengan berbagai aktifitas/masalah yang membutuhkan keputusan rutin (programmed decision), perusahaan dapat membuat rencana yang bisa diterapkan untuk mengatasi berbagai aktivitas atau masalah rutin trsebut. Rencana ini disebut sebagai rencana berkelanjutan (standing plan). Misalnya aturan, kebijakan dan standard operating procedure (SOP).
Sebaliknya, perusahaan dapat mengembangkan rencana yang ditujukan untuk mengatasi masalah program yang tidak terprogram (unprogrammed decision) rencana ini disebut sebagai single-use plan. Proses pembuatan rencana akan dijelaskan sebagai berikut:
a)    Menetapkan tugas dan tujuan
b)   Observasi dan analisa
c)    Mengadakan kemungkinan-kemungkinan, seperti kemungkinan besar biaya, lamanya penyelesaian, dan efektivitas-efektivitas lainnya
d)   Menentukan sintesa (alternatif dari kemungkinan-kemungkinan)





























Selasa, 25 Juni 2013

Hukuman fisik pada anak

LATAR BELAKANG MASALAH

Sebagian orang tua masih rajin menerapkan hukuman fisik bila anaknya melakukan kesalahan, orang tua berdalih, dengan memberikan hukuman fisik seperti menampar memukul adalah sesuatu yang wajar agar si anak menjadi penurut, tidak bandel dan tentunya ingin anak kelak menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Dibenarkankah mendidik anak dengan kekerasan fisik?. Penggunaan hukuman dalam pengendalian perilaku manusia bukan hanya masalah memutuskan apakah itu berguna atau tidak, disamping itu pertanyaan psikologis yang terlibat dalam menghukum orang-orang untuk perilaku yang tidak diinginkan adalah masalah moral dan tidak diizinkan. Hukuman fisik di definisikan dalam istilah pendidikan sebagai menimbulkan rasa sakit oleh seorang guru atau pejabat sekolah pada tubuh siswa sebagai hukuman untuk melaakukan sesuatu yang tidak disukai oleh pemberi hukuman tersebut. Ini termasuk kurungan diruang yang tidak nyaman, dipaksa makan dari makanan yang tidak disukai dan berdiri untuk waktu yang lama.
Secara umum diamsusikan bahwa hukuman fisik disekolah jarang diberikan, dengan ringan tangan, terutama yang merupakan ancaman fisik kepada guru. Semua asumsi yang salah. Ada lebih dari 46000 kasus hukuman fisik di sekolah-sekolah California selama tahun 1974. Hanya 5% dari mereka berada disekolah menengah. Sasaran utama dari hukuman fisik adalah anak laki-laki dari segala usia dan anak-anak di kelas 1 sampai 4. Hukuman yang diberikan sering berutal, termasuk pemukulan dan bahkan menedang. 4 alasan yang paling umum diberikan untuk menggunakan hukuman fisik adalah:
a.       Mencoba dan metode yang efektif untuk merubah perilaku yang tidak diinginkan
b.      Mengembangkan rasa tanggung jawab yang pibadi
c.       Agar siswa belajar disiplin
d.      Untuk membantu mengembangkan karakter moral
Da alasan untuk meragukan efektifitas hukuman dalam mencapai tujuan tersebut. Perilaku target ditekan hanya ketika hukuman itu berat dan berulang, dan kemudian dihukum hanya dihadapan guru. Selain itu, efeksamping dari control ini afersif mencakup pengembangan sikap negative terhadap sekolah umum atau belajar, menghindari guru, pembolosan, ketaan terhadap otoritas, vandalisme, dan mungkin belajar untuk menggunakan kekerasan terhadap lebih muda atau siswa yang lemah.
Sekitar ¾ dari orang dewasa dalam satu survey yang mendukung hukuman fisik hanya 17% menentang dan 8% yakin. Dewasa adalah orang tua, guru, administrator, kepala sekolah dan dewan kepala sekolah. Satu-satunya kelompok yang jelas menentang terhadap siswa 50%, denga 25% mendukung dan 25% lainnya yakin.

DINAMIKA

Terkadang orang tua menghukum anak untuk menghentikan perilaku yang tidak diinginkan , akan tetapi anak-anak biasanya akan lebih banyak belajar melalui penguatan kepada perilaku yang baik.  Hukuman fisik didefinisikan sebagai penggunaan kekuatan fisik dengan tujuan menyebabkan anak mengalami rasa sakit, bukan luka, untuk tujuan koreksi, atau control perilaku anak. Hukuman tersebut dapat mencakup memukul pantat, meninju, mencubit, menampar, mengguncang (yang dapan menjadi fatal bagi bayi), dan tindakan fisik lain. Hukuman fisik merupakan bagian yang mendarah daging dalam sosialisasi banyak anak. Banyak orang percaya bahwa hukuman tersebut lebih efektif dibandingkan koreksi lain dan tidak begitu menyakitkan jika dilakukan oleh orang tua yang disayangi. Akan tetapi, bukti yang terus meningkat menyatakan bahwa keyakinan ini tidak benar bahkan hukuman fisik dapat menghasilkan konsekuensi negative yang serius, dan karena itu seharusnya tidak digunakan.
Rata-rata orang tua yang suka melakukan hukuman fisik terhadap anaknya di karenakan hubungan keluarga yang kurang harmonis, orang tua yang terlalu monoton terhadap pekerjaannya sehingga jika mereka sedang mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan maka anak akan menjadi pelampiasan kekesalan mereka.
Para tokoh menyatakan bahwa gaya pengasuhan memiliki pengaruh terhadap kompetensi anak berhadapan dengan dunia mereka. Dan berikut adalah gaya pengasuhan orang tua terhadap anak,
Gaya pengasuhan orang tua :
1.      Orang Tua Otoritarian
Memandang penting control dan kepatuhan tanpa syarat. Mereka mencoba membuat anak menyesuaikan diri dengan serangkaian standar perilakudan menghukum mereka secara membabi buta dan dengan keras atas pelanggaran yang dilakukannya. Mereka menjadi lebih terlepas dan kurang hangat dibandingkan orang tua lain. Anak mereka cenderung menjadi lebih tidak puas, menarik diri, dan tidak percaya kepada orang lain.
2.      Orang Tua Permisif
Menghargai ekspresi diri dan regulasi diri. Mereka mun gkin membuat beberapa permintaan dan mengizinkan anak untuk memonitor aktifitas mereka sendiri sebanyak mungkin. Jika harus membuat peraturan, maka mereka akan menjelaskan alasanya kepada anak-anak mereka. Mereka berkonsultasi dengan  anak-anaknya tentang keputusan kebijakan dan jarang menghukum. Mereka hangat, tidak mengontrol, dan tidak menuntut. Anak pra sekolah mereka cenderung menjadi tidak dewasa, sangat kurang control diri dan kurang eksplorasi.
3.      Orang Tua Otoritatif
Menghargai individualitas anak akan tetapi juga menekankan batasan social. Mereka memiliki keyakinan diri akan kemampuan mereka membimbing anaknya, tetapi mereka juga menghormati indenpendensi keputusan, ketertarikan, pendapat, dan kepribadian anak. Mereka mencintai dan menerima, tetapi juga menuntut perilaku yang baik, dan kokoh dalam mempertahankan standar, dan memiliki keinginan untuk menjatuhkan keinginan yang bijaksana dan terbatas ketika memang hal tersebut dibutuhkan, dalam konteks hubungan yang hangat dan sportif.
Menurut penelitian semakin tinggi presentase orang tua memberi hukuman fisik kepada anaknya, maka semakin rendah IQ anak. Bahkan semakin sering orang tua memukul anak akan membuat  perkembangan mental anak akan menjadi lambat. Anak yang sering mendapat perlakuan kasar maupun keras dari orang tuanya akan membuat anak minder, tidak mau bergaul dengan teman sebayanya dan maunya mengurung diri atau bermain sendiri di kamar. Berdisiplin merupakan kesempatan baik untuk mengajarkan sesuatu kepada anak, tetapi bila orang tua menerapkan nya dengan cara  memukul, maka secara tidak langsung dia mengajarkan kepada anaknya bahwa dengan mengguanakan cara kekerasan dapat menyelesaikan suatu masalah.
Cara menangani perilaku anak yang sering mengalami tindakan kekerasan yaitu dengan cara melakukan komunikasi yang baik, memberikan motivasi agar si anak tidak minder dan member penjelasan kepada si anak bahwa kekerasan itu bukanlah sesuatu hal yang dapat menyelesaikan masalah.
10 alasan untuk tidak melakukan hukuman fisik :
1.      Menunjukkan pesan, yang lebih kuat adalah yang benar

Bila orang tua menggunakan hukuman fisik untuk menunjukkan kepada si anak akan kesalahannya maka pesan yang dikirim adalah: “siapa yang lebih kuat dan lebih besar bias memutuskan apa yang benar dan apa yang salah”.
Perlu dipikirkan, apakah orang tua ingin mengajarkan kepada anak bahwa untuk mengutarakan pendapatnya pendapatnya atau untuk menunjukkan ia benar adalah dengan berbuat kasar/bertubuh besar?

2.      Mengajarkan orang dewasa boleh menyakiti fisik orang yang lebih muda

Memberi hukuman fisik kepada anak mengajarkan, orang yang lebih tua dan lebih besar, memiliki hak untuk menyakiti fisik orang yang lebih muda dan bertubuh kecil. Pesan ini amat membingungkan si anak bila ia juga diaajar untuk tidak memukul orang lain. Apa jadinya bila si anak kelak tumbuh menjadi orang yang bertubuh lebih besar dari orang tuanya?

3.      Mencontohkan bahwa kekerasan akan menyelesaikan segala masalah

Memberi hukuman fisik juga menunjukkan kepada anak bahwa kekerasan adalah cara yang tepat dan diperbolehkan untuk menyelesaikan masalah dalam hidup. Hukuman fisik dari orang tua kepada anak akan diartikan sebagai bentuk bullying, mengirim pesan kepada anak bahwa ini adalah cara efektif untuk membuat orang lain melakukan apa yang kita inginkan.

4.      Merusak kepercayaan diri anak bila si kecil dipukul oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya, maka aka nada pertanyaan yang berkelebat dibenak anak, seperti,”apa ada yang salah dengan saya?”. Harga diri adalah hal yang sungguh penting dalam diri seseorang, sayangnya, sayangnya hal ini pula punya bentukan yang sangat ringkih. Bila anda ingin anak sukses dalam hidup, level dari harga diri adalah salah satu factor terpenting yang ia perlukan.

5.      Menciptakan gejala masalah mental

Menurut sebuah study, hukuman fisik dari orang tua kepada anak akan menciptakan masalah mental anak dimasa depan.

6.      Merusak kepercayaan dan hubungan orang tua-anak

Bila sesorang dipukul, apakah ada yang berterimakasih dan bersyukur kepada orang yang memukul? Kemungkinan terbesar, benak akan berkata”saya benci kamu” atau komenar-komentar lain yang bersifat benci. Anak-anak berharap orang tuanya akan melindungi dan mencintainya dengan kasih, bukan dengan pukulan. Pukulan atau hukuman fisik lainnya membuat si anak berfikir mengenai konsep tersebut.

7.      Tak bisa belajar optimal

Penelitian membuktikan, tubuh tidak bisa belajar dan berfikir bila selalu dalam keadaan takut. Rasa takut menciptakan insting bertahan atau melawan serta mengucurkan hormone adrenalin dan kortisol dalam darah. Bila ini terjadi maka otak tak akan mampu berfikir maupun belajar.

8.      Mengurangi efek orang tua pada anak

Hubungan baik dan harmonis memudahkan seseorang untuk menciptakan efek dalam member masukan, arahan dan sebagainya.

9.      Membuat anak mencari cara untuk lari dari orang tuanya

Kebanyakan orang akan melakukan apa yang mereka inginkan kecuali resiko hukumannya cukup tinggi. Hukuman fisik dari orang tua yang berulang akan membuat si anak mencoba mencari cara berbohong atau lari dari orang tuanya bila ia melakukan kesalahan. Bila terus terjadi, ia akan selalu merasa takut dan selalu mencari cara untuk lari dari orang tuanya.

10.  Ada banyak cara untuk mengajar anak tentang disiplin ketimbang hukuman fisik

Hukuman fisik bukan cara satu-satunya untuk orang tua mengajarkan disiplin atau membebarkan kesalahan yang telah dilakukan anak ada banyak cara komunikasi yang lebih efektif untuk member ajaran kepada anak. Hanya karena orang tua dari orang tua menggunakan hukuman fisik dijaman dahulu. Bukan berarti hal itu boleh menjadi alasan untuk melakukan hal itu kepada anaknya.


Jadi, kalau orang tua taunya hanya memukul, maka itu sama saja dia tidak mengajarkan apa-apa tentang kebaikan. Oleh karena itu sekarang bila hendak mengajarkan anak, jadikanlah dia sebagai teman kita. Jauhkan segala sesuatu yang bersifat kekerasan. Dengan penuh kasih sayang dalam mengajar anak-anak, maka kita telah menciptakan budaya senyum tanpa kekerasan. Sehingga jangan sampai perilaku kekerasan menjadi budaya dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. 

PROFIL FILSUF AGUSTINUS

1. Riwayat Hidup Singkat
Agustinus merupakan anak tertua dari Santa Monika. Ia dilahirkan pada 354 di Tagaste, sebuah kota di algeria Afrika utara yang merupakan wilayah Romawi saat itu. Ia dibesarkan dan dididik di Karthago, dan dibaptiskan di Italia. Ibunya, Monika, adalah seorang Katolik yang saleh, sementara ayahnya, Patricius seorang kafir, namun Agustinus mengikuti agama Manikean yang kontroversial, sehingga ibunya sangat cemas dan takut. Pada masa mudanya, Agustinus hidup dengan gaya hedonistik untuk sementara waktu. Di Karthago ia menjalin hubungan dengan seorang perempuan muda yang selama lebih dari sepuluh tahun dijadikannya sebagai istri gelapnya, yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki baginya. Pendidikan dan karier awalnya ditempuhnya dalam filsafat dan retorika, seni persuasi dan bicara di depan publik. Pada usia 30 tahun, Agustinus mendapatkan kedudukan akademik yang paling menonjol di dunia Latin, pada saat ketika kedudukan demikian memberikan akses ke jabatan-jabatan politik. Monika, ibunya, mendesaknya agar ia menjadi seorang Katolik, namun uskup Milano, Ambrosiuslah, yang mempunyai pengaruh yang paling mendalam terhadap hidupnya. Agustinus beralih dari Manikeanisme, Namun bukannya menjadi Katolik seperti Ambrosius dan Monika, ia malah mengambil pendekatan Neoplatonis kafir terhadap kebenaran, meskipun pada akhirnya ia justru menjadi seorang skeptik. Pada masa itulah Agustinus dari Hippo mengucapkan doanya yang terkenal, "Berikanlah daku kemurnian dan penguasaan diri, tapi jangan dulu". Agustinus mengalami suatu krisis pribadi yang mendalam dan memutuskan untuk menjadi seorang Kristen. Ia meninggalkan kariernya dalam retorika, melepaskan jabatannya sebagai seorang profesor di Milano, dan gagasannya untuk menikah, dan mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk melayani Allah dan praktik imamat, termasuk selibat. Ia menceritakan perjalanan rohaninya dalam bukunya yang terkenal Pengakuan-pengakuan Agustinus yang kemudian menjadi sebuah buku klasik dalam teologi Kristen maupun sastra dunia. Ambrosius membaptiskan Agustinus pada hari Paskah pada 387, dan tak lama sesudah itu pada 388 ia kembali ke Afrika. Dalam perjalanan ke Afrika ibunya meninggal, dan tak lama kemudian anak laki-lakinya, sehingga ia praktis sendirian di dunia tanpa keluarga. Setelah kembali ke Afrika utara, ia membangun sebuah biara di Tagaste untuk dirinya sendiri dan sekelompok temannya..


2. Karya-karya
Agustinus dengan dedikasinya memberikan kepada orang-orang gambaran yang langka melalui beberapa buku, yakni :
a.       Tentang Tritunggal (400),
Merupakan naskah utama dari ajaran filosofis Augustinus mengenai jiwa sebagai gambaran Allah. Dalam bukunya De Trinitate ini ia menjelaskan ‘identitas’ Allah Tritunggal dan relasi dari pribadi ilahi. Pada bagian pertama Agustinus menggumuli hal kesempurnaan (kebersahajaan) absolut Allah dan pada bagian kedua memberi jaminan yang mengamankan perbedaan ketiga pribadi Ilahi melalui ajarannya mengenai relasi. Allah dalam kodrat-Nya adalah tunggal dan sempurna secara absolut dan dari kenyataan itu baru menyusul identitas dari pribadi-pribadi dengan kodrat ilahinya, yang satu sebagai Trinitas. Kenyataan itu juga menjadi dasar kesamaan dari ketiga pribadi Ilahi dan ciri khas masing-masing dalam operasi ad extra seperti penciptaan, konsepsi dari Yesus dalam rahim St. Perawan Maria dan theofania dalam Perjanjian lama. Ketiganya identik secara sempurna pada tatanan kodrati atau sehakekat dengan kesempurnaan absolut, ketiganya berbeda dalam tatanan relasi. Menurut Agustinus, Identitas Bapa terletak dalam status relasinya sebagai Bapa, sedangkan identitas Putera terletak dalam hal diperanakan (dilahirkan), sementara identitas Roh Kudus terletak dalam hal penganugerahan (adalah pemberian timbal balik antara Bapa dan Putera). Relasi-relasi tersebut sungguh real dan karena itu membutuhkan perbedaan real pula dalam istilah-istilah yang menyatakan hal tersebut. Bapa bukanlah Putera, dan Putera bukanlah Bapa begitu juga halnya  dengan Roh Kudus. Ketiganya tak berubah, subsisten, dan degan berada secara simultan maka ketiga pribadi Ilahi adalah kekal. Sang Putera tak mulai berada sebagai Anak pada saat tertentu, Ia telah ada sebagai Putera sejak kekal; demikian halnya dengan Bapa, Ia tak pernah mulai berada sebagai Bapa pada kesempatan tertentu, Ia ada sebagai Bapa sejak kekal. Hal yang sama juga harus dikatakan sehubungan dengan Roh Kudus. Jadi biar berbeda ‘hal ada’ sebagai Bapa dan Putera serta Roh Kudus namun antara ketiganya tidak ada perbedaan hakikat.
b.      Pengakuan-pengakuan Agustinus/ Confessiones (426),
Ia menceritakan perjalanan rohaninya dalam buku ini yang kemudian menjadi sebuah buku klasik dalam teologi Kristen maupun sastra dunia. Terdiri dari 13 kitab. Dalam bab-bab pertama, ia menggambarkan saat-saat sebelum pertobatannya sebagai masa yang membuatnya resah dan bingung akibat keterpecahan batinnya. Dalam bab-bab selanjutnya, dimuat ajaran Agustinus yang termasyhur mengenai kenangan (memoria) yang memuat berbagai refleksi atas pengalaman, kesadaran, waktu. Jadi, suatu ajaran yang komprehensif mengenai “filsafat kesadaran”.
c.       Kota Allah (426),
Agustinus menulis dalam Buku 18, Bab 46 dari Kota Allah (salah satu karyanya yang paling termasyhur selain Pengakuan-pengakuan Agustinus): "Orang-orang Yahudi yang membunuh Dia, dan yang tidak mau percaya kepada-Nya karena Ia harus mati dan bangkit kembali, namun mereka malah lebih hancur di tangan orang-orang Romawi, dan sama sekali tercabut dari kerajaan mereka; di sana orang asing telah berkuasa atas mereka dan kini mereka dicerai-beraikan ke berbagai negeri (sehingga memang tidak ada tempat di mana mereka tidak ada), dan dengan demikian digenapilah apa yang disaksikan oleh Kitab Suci mereka sendiri kepada kita bahwa kita tidak memalsukan nubuat tentang Kristus." Agustinus memandang penyebaran ini penting karena ia percaya bahwa itu adalah penggenapan dari nubuat-nubuat tertentu, dan dengan demikian membuktikan bahwa Yesus memang adalah Mesias.
3. Ajaran Tentang Manusia
            Agustinus memiliki 2 pandangan yang penting, yang pertama: “manusia harus bergantung kepada kedaulatan Allah”, yang kedua: “manusia mempunyai tugas merefleksikan Allah didalam kehidupan sehari-hari”. Jadi, ada hubungan vertikal ke atas yakni Tuhan dan hubungan haorisontal ke sesama manusia.
a.       Penciptaan
Agustinus dalam kerangka teorinya, menempatkan Allah sebagai pencipta utama dunia ini. Ia adalah abadi, karena berada di luar waktu dan yang menciptakan segala sesuatu yang di dunia ini dalam waktu, yang juga merupakan hasil ciptaan dari Allah. Secara lebih khusus, gagasan penciptaan creatio ex nihilo menggunakan istilah rationes seminales atau benihbenih pikiran sebagai benih dari sesuatu yang berkembang dalam rangkaian waktu yang tidak kelihatan, penuh potensi, dan penyebab segala sesuatu yang telah dibuat untuk menjadi, namun tidak harus dibuat. Tulisan ini mencoba untuk menguraikan kisah penciptaan dunia untuk memperoleh pemahaman yang utuh tentang dunia khususnya penciptaan dunia. Maka, penciptaan ini harus mendapatkan relevansinya dengan saat ini, agar menjadi kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Agustinus memiliki ajaran tentang kosmoslogi. Kurang lebih, ajarannya menggunakan ajaran dari filsafat Plato. Perbedaannya adalah ajaran Plato berhenti pada ide-ide yang ada di Topos Uranos, sedangkan ajaran Agustinus berpusat pada relasi dengan Tuhan. Dalam hal ini, ia membuktikan keberadaan Tuhan dalam filsafatnya, dengan menggabungkan atau mengawinkan antara ajaran Plato dengan ajaran iman Kristiani.
b.      Jiwa dan Tubuh
Agustinus pasti dipengaruhi oleh Platonisme. Ia tidak menerima dualisme ekstrem Plato tentang manusia (jiwa terkurung dalam tubuh). Tetapi tubuh (materi) tidak merupakan sumber kejahatan. Satu–satunya kejahatan adalah dosa yang berasal dari kehendak bebas, lagi hukuman untuk dosa. Menurutnya Jiwa/roh itu Immaterial. Jiwa itu di dalam badan, ada di mana-mana dalam badan pada waktu yang sama. Jiwa itu tidak mempunyai bagian karena ia immaterial. akan tetapi jiwa mempunyai 3 kegiatan pokok: mengingat, mengerti, dan mau. Jiwa adalah tunggal atau individual, karena jiwa ada pada badan, tetapi badan bisa binasa sedangkan jiwa tidak. Menurut Agustinus Jiwa itu diciptakan memancar (emanasi), penempatan dalam badan bukan hasil akibat kejatuhan, melainkan memang kewajaran dalam badan jasmani. Jiwa tak ada tanpa Badan. Pola pikirnya (reason) dan jiwa (soul) itu bersatu, pikir itu abadi, tentu jiwa abadi karena keduanya abadi. Jadi pikir itu abadi, kebenaran abadi, jiwa abadi. 

Daftar Pustaka
1.      Agustinus dari Hippo ;
http://id.wikipedia.org/wiki/Agustinus_dari_Hippo [date last acces : 29 maret 2013]
2.      Tokoh Filsafat abad pertengahan Augustinus ;
3.      Kajian kosmologi menurut Augustinus dalam confessiones ;

MASALAH DALAM PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS

1. MASALAH DALAM MELAKUKAN TES INTELEGENSI PADA ORANG DEWASA


a.     Penurunan akibat pertambahan usia

Ciri khas yang diperkenalkan oleh skala Wechsler untuk mengukur intelegensi orang dewasa adalah penggunaan norma mundur untuk menghitung simpangan IQ. Skor-skor mentah pada subtes WAIS pertama diolah ke dalam skor baku dengan rata-rata 10 dan simpangan baku. Skor-skor yang diskalakan ini diekspresikan dari segi kelompok rujukan pasti yang terdiri dari 500 orang berusia antara 20 dan 34 tahun dimasukkan dalam sampel yang dibakukan. Jumlah skor-skor yang diskalakan pada 11 subtes, digunakan untuk menemukan IQ simpangan dalam table usia yang tepat. Akan tetapi, jika kita menguji jumlah skor yang diskalakan secara langsung, kita dapat membandingkan kinerja dari kelompok usia berbeda dilihat dari segi skala tunggal bersinambung. Dengan demikian, jika peserta tes memperlihatkan kemerosotan yang sama dalam kinerja pada usia yang sama seperti yang ada pada sampel normative, IQ-nya seharusnya tetap konstan. Dasar pemikiran awal Wechsler untuk prosedur ini adalah bahwa merupakan hal “normal” bila kemampuan seseorang yang dites itu merosot sesuai dengan makin tingginya usia melebihi 30-an tahun.
Perbedaan usia dalam tingkat pendidikan tak bisa dielakkan jika sebuah sampel standardisasi tes harus benar-benar merupakan representasi dari populasi Negara pada saat norma-norma itu ditetapkan. Meskipun demikian, perbedaan-perbedaan pendidikan merumitkan interpretasi dari penurunan skor yang diamati. Kelompok-kelopok yang lebih tua dalam sampel standardisasi mungkin berkinerja lebih jelek pada tes bukan karena sudah tua, melainkan karena mendapatkan lebih sedikit pendidikan dibanding kelompok yang lebih muda.
Hasil yang diperoleh dari sampel standardisasi pada skala Wechsler adalah penemuan khas dari telaah potongan-lintang (cross-sectional) yang tradisional atas intelegensi orang dewasa. Perbandingan-perbandingan potong-lintang, yaitu orang-orang dari usia berbeda diuji pada saat yang sama, mungkin memperlihatkan penurunan akibat pertambahan usia yang jelas disebabkan oleh perubahan cultural yang dibangun bersama dengan efek-efek usia. Banyaknya pendidikan formal yang ditempuh, hanya merupakan salah satu dari banyak variable dimana kelompok usia bisa berbeda. Perubahan cultural lainnya telah terjadi dalam masyarakat manusia selama setengah abad yang lalu, yang membuat latar belakang pengalaman dari mereka yang berusia 20-tahun dan 70-tahun cukup berbeda. Tentu saja perubahan-perubahan dalam media komunikasi, seperti radio, televisi, dan internet, serta dalam transportasi telah sangat meningkatkan kisaran informasi yang tersedia untuk pengembangan individual. Perbaikan dalam nutrisi dan perawatan medis juga akan secara tidak langsung memengaruhi perkembangan perilaku.





b.    Perbedaan individual dan usia

Selain temuan-temuan dasar bahwa penurunan akibat pertambahan usia lebih kecil dan selama hidup muncul belakangan dibanding perkiraan sebelumnya, riset terbaru umumnya menyingkapkan perbedaan individual yang besar dalam kemampuan pada semua level usia. Generalisasi apa saja, apakah menyinggung dekremen usian atau perbedaan kelompok, harus dikualifikasi oleh pengakuan akan variabilitas individu yang ditemukan dalam semua situasi. Perbedaan-perbedaan individual dalam level-level usia. Akibatnya, distribusi skor yang didapatkan oleh orang-orang dari usia berbeda tumpang tindih secara ekstensif. Ini sesungguhnya berarti bahwa dapat ditemukan banyak dari orang-orang lebih tua, yang kinerja sama denga  orang yang lebih muda. Lagi pula, mereka yang berkinerja terbaik dalam kelompok yang lebih tua melebihi mereka yang berkinerja paling jelek dalam kelompok yang lebih muda. Juga pertumpang tindih tersebut tidak terbatas pada level usia yang berdekatan rentang kinerja masih bertumpah tindih bila kelompok –kelompok ekstrem dibandingkan. Dengan demikian, beberapa orang yang berusia 80 tahun akan berprestasi lebih baik daripada beberapa orang yang berusia 20 tahun.
Akan tetapi, hal yang bahkan lebih relevan untuk topic yang sekarang adalah perubahan-perubahan yang terjadi sesuai dengan usia bervariasi pada setiap orang. Dengan demikian, antara usia 50 dan 60 tahun misalnya, ada yang bisa memperlihatkan penurunan, ada yang tidak mengalami perubahan berarti, dan ada yang meningkat, dalam kinerja tes. Besarnya perubahan, apakah itu merosot atau meningkat, juga akan sangat bervariasi diantara individu. Lagi pula, telaah-telaah intensif atas orang-orang berusia lanjut hingga dasawarsa kehidupan ketujuh, delapan, dan Sembilan, menunjukkan bahwa fungsi intelektual lebih erat berhubungan dengan status kesehatan individu dibanding dengan usia kronologis. Faktor-faktor penunjang lainnya adalah lingkungan yang menyenangkan, dengan peluang-peluang rangsangan intelektual yang bervariasi dan pemeliharaan gaya hidup yang luwes.


c.     Hakikat inteligensi orang dewasa

Karena tes intelegensi bertaut dengan kemampuan-kemampuan akademik, tidak mengherankan kalau ditemukan bahwa telaah paling dini atas orang dewasa telah memperlihatkan peningkatan usia yang lebih besar dalam skor dikalangan individu yang melanjutkan pendidikan mereka lebih jauh. Sama halnya, orang-orang yang kedudukannya lebih “akademik” dalam content, yang menuntut permainan kata dan kemampuan numeric, mungkin untuk mempertahankan level kinerja mereka atau memperlihatkan perbaikan dalam skor tes intelegensi selama bertahun-tahun, sementara mereka yang bergabung dalam jabatan-jabatan yang menekan aktivitas mekanik atau hubungan antarpersonal bisa memperlihatkan kemerosotan.




2.     OBJEKTIVITAS TES

Bila streotipe dan prasangka sosial mungkin mengganggu evaluasi antar pribadi, tes merupakan usaha untuk berjaga-jaga terhadap favoritisme dan keputusan yang sifatnya sewenang-wenang dan tak terduga-duga. Ketika gerakan hak-hak sipil mencapai memontumnya, berbagai pengamat meminta perhatian pada fungsi positif yang bisa dilakukan oleh pengetesan baku. Dalam komentarnya tentang penggunaan tes di sekolah, Gardner (1961, hlm. 48-49) menulis: “tes-tes tidak bisa melihat apakah seorang anak muda berpakaian compang-camping atau wol dan tes-tes tidak bisa mendengar aksen dari perkampungan kumuh. Tes-tes menyingkapkan paket intelektual pada tiap tingkat populasi.
Jika tes-tes harus disingkirkan, kebutuhan untuk membuat pilihan oleh individual juga oleh organisasi, akan tetap ada. Pengambilan keputusan akan jatuh kembali pada alternative-alternatif yang sudah lama dikenal, seperti surat rekomendasi, wawancara, dan indeks prestasi kumulatif. Dewasa ini, sumber data alternative ini kerap digunakan bersama-sama dengan skor tes, tetapi bukan menggantikan tes. Sesungguhnya, tes-tes terbakukan diperkenalkan sebagai satu sarana untuk mengompensasi ketidakandalan, subjektivitas dan bias potensial dari prosedur tradisional ini. Alternative-alternatif terhadap pengetesan ini umumnya terbuktikurang akurat dibanding dalam memprediksi kinerja di sekolah ataupun kinerja pekerjaan. Prosedur alternative yang lebih baru dikembangkan, seperti teknik penaksiran portofolio dan kinerja, pada akhirnya mungkin terbukti memiliki keuntungan jika dibandingkan denga tes-tes tradisional. Akan tetapi, sejauh ini riset dengan teknik-teknik baru ini menunjukkan bahwa teknik-teknik tersebut tidak lebih tepat untuk berbagai populasi dibandingkan dengan tes-tes terbakukan yang hendak mereka lengkapi atau gantikan.
Serangan terhadap pengetesan kerap gagal membeda-bedakan antara sumbangan yang positif dai pengetesan terhadap keadilan dalam mengambil keputusan serta penyalahgunaan tes sebagai jalan pintas untuk keputusan yang dipertimbangkan secra cermat. Memandang pengetesan dalam konteks sosialnya, Committee on Ability Testing mendesak agar tes dipandang bukan sebagai obat mujarab atau sebgai kambing hitam bagi masalah-masalah masyarakat untuk meningkatkan kesempatan bagi anggota kelompok minoritas yang bersangkutan seharusnya tidak dicampuradukkan dengan validitas proses pengetesan. Dalam peryataan pentin, komisi menyatakan, “usaha untuk mencari masyarakat yang lebih pantas telah menempatkan kemampuan pengetesan pada pusat kontroversi dan memberi reputasi yang berlebihan untuk yang buruk dan yang baik”. Kenyataan ini masih berlaku dan dalam konteks kurangnya alternative yang tepat dan akan terus berlaku utnuk waktu yang cukup lama.
Ringkas kata, tes-tes tentu saja bisa disalahgunakan pada kelompok minoritas seperti halnya pada siapa pun. Meskipun begitu, bila digunakan denga tepat, tes-tes bisa menjalankan fungsi yang penting dalam pencegahan diskriminasi yang tidak relevan dan tidak adil. Bila melakukan evaluasi atas konsekuensi sosial pengetesan, kita perlu menaksir secara teliti konsekuensi-konsekuensi sosial dari tidak dilakukannya pengetesan dan dengan demikian, bersandar pada prosedur-prosedur lain untuk mengambil keputusan, yang lebih kurang adil dibanding pengetesan. Selanjutnya, dalam menentukan konsekuensi pengetesan, kita harus teliti membeda-bedakan konsekuensi penggunaan tes yang tepat dari konsekuensi penyalahgunaan tes serta memisahkan konsekuensi langsung pengetesan dari konsekuensi yang diperantarai oleh faktor-faktor luar pengetesan. Sebaliknya, karena alasan-alasan yang salah kita mungkin membuang alat yang meskipun selalu membutuhkan perbaikan tapi bisa terbukti tidak dapat digantikan.




3.     KUALIFIKASI PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS

Prinsip kode etik dalam hal kompetensi menyatakan bahwa para psikolog “memberikan hanya jasa dan menggunakan hanya teknik yang mereka kuasai melalui pendidikan, pelatihan, atau pengalaman”. Dalam kaitan dengan tes, persyaratan bahwa tes-tes itu digunakan hanya oleh penguji-penguji yang memiliki kualifikasi tepat adalah satu langkah untuk melindungi peserta tes terhadap penggunaan tes yang tidak selayaknya. Tentu saja, kualifikasi yang diperlukan berbeda menurut jenis tes. Dengan demikian, periode pelatihan intensif yang relative panjang dan pengalaman yang disupervisi diperlukan demi penggunaan yang sepantasnya atas tes intelegensi individu dan kebanyakan tes kepribadian, sedangkan pelatihan psikologis yang kurang begitu spesifik diperlukan untuk tes-tes prestasi pendidikan atau kemahiran pekerjaan. Hendaknya diperhatikan bahwa siswa-siswa yang mengikuti tes dalam kelas untuk maksud pengajaran, biasanya tidak dilengkapi untuk melaksanakan tes yang lain atau menginterprestasikan skor-skor tes secara tepat.
Para penguji yang benar terlatih memilih tes yang sesuai, baik dengan maksud tertentu yang menjadi tujuan pengetesan, maupun dengan orang yang diuji. Mereka juga sadar tentang kepustakaan riset yang ada pada tes yang dipilih dan mampu melakukan evaluasi atas segi-segi teknis dalam kaitan dengan ciri-ciri misalnya, norma, realibilitas, dan validitas. Dalam menyelenggarakan tes mereka tanggap terhadap banyak kondisi yang bisa memengaruhi kinerja tes. Mereka menarik kesimpulan untuk membuat rekomendasi hanya setelah mempertimbangkan skor tes dari segi informasi berkaitan lainnyatentang individu bersangkutan. Di atas segalanya, mereka seharusnya memiliki pengetahuan yang luas dalam ilmu tentang perilaku manusia untuk mewaspadai kesimpulan yang tidak berdasar dalam interpretasi mereka atas skor-skor tes. Bila tes diselenggarakan oleh teknisi psikologis atau asisten psikologis, atau orang yang tidak memiliki latihan professional memadai, penting untuk diperhatikan bahwa seorang psikolog yang memiliki kualifikasi cukup, hadir ditempat itu, setidak-tidaknya sebagai konsultan untuk memberikan perspektif yang dibutuhkan bagi interpretasi kinerja tes yang tepat.
Siapakah psikolog yang memenuhi syarat?
Jelas, mengingat diversifikasi disiplin ini dan spesialisasi akibat pelatihan, tidak satupun psikolog sama kualifikasinya didalam semua bidang, bahkan dalam bidang pengetesan dan penaksiran psikologis yang lebih sempit. Dengan mengakui fakta ini, kode etik meminta para psikolog untuk “menerima batas-batas kompetensi khusus mereka dan keterbatasan keahlian mereka”. Implikasi kewajiban etis ini telah dinyatakan dalam prinsip kompetensi yang telah dikutip sebelumnya.
Sebuah lengkah penting, baik dalam memengaruhi standar professional maupun dalam membantu mesyarakat untuk mengidentifikasi psikolog yang memenuhi syarat, adalah pemberlakuan pemberian lesensi Negara bagian dan hokum sertifikasi bagi para psikolog. Semua Negara bagian, juga District of Colombia, jarang memiliki hukum seperti ini; kebanyakan provinsi Canada juga telah memberlakukan Undang-undang yang mengatur praktik psikologi. Meskipun “pemberian Lisensi” dan “sertifikasi” kerap digunakan secara timbale balik, dalam psikologi, sertifikasi terutama merujuk pada perlindungan hukum atas gelar “psikolog”, sementara pemberian lisensi mengendalikan praktik psikologi terlepas dari gelar, yang karenanya orang yang berpraktik itu dikenali. Dengan demikian, hukum-hukum pemberian lisensi perlu mencakup definisi dari praktik psikologi. Kebanyakan Negara bagian mulai dengan hukum sertifikasi yang lebih sederhana, tetapi ada gerakan yang berkesinambungan menuju pemberian lisensi. Dalam salah satu tipe hukum ini, persyaratan umumnya adalah doktorat dalam psikologi, jumlah pengalaman tersupervisi yang khusus, dan kinerja memuaskan pada pengujian untuk memperoleh kualifikasi. Aturan pemberian lisensi umumnya meliputi dasar untuk tindakan disipliner terhadap psikolog, yang bisa dimulai dari denda dan teguran sampai skor dan pencabutan lisensi. Banyak yurisdiksi telah memuat persyaratan etis APA dalam aturan mereka, entah secara langsung entah tidak langsung sehingga pelanggaran atas kode etik kerap merupakan dasar bagi bentuk tindakan disipliner tertentu. APA juga telah mengembangkan Model Act for State Licensure of Psychologists untuk berfungsi sebagai prototype bagi penyusunan konsep perundang-undangan Negara bagian yang mengatur praktik psikologi.
Pada tingkat lebih lanjut, sertifikasi spesialisasi diberikan oleh American Board of Professional Psychology. Dengan menuntut tingkat pelatihan dan pengalaman yang tinggi dalam spesialisasi yang dimaksud .
Dalam dasawarsa yang lampau, pergeseran dalam system pelayanan kesehatan dan perubahan lain dalam pasaran kerja professional telah membuat masalah surat kepercayaan bagi praktik psikologi menjadi hal yang semakin mendesak. Karena itu, American Psycholoical Association telah mengambil beberapa langkah untuk menegakkan manajemen yang tertib atas banyak konflik potensial yang inheren dalam atmosfir dewasa ini. Salah satu langkah ini adalah penciptaan APA college of Professional Psychology, yang akan mengeluarkan surat kepercayaan bagi berbagai keahlian dalam psikologi melalui prosedur yang mencakup pengujian dan juga persyaratan pendidikan serta pengalaman. Langkah lainnya adalah pengembangan proses dimana spesialisasi dan kemahiran praktik psikologi bisa diakui secara formal. Pedoman lebih lanjut menyangkut isu spesifik kualifikasi penggunaan tes dan juga prosedur baru untuk mengakreditasi spesialisasi penaksiran pasti akan timbul dimasa depan.


followers