Selasa, 25 Juni 2013

PROFIL FILSUF AGUSTINUS

1. Riwayat Hidup Singkat
Agustinus merupakan anak tertua dari Santa Monika. Ia dilahirkan pada 354 di Tagaste, sebuah kota di algeria Afrika utara yang merupakan wilayah Romawi saat itu. Ia dibesarkan dan dididik di Karthago, dan dibaptiskan di Italia. Ibunya, Monika, adalah seorang Katolik yang saleh, sementara ayahnya, Patricius seorang kafir, namun Agustinus mengikuti agama Manikean yang kontroversial, sehingga ibunya sangat cemas dan takut. Pada masa mudanya, Agustinus hidup dengan gaya hedonistik untuk sementara waktu. Di Karthago ia menjalin hubungan dengan seorang perempuan muda yang selama lebih dari sepuluh tahun dijadikannya sebagai istri gelapnya, yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki baginya. Pendidikan dan karier awalnya ditempuhnya dalam filsafat dan retorika, seni persuasi dan bicara di depan publik. Pada usia 30 tahun, Agustinus mendapatkan kedudukan akademik yang paling menonjol di dunia Latin, pada saat ketika kedudukan demikian memberikan akses ke jabatan-jabatan politik. Monika, ibunya, mendesaknya agar ia menjadi seorang Katolik, namun uskup Milano, Ambrosiuslah, yang mempunyai pengaruh yang paling mendalam terhadap hidupnya. Agustinus beralih dari Manikeanisme, Namun bukannya menjadi Katolik seperti Ambrosius dan Monika, ia malah mengambil pendekatan Neoplatonis kafir terhadap kebenaran, meskipun pada akhirnya ia justru menjadi seorang skeptik. Pada masa itulah Agustinus dari Hippo mengucapkan doanya yang terkenal, "Berikanlah daku kemurnian dan penguasaan diri, tapi jangan dulu". Agustinus mengalami suatu krisis pribadi yang mendalam dan memutuskan untuk menjadi seorang Kristen. Ia meninggalkan kariernya dalam retorika, melepaskan jabatannya sebagai seorang profesor di Milano, dan gagasannya untuk menikah, dan mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk melayani Allah dan praktik imamat, termasuk selibat. Ia menceritakan perjalanan rohaninya dalam bukunya yang terkenal Pengakuan-pengakuan Agustinus yang kemudian menjadi sebuah buku klasik dalam teologi Kristen maupun sastra dunia. Ambrosius membaptiskan Agustinus pada hari Paskah pada 387, dan tak lama sesudah itu pada 388 ia kembali ke Afrika. Dalam perjalanan ke Afrika ibunya meninggal, dan tak lama kemudian anak laki-lakinya, sehingga ia praktis sendirian di dunia tanpa keluarga. Setelah kembali ke Afrika utara, ia membangun sebuah biara di Tagaste untuk dirinya sendiri dan sekelompok temannya..


2. Karya-karya
Agustinus dengan dedikasinya memberikan kepada orang-orang gambaran yang langka melalui beberapa buku, yakni :
a.       Tentang Tritunggal (400),
Merupakan naskah utama dari ajaran filosofis Augustinus mengenai jiwa sebagai gambaran Allah. Dalam bukunya De Trinitate ini ia menjelaskan ‘identitas’ Allah Tritunggal dan relasi dari pribadi ilahi. Pada bagian pertama Agustinus menggumuli hal kesempurnaan (kebersahajaan) absolut Allah dan pada bagian kedua memberi jaminan yang mengamankan perbedaan ketiga pribadi Ilahi melalui ajarannya mengenai relasi. Allah dalam kodrat-Nya adalah tunggal dan sempurna secara absolut dan dari kenyataan itu baru menyusul identitas dari pribadi-pribadi dengan kodrat ilahinya, yang satu sebagai Trinitas. Kenyataan itu juga menjadi dasar kesamaan dari ketiga pribadi Ilahi dan ciri khas masing-masing dalam operasi ad extra seperti penciptaan, konsepsi dari Yesus dalam rahim St. Perawan Maria dan theofania dalam Perjanjian lama. Ketiganya identik secara sempurna pada tatanan kodrati atau sehakekat dengan kesempurnaan absolut, ketiganya berbeda dalam tatanan relasi. Menurut Agustinus, Identitas Bapa terletak dalam status relasinya sebagai Bapa, sedangkan identitas Putera terletak dalam hal diperanakan (dilahirkan), sementara identitas Roh Kudus terletak dalam hal penganugerahan (adalah pemberian timbal balik antara Bapa dan Putera). Relasi-relasi tersebut sungguh real dan karena itu membutuhkan perbedaan real pula dalam istilah-istilah yang menyatakan hal tersebut. Bapa bukanlah Putera, dan Putera bukanlah Bapa begitu juga halnya  dengan Roh Kudus. Ketiganya tak berubah, subsisten, dan degan berada secara simultan maka ketiga pribadi Ilahi adalah kekal. Sang Putera tak mulai berada sebagai Anak pada saat tertentu, Ia telah ada sebagai Putera sejak kekal; demikian halnya dengan Bapa, Ia tak pernah mulai berada sebagai Bapa pada kesempatan tertentu, Ia ada sebagai Bapa sejak kekal. Hal yang sama juga harus dikatakan sehubungan dengan Roh Kudus. Jadi biar berbeda ‘hal ada’ sebagai Bapa dan Putera serta Roh Kudus namun antara ketiganya tidak ada perbedaan hakikat.
b.      Pengakuan-pengakuan Agustinus/ Confessiones (426),
Ia menceritakan perjalanan rohaninya dalam buku ini yang kemudian menjadi sebuah buku klasik dalam teologi Kristen maupun sastra dunia. Terdiri dari 13 kitab. Dalam bab-bab pertama, ia menggambarkan saat-saat sebelum pertobatannya sebagai masa yang membuatnya resah dan bingung akibat keterpecahan batinnya. Dalam bab-bab selanjutnya, dimuat ajaran Agustinus yang termasyhur mengenai kenangan (memoria) yang memuat berbagai refleksi atas pengalaman, kesadaran, waktu. Jadi, suatu ajaran yang komprehensif mengenai “filsafat kesadaran”.
c.       Kota Allah (426),
Agustinus menulis dalam Buku 18, Bab 46 dari Kota Allah (salah satu karyanya yang paling termasyhur selain Pengakuan-pengakuan Agustinus): "Orang-orang Yahudi yang membunuh Dia, dan yang tidak mau percaya kepada-Nya karena Ia harus mati dan bangkit kembali, namun mereka malah lebih hancur di tangan orang-orang Romawi, dan sama sekali tercabut dari kerajaan mereka; di sana orang asing telah berkuasa atas mereka dan kini mereka dicerai-beraikan ke berbagai negeri (sehingga memang tidak ada tempat di mana mereka tidak ada), dan dengan demikian digenapilah apa yang disaksikan oleh Kitab Suci mereka sendiri kepada kita bahwa kita tidak memalsukan nubuat tentang Kristus." Agustinus memandang penyebaran ini penting karena ia percaya bahwa itu adalah penggenapan dari nubuat-nubuat tertentu, dan dengan demikian membuktikan bahwa Yesus memang adalah Mesias.
3. Ajaran Tentang Manusia
            Agustinus memiliki 2 pandangan yang penting, yang pertama: “manusia harus bergantung kepada kedaulatan Allah”, yang kedua: “manusia mempunyai tugas merefleksikan Allah didalam kehidupan sehari-hari”. Jadi, ada hubungan vertikal ke atas yakni Tuhan dan hubungan haorisontal ke sesama manusia.
a.       Penciptaan
Agustinus dalam kerangka teorinya, menempatkan Allah sebagai pencipta utama dunia ini. Ia adalah abadi, karena berada di luar waktu dan yang menciptakan segala sesuatu yang di dunia ini dalam waktu, yang juga merupakan hasil ciptaan dari Allah. Secara lebih khusus, gagasan penciptaan creatio ex nihilo menggunakan istilah rationes seminales atau benihbenih pikiran sebagai benih dari sesuatu yang berkembang dalam rangkaian waktu yang tidak kelihatan, penuh potensi, dan penyebab segala sesuatu yang telah dibuat untuk menjadi, namun tidak harus dibuat. Tulisan ini mencoba untuk menguraikan kisah penciptaan dunia untuk memperoleh pemahaman yang utuh tentang dunia khususnya penciptaan dunia. Maka, penciptaan ini harus mendapatkan relevansinya dengan saat ini, agar menjadi kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Agustinus memiliki ajaran tentang kosmoslogi. Kurang lebih, ajarannya menggunakan ajaran dari filsafat Plato. Perbedaannya adalah ajaran Plato berhenti pada ide-ide yang ada di Topos Uranos, sedangkan ajaran Agustinus berpusat pada relasi dengan Tuhan. Dalam hal ini, ia membuktikan keberadaan Tuhan dalam filsafatnya, dengan menggabungkan atau mengawinkan antara ajaran Plato dengan ajaran iman Kristiani.
b.      Jiwa dan Tubuh
Agustinus pasti dipengaruhi oleh Platonisme. Ia tidak menerima dualisme ekstrem Plato tentang manusia (jiwa terkurung dalam tubuh). Tetapi tubuh (materi) tidak merupakan sumber kejahatan. Satu–satunya kejahatan adalah dosa yang berasal dari kehendak bebas, lagi hukuman untuk dosa. Menurutnya Jiwa/roh itu Immaterial. Jiwa itu di dalam badan, ada di mana-mana dalam badan pada waktu yang sama. Jiwa itu tidak mempunyai bagian karena ia immaterial. akan tetapi jiwa mempunyai 3 kegiatan pokok: mengingat, mengerti, dan mau. Jiwa adalah tunggal atau individual, karena jiwa ada pada badan, tetapi badan bisa binasa sedangkan jiwa tidak. Menurut Agustinus Jiwa itu diciptakan memancar (emanasi), penempatan dalam badan bukan hasil akibat kejatuhan, melainkan memang kewajaran dalam badan jasmani. Jiwa tak ada tanpa Badan. Pola pikirnya (reason) dan jiwa (soul) itu bersatu, pikir itu abadi, tentu jiwa abadi karena keduanya abadi. Jadi pikir itu abadi, kebenaran abadi, jiwa abadi. 

Daftar Pustaka
1.      Agustinus dari Hippo ;
http://id.wikipedia.org/wiki/Agustinus_dari_Hippo [date last acces : 29 maret 2013]
2.      Tokoh Filsafat abad pertengahan Augustinus ;
3.      Kajian kosmologi menurut Augustinus dalam confessiones ;

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

followers