LATAR
BELAKANG MASALAH
Sebagian
orang tua masih rajin menerapkan hukuman fisik bila anaknya melakukan
kesalahan, orang tua berdalih, dengan memberikan hukuman fisik seperti menampar
memukul adalah sesuatu yang wajar agar si anak menjadi penurut, tidak bandel
dan tentunya ingin anak kelak menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Dibenarkankah
mendidik anak dengan kekerasan fisik?. Penggunaan hukuman dalam pengendalian
perilaku manusia bukan hanya masalah memutuskan apakah itu berguna atau tidak,
disamping itu pertanyaan psikologis yang terlibat dalam menghukum orang-orang
untuk perilaku yang tidak diinginkan adalah masalah moral dan tidak diizinkan.
Hukuman fisik di definisikan dalam istilah pendidikan sebagai menimbulkan rasa
sakit oleh seorang guru atau pejabat sekolah pada tubuh siswa sebagai hukuman untuk
melaakukan sesuatu yang tidak disukai oleh pemberi hukuman tersebut. Ini
termasuk kurungan diruang yang tidak nyaman, dipaksa makan dari makanan yang
tidak disukai dan berdiri untuk waktu yang lama.
Secara umum diamsusikan
bahwa hukuman fisik disekolah jarang diberikan, dengan ringan tangan, terutama
yang merupakan ancaman fisik kepada guru. Semua asumsi yang salah. Ada lebih
dari 46000 kasus hukuman fisik di sekolah-sekolah California selama tahun 1974.
Hanya 5% dari mereka berada disekolah menengah. Sasaran utama dari hukuman
fisik adalah anak laki-laki dari segala usia dan anak-anak di kelas 1 sampai 4.
Hukuman yang diberikan sering berutal, termasuk pemukulan dan bahkan menedang.
4 alasan yang paling umum diberikan untuk menggunakan hukuman fisik adalah:
a.
Mencoba dan metode yang efektif untuk
merubah perilaku yang tidak diinginkan
b.
Mengembangkan rasa tanggung jawab yang
pibadi
c.
Agar siswa belajar disiplin
d.
Untuk membantu mengembangkan karakter
moral
Da alasan untuk
meragukan efektifitas hukuman dalam mencapai tujuan tersebut. Perilaku target
ditekan hanya ketika hukuman itu berat dan berulang, dan kemudian dihukum hanya
dihadapan guru. Selain itu, efeksamping dari control ini afersif mencakup
pengembangan sikap negative terhadap sekolah umum atau belajar, menghindari
guru, pembolosan, ketaan terhadap otoritas, vandalisme, dan mungkin belajar
untuk menggunakan kekerasan terhadap lebih muda atau siswa yang lemah.
Sekitar ¾ dari orang
dewasa dalam satu survey yang mendukung hukuman fisik hanya 17% menentang dan
8% yakin. Dewasa adalah orang tua, guru, administrator, kepala sekolah dan
dewan kepala sekolah. Satu-satunya kelompok yang jelas menentang terhadap siswa
50%, denga 25% mendukung dan 25% lainnya yakin.
DINAMIKA
Terkadang orang tua
menghukum anak untuk menghentikan perilaku yang tidak diinginkan , akan tetapi
anak-anak biasanya akan lebih banyak belajar melalui penguatan kepada perilaku
yang baik. Hukuman fisik didefinisikan sebagai penggunaan kekuatan fisik
dengan tujuan menyebabkan anak mengalami rasa sakit, bukan luka, untuk tujuan
koreksi, atau control perilaku anak. Hukuman tersebut dapat mencakup memukul
pantat, meninju, mencubit, menampar, mengguncang (yang dapan menjadi fatal bagi
bayi), dan tindakan fisik lain. Hukuman fisik merupakan bagian yang mendarah
daging dalam sosialisasi banyak anak. Banyak orang percaya bahwa hukuman
tersebut lebih efektif dibandingkan koreksi lain dan tidak begitu menyakitkan
jika dilakukan oleh orang tua yang disayangi. Akan tetapi, bukti yang terus
meningkat menyatakan bahwa keyakinan ini tidak benar bahkan hukuman fisik dapat
menghasilkan konsekuensi negative yang serius, dan karena itu seharusnya tidak
digunakan.
Rata-rata orang tua
yang suka melakukan hukuman fisik terhadap anaknya di karenakan hubungan
keluarga yang kurang harmonis, orang tua yang terlalu monoton terhadap
pekerjaannya sehingga jika mereka sedang mengalami hal-hal yang tidak
menyenangkan maka anak akan menjadi pelampiasan kekesalan mereka.
Para tokoh menyatakan
bahwa gaya pengasuhan memiliki pengaruh terhadap kompetensi anak berhadapan
dengan dunia mereka. Dan berikut adalah gaya pengasuhan orang tua terhadap
anak,
Gaya pengasuhan orang
tua :
1.
Orang Tua Otoritarian
Memandang
penting control dan kepatuhan tanpa syarat. Mereka mencoba membuat anak menyesuaikan
diri dengan serangkaian standar perilakudan menghukum mereka secara membabi
buta dan dengan keras atas pelanggaran yang dilakukannya. Mereka menjadi lebih
terlepas dan kurang hangat dibandingkan orang tua lain. Anak mereka cenderung
menjadi lebih tidak puas, menarik diri, dan tidak percaya kepada orang lain.
2.
Orang Tua Permisif
Menghargai
ekspresi diri dan regulasi diri. Mereka mun gkin membuat beberapa permintaan
dan mengizinkan anak untuk memonitor aktifitas mereka sendiri sebanyak mungkin.
Jika harus membuat peraturan, maka mereka akan menjelaskan alasanya kepada
anak-anak mereka. Mereka berkonsultasi dengan
anak-anaknya tentang keputusan kebijakan dan jarang menghukum. Mereka
hangat, tidak mengontrol, dan tidak menuntut. Anak pra sekolah mereka cenderung
menjadi tidak dewasa, sangat kurang control diri dan kurang eksplorasi.
3.
Orang Tua Otoritatif
Menghargai
individualitas anak akan tetapi juga menekankan batasan social. Mereka memiliki
keyakinan diri akan kemampuan mereka membimbing anaknya, tetapi mereka juga
menghormati indenpendensi keputusan, ketertarikan, pendapat, dan kepribadian
anak. Mereka mencintai dan menerima, tetapi juga menuntut perilaku yang baik,
dan kokoh dalam mempertahankan standar, dan memiliki keinginan untuk
menjatuhkan keinginan yang bijaksana dan terbatas ketika memang hal tersebut
dibutuhkan, dalam konteks hubungan yang hangat dan sportif.
Menurut penelitian semakin tinggi presentase orang
tua memberi hukuman fisik kepada anaknya, maka semakin rendah IQ anak. Bahkan
semakin sering orang tua memukul anak akan membuat perkembangan mental anak akan menjadi lambat.
Anak yang sering mendapat perlakuan kasar maupun keras dari orang tuanya akan
membuat anak minder, tidak mau bergaul dengan teman sebayanya dan maunya
mengurung diri atau bermain sendiri di kamar. Berdisiplin merupakan kesempatan
baik untuk mengajarkan sesuatu kepada anak, tetapi bila orang tua menerapkan
nya dengan cara memukul, maka secara
tidak langsung dia mengajarkan kepada anaknya bahwa dengan mengguanakan cara
kekerasan dapat menyelesaikan suatu masalah.
Cara menangani perilaku anak yang sering mengalami
tindakan kekerasan yaitu dengan cara melakukan komunikasi yang baik, memberikan
motivasi agar si anak tidak minder dan member penjelasan kepada si anak bahwa
kekerasan itu bukanlah sesuatu hal yang dapat menyelesaikan masalah.
10 alasan untuk tidak
melakukan hukuman fisik :
1.
Menunjukkan pesan, yang lebih kuat
adalah yang benar
Bila
orang tua menggunakan hukuman fisik untuk menunjukkan kepada si anak akan kesalahannya
maka pesan yang dikirim adalah: “siapa yang lebih kuat dan lebih besar bias
memutuskan apa yang benar dan apa yang salah”.
Perlu
dipikirkan, apakah orang tua ingin mengajarkan kepada anak bahwa untuk
mengutarakan pendapatnya pendapatnya atau untuk menunjukkan ia benar adalah
dengan berbuat kasar/bertubuh besar?
2.
Mengajarkan orang dewasa boleh menyakiti
fisik orang yang lebih muda
Memberi
hukuman fisik kepada anak mengajarkan, orang yang lebih tua dan lebih besar,
memiliki hak untuk menyakiti fisik orang yang lebih muda dan bertubuh kecil.
Pesan ini amat membingungkan si anak bila ia juga diaajar untuk tidak memukul
orang lain. Apa jadinya bila si anak kelak tumbuh menjadi orang yang bertubuh
lebih besar dari orang tuanya?
3.
Mencontohkan bahwa kekerasan akan
menyelesaikan segala masalah
Memberi
hukuman fisik juga menunjukkan kepada anak bahwa kekerasan adalah cara yang
tepat dan diperbolehkan untuk menyelesaikan masalah dalam hidup. Hukuman fisik
dari orang tua kepada anak akan diartikan sebagai bentuk bullying, mengirim
pesan kepada anak bahwa ini adalah cara efektif untuk membuat orang lain
melakukan apa yang kita inginkan.
4.
Merusak kepercayaan diri anak bila si
kecil dipukul oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya, maka aka nada
pertanyaan yang berkelebat dibenak anak, seperti,”apa ada yang salah dengan
saya?”. Harga diri adalah hal yang sungguh penting dalam diri seseorang,
sayangnya, sayangnya hal ini pula punya bentukan yang sangat ringkih. Bila anda
ingin anak sukses dalam hidup, level dari harga diri adalah salah satu factor
terpenting yang ia perlukan.
5.
Menciptakan gejala masalah mental
Menurut
sebuah study, hukuman fisik dari orang tua kepada anak akan menciptakan masalah
mental anak dimasa depan.
6.
Merusak kepercayaan dan hubungan orang
tua-anak
Bila
sesorang dipukul, apakah ada yang berterimakasih dan bersyukur kepada orang
yang memukul? Kemungkinan terbesar, benak akan berkata”saya benci kamu” atau
komenar-komentar lain yang bersifat benci. Anak-anak berharap orang tuanya akan
melindungi dan mencintainya dengan kasih, bukan dengan pukulan. Pukulan atau
hukuman fisik lainnya membuat si anak berfikir mengenai konsep tersebut.
7.
Tak bisa belajar optimal
Penelitian
membuktikan, tubuh tidak bisa belajar dan berfikir bila selalu dalam keadaan
takut. Rasa takut menciptakan insting bertahan atau melawan serta mengucurkan
hormone adrenalin dan kortisol dalam darah. Bila ini terjadi maka otak tak akan
mampu berfikir maupun belajar.
8.
Mengurangi efek orang tua pada anak
Hubungan
baik dan harmonis memudahkan seseorang untuk menciptakan efek dalam member
masukan, arahan dan sebagainya.
9.
Membuat anak mencari cara untuk lari
dari orang tuanya
Kebanyakan
orang akan melakukan apa yang mereka inginkan kecuali resiko hukumannya cukup
tinggi. Hukuman fisik dari orang tua yang berulang akan membuat si anak mencoba
mencari cara berbohong atau lari dari orang tuanya bila ia melakukan kesalahan.
Bila terus terjadi, ia akan selalu merasa takut dan selalu mencari cara untuk
lari dari orang tuanya.
10.
Ada banyak cara untuk mengajar anak
tentang disiplin ketimbang hukuman fisik
Hukuman
fisik bukan cara satu-satunya untuk orang tua mengajarkan disiplin atau
membebarkan kesalahan yang telah dilakukan anak ada banyak cara komunikasi yang
lebih efektif untuk member ajaran kepada anak. Hanya karena orang tua dari
orang tua menggunakan hukuman fisik dijaman dahulu. Bukan berarti hal itu boleh
menjadi alasan untuk melakukan hal itu kepada anaknya.
Jadi, kalau orang tua taunya hanya memukul, maka itu
sama saja dia tidak mengajarkan apa-apa tentang kebaikan. Oleh karena itu
sekarang bila hendak mengajarkan anak, jadikanlah dia sebagai teman kita.
Jauhkan segala sesuatu yang bersifat kekerasan. Dengan penuh kasih sayang dalam
mengajar anak-anak, maka kita telah menciptakan budaya senyum tanpa kekerasan.
Sehingga jangan sampai perilaku kekerasan menjadi budaya dalam lingkungan
keluarga maupun masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar