1. Riwayat Hidup
Singkat
Agustinus
merupakan anak tertua dari Santa Monika. Ia
dilahirkan pada 354 di Tagaste, sebuah kota di algeria Afrika
utara yang merupakan wilayah Romawi saat itu. Ia dibesarkan dan dididik
di Karthago, dan dibaptiskan di Italia. Ibunya,
Monika, adalah seorang Katolik yang saleh,
sementara ayahnya, Patricius seorang kafir, namun Agustinus mengikuti
agama Manikean yang
kontroversial, sehingga ibunya sangat cemas dan takut. Pada masa mudanya,
Agustinus hidup dengan gaya hedonistik untuk sementara waktu. Di Karthago ia
menjalin hubungan dengan seorang perempuan muda yang selama lebih dari sepuluh
tahun dijadikannya sebagai istri gelapnya, yang
kemudian melahirkan seorang anak laki-laki baginya. Pendidikan dan karier
awalnya ditempuhnya dalam filsafat dan retorika, seni
persuasi dan bicara di depan publik. Pada usia 30 tahun, Agustinus mendapatkan
kedudukan akademik yang paling menonjol di dunia Latin, pada saat ketika
kedudukan demikian memberikan akses ke jabatan-jabatan politik. Monika, ibunya,
mendesaknya agar ia menjadi seorang Katolik, namun uskup Milano, Ambrosiuslah, yang
mempunyai pengaruh yang paling mendalam terhadap hidupnya. Agustinus beralih
dari Manikeanisme, Namun bukannya menjadi Katolik seperti Ambrosius dan Monika,
ia malah mengambil pendekatan Neoplatonis kafir
terhadap kebenaran, meskipun pada akhirnya ia justru menjadi seorang skeptik. Pada
masa itulah Agustinus dari Hippo mengucapkan doanya yang terkenal,
"Berikanlah daku kemurnian dan penguasaan diri, tapi jangan dulu".
Agustinus mengalami suatu krisis pribadi yang mendalam dan memutuskan untuk
menjadi seorang Kristen. Ia meninggalkan kariernya dalam retorika, melepaskan
jabatannya sebagai seorang profesor di Milano, dan gagasannya untuk menikah,
dan mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk melayani Allah dan
praktik imamat, termasuk selibat. Ia
menceritakan perjalanan rohaninya dalam bukunya yang terkenal Pengakuan-pengakuan Agustinus yang
kemudian menjadi sebuah buku klasik dalam teologi Kristen maupun sastra dunia.
Ambrosius membaptiskan Agustinus pada hari Paskah pada 387, dan tak
lama sesudah itu pada 388 ia
kembali ke Afrika. Dalam perjalanan ke Afrika ibunya meninggal, dan tak lama
kemudian anak laki-lakinya, sehingga ia praktis sendirian di dunia tanpa
keluarga. Setelah kembali ke Afrika utara, ia membangun sebuah biara di Tagaste
untuk dirinya sendiri dan sekelompok temannya..
2. Karya-karya
Agustinus
dengan dedikasinya memberikan kepada orang-orang gambaran yang langka melalui
beberapa buku, yakni :
a. Tentang Tritunggal
(400),
Merupakan
naskah utama dari ajaran filosofis Augustinus mengenai jiwa sebagai gambaran
Allah. Dalam bukunya De Trinitate ini ia menjelaskan
‘identitas’ Allah Tritunggal dan relasi dari pribadi ilahi. Pada bagian pertama
Agustinus menggumuli hal kesempurnaan (kebersahajaan) absolut Allah dan pada
bagian kedua memberi jaminan yang mengamankan perbedaan ketiga pribadi Ilahi
melalui ajarannya mengenai relasi. Allah dalam kodrat-Nya adalah tunggal dan
sempurna secara absolut dan dari kenyataan itu baru menyusul identitas dari
pribadi-pribadi dengan kodrat ilahinya, yang satu sebagai Trinitas. Kenyataan
itu juga menjadi dasar kesamaan dari ketiga pribadi Ilahi dan ciri khas
masing-masing dalam operasi ad extra seperti penciptaan, konsepsi dari Yesus
dalam rahim St. Perawan Maria dan theofania dalam Perjanjian lama. Ketiganya
identik secara sempurna pada tatanan kodrati atau sehakekat dengan kesempurnaan
absolut, ketiganya berbeda dalam tatanan relasi. Menurut Agustinus, Identitas
Bapa terletak dalam status relasinya sebagai Bapa, sedangkan identitas Putera
terletak dalam hal diperanakan (dilahirkan), sementara identitas Roh Kudus
terletak dalam hal penganugerahan (adalah pemberian timbal balik antara Bapa
dan Putera). Relasi-relasi tersebut sungguh real dan karena itu membutuhkan
perbedaan real pula dalam istilah-istilah yang menyatakan hal tersebut. Bapa
bukanlah Putera, dan Putera bukanlah Bapa begitu juga halnya dengan Roh Kudus. Ketiganya tak berubah,
subsisten, dan degan berada secara simultan maka ketiga pribadi Ilahi adalah
kekal. Sang Putera tak mulai berada sebagai Anak pada saat tertentu, Ia telah
ada sebagai Putera sejak kekal; demikian halnya dengan Bapa, Ia tak pernah
mulai berada sebagai Bapa pada kesempatan tertentu, Ia ada sebagai Bapa sejak
kekal. Hal yang sama juga harus dikatakan sehubungan dengan Roh Kudus. Jadi
biar berbeda ‘hal ada’ sebagai Bapa dan Putera serta Roh Kudus namun antara
ketiganya tidak ada perbedaan hakikat.
b. Pengakuan-pengakuan
Agustinus/ Confessiones
(426),
Ia menceritakan perjalanan rohaninya dalam buku ini yang kemudian menjadi sebuah buku klasik dalam teologi Kristen maupun sastra dunia. Terdiri dari 13 kitab. Dalam bab-bab pertama, ia menggambarkan saat-saat sebelum pertobatannya sebagai masa yang membuatnya resah dan bingung akibat keterpecahan batinnya. Dalam bab-bab selanjutnya, dimuat ajaran Agustinus yang termasyhur mengenai kenangan (memoria) yang memuat berbagai refleksi atas pengalaman, kesadaran, waktu. Jadi, suatu ajaran yang komprehensif mengenai “filsafat kesadaran”.
c. Kota
Allah (426),
Agustinus menulis dalam
Buku 18, Bab 46 dari Kota Allah (salah satu karyanya yang paling termasyhur
selain Pengakuan-pengakuan Agustinus): "Orang-orang Yahudi yang membunuh
Dia, dan yang tidak mau percaya kepada-Nya karena Ia harus mati dan bangkit kembali,
namun mereka malah lebih hancur di tangan orang-orang Romawi, dan sama sekali tercabut
dari kerajaan mereka; di sana orang asing telah berkuasa atas mereka dan kini mereka
dicerai-beraikan ke berbagai negeri (sehingga memang tidak ada tempat di mana mereka
tidak ada), dan dengan demikian digenapilah apa yang disaksikan oleh Kitab Suci
mereka sendiri kepada kita bahwa kita tidak memalsukan nubuat tentang
Kristus." Agustinus memandang penyebaran ini penting karena ia percaya
bahwa itu adalah penggenapan
dari nubuat-nubuat tertentu, dan dengan demikian membuktikan bahwa Yesus memang adalah Mesias.
3. Ajaran Tentang
Manusia
Agustinus memiliki 2
pandangan yang penting, yang pertama: “manusia harus bergantung kepada
kedaulatan Allah”, yang kedua: “manusia mempunyai tugas merefleksikan Allah
didalam kehidupan sehari-hari”. Jadi, ada hubungan vertikal ke atas yakni Tuhan
dan hubungan haorisontal ke sesama manusia.
a.
Penciptaan
Agustinus
dalam kerangka teorinya, menempatkan Allah sebagai pencipta utama dunia ini. Ia
adalah abadi, karena berada di luar waktu dan yang menciptakan segala sesuatu
yang di dunia ini dalam waktu, yang juga merupakan hasil ciptaan dari Allah.
Secara lebih khusus, gagasan penciptaan creatio ex nihilo menggunakan istilah
rationes seminales atau benihbenih pikiran sebagai benih dari sesuatu yang
berkembang dalam rangkaian waktu yang tidak kelihatan, penuh potensi, dan
penyebab segala sesuatu yang telah dibuat untuk menjadi, namun tidak harus dibuat.
Tulisan ini mencoba untuk menguraikan kisah penciptaan dunia untuk memperoleh
pemahaman yang utuh tentang dunia khususnya penciptaan dunia. Maka, penciptaan
ini harus mendapatkan relevansinya dengan saat ini, agar menjadi kontekstual
dalam kehidupan sehari-hari. Agustinus memiliki ajaran tentang kosmoslogi.
Kurang lebih, ajarannya menggunakan ajaran dari filsafat Plato. Perbedaannya
adalah ajaran Plato berhenti pada ide-ide yang ada di Topos Uranos, sedangkan
ajaran Agustinus berpusat pada relasi dengan Tuhan. Dalam hal ini, ia membuktikan
keberadaan Tuhan dalam filsafatnya, dengan menggabungkan atau mengawinkan
antara ajaran Plato dengan ajaran iman Kristiani.
b.
Jiwa dan Tubuh
Agustinus pasti dipengaruhi oleh Platonisme. Ia tidak menerima dualisme ekstrem Plato tentang manusia (jiwa terkurung dalam tubuh). Tetapi tubuh (materi) tidak merupakan sumber kejahatan. Satu–satunya kejahatan adalah dosa yang berasal dari kehendak bebas, lagi hukuman untuk dosa. Menurutnya Jiwa/roh itu Immaterial. Jiwa itu di dalam badan, ada di mana-mana dalam badan pada waktu yang sama. Jiwa itu tidak mempunyai bagian karena ia immaterial. akan tetapi jiwa mempunyai 3 kegiatan pokok: mengingat, mengerti, dan mau. Jiwa adalah tunggal atau individual, karena jiwa ada pada badan, tetapi badan bisa binasa sedangkan jiwa tidak. Menurut Agustinus Jiwa itu diciptakan memancar (emanasi), penempatan dalam badan bukan hasil akibat kejatuhan, melainkan memang kewajaran dalam badan jasmani. Jiwa tak ada tanpa Badan. Pola pikirnya (reason) dan jiwa (soul) itu bersatu, pikir itu abadi, tentu jiwa abadi karena keduanya abadi. Jadi pikir itu abadi, kebenaran abadi, jiwa abadi.
Daftar Pustaka
1.
Agustinus
dari Hippo ;
http://id.wikipedia.org/wiki/Agustinus_dari_Hippo
[date last acces : 29 maret 2013]
2. Tokoh
Filsafat abad pertengahan Augustinus ;
http://afidburhanuddin.files.wordpress.com/2012/11/augustinus_ed.pdf [date last acces : 04 april 2013]
3. Kajian
kosmologi menurut Augustinus dalam confessiones ;
http://www.wima.ac.id/uploads/fakultas_filsafat/jurnal-mahasiswa.pdf [date last acces : 04 april 2013]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar