Selasa, 25 Juni 2013

Hukuman fisik pada anak

LATAR BELAKANG MASALAH

Sebagian orang tua masih rajin menerapkan hukuman fisik bila anaknya melakukan kesalahan, orang tua berdalih, dengan memberikan hukuman fisik seperti menampar memukul adalah sesuatu yang wajar agar si anak menjadi penurut, tidak bandel dan tentunya ingin anak kelak menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Dibenarkankah mendidik anak dengan kekerasan fisik?. Penggunaan hukuman dalam pengendalian perilaku manusia bukan hanya masalah memutuskan apakah itu berguna atau tidak, disamping itu pertanyaan psikologis yang terlibat dalam menghukum orang-orang untuk perilaku yang tidak diinginkan adalah masalah moral dan tidak diizinkan. Hukuman fisik di definisikan dalam istilah pendidikan sebagai menimbulkan rasa sakit oleh seorang guru atau pejabat sekolah pada tubuh siswa sebagai hukuman untuk melaakukan sesuatu yang tidak disukai oleh pemberi hukuman tersebut. Ini termasuk kurungan diruang yang tidak nyaman, dipaksa makan dari makanan yang tidak disukai dan berdiri untuk waktu yang lama.
Secara umum diamsusikan bahwa hukuman fisik disekolah jarang diberikan, dengan ringan tangan, terutama yang merupakan ancaman fisik kepada guru. Semua asumsi yang salah. Ada lebih dari 46000 kasus hukuman fisik di sekolah-sekolah California selama tahun 1974. Hanya 5% dari mereka berada disekolah menengah. Sasaran utama dari hukuman fisik adalah anak laki-laki dari segala usia dan anak-anak di kelas 1 sampai 4. Hukuman yang diberikan sering berutal, termasuk pemukulan dan bahkan menedang. 4 alasan yang paling umum diberikan untuk menggunakan hukuman fisik adalah:
a.       Mencoba dan metode yang efektif untuk merubah perilaku yang tidak diinginkan
b.      Mengembangkan rasa tanggung jawab yang pibadi
c.       Agar siswa belajar disiplin
d.      Untuk membantu mengembangkan karakter moral
Da alasan untuk meragukan efektifitas hukuman dalam mencapai tujuan tersebut. Perilaku target ditekan hanya ketika hukuman itu berat dan berulang, dan kemudian dihukum hanya dihadapan guru. Selain itu, efeksamping dari control ini afersif mencakup pengembangan sikap negative terhadap sekolah umum atau belajar, menghindari guru, pembolosan, ketaan terhadap otoritas, vandalisme, dan mungkin belajar untuk menggunakan kekerasan terhadap lebih muda atau siswa yang lemah.
Sekitar ¾ dari orang dewasa dalam satu survey yang mendukung hukuman fisik hanya 17% menentang dan 8% yakin. Dewasa adalah orang tua, guru, administrator, kepala sekolah dan dewan kepala sekolah. Satu-satunya kelompok yang jelas menentang terhadap siswa 50%, denga 25% mendukung dan 25% lainnya yakin.

DINAMIKA

Terkadang orang tua menghukum anak untuk menghentikan perilaku yang tidak diinginkan , akan tetapi anak-anak biasanya akan lebih banyak belajar melalui penguatan kepada perilaku yang baik.  Hukuman fisik didefinisikan sebagai penggunaan kekuatan fisik dengan tujuan menyebabkan anak mengalami rasa sakit, bukan luka, untuk tujuan koreksi, atau control perilaku anak. Hukuman tersebut dapat mencakup memukul pantat, meninju, mencubit, menampar, mengguncang (yang dapan menjadi fatal bagi bayi), dan tindakan fisik lain. Hukuman fisik merupakan bagian yang mendarah daging dalam sosialisasi banyak anak. Banyak orang percaya bahwa hukuman tersebut lebih efektif dibandingkan koreksi lain dan tidak begitu menyakitkan jika dilakukan oleh orang tua yang disayangi. Akan tetapi, bukti yang terus meningkat menyatakan bahwa keyakinan ini tidak benar bahkan hukuman fisik dapat menghasilkan konsekuensi negative yang serius, dan karena itu seharusnya tidak digunakan.
Rata-rata orang tua yang suka melakukan hukuman fisik terhadap anaknya di karenakan hubungan keluarga yang kurang harmonis, orang tua yang terlalu monoton terhadap pekerjaannya sehingga jika mereka sedang mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan maka anak akan menjadi pelampiasan kekesalan mereka.
Para tokoh menyatakan bahwa gaya pengasuhan memiliki pengaruh terhadap kompetensi anak berhadapan dengan dunia mereka. Dan berikut adalah gaya pengasuhan orang tua terhadap anak,
Gaya pengasuhan orang tua :
1.      Orang Tua Otoritarian
Memandang penting control dan kepatuhan tanpa syarat. Mereka mencoba membuat anak menyesuaikan diri dengan serangkaian standar perilakudan menghukum mereka secara membabi buta dan dengan keras atas pelanggaran yang dilakukannya. Mereka menjadi lebih terlepas dan kurang hangat dibandingkan orang tua lain. Anak mereka cenderung menjadi lebih tidak puas, menarik diri, dan tidak percaya kepada orang lain.
2.      Orang Tua Permisif
Menghargai ekspresi diri dan regulasi diri. Mereka mun gkin membuat beberapa permintaan dan mengizinkan anak untuk memonitor aktifitas mereka sendiri sebanyak mungkin. Jika harus membuat peraturan, maka mereka akan menjelaskan alasanya kepada anak-anak mereka. Mereka berkonsultasi dengan  anak-anaknya tentang keputusan kebijakan dan jarang menghukum. Mereka hangat, tidak mengontrol, dan tidak menuntut. Anak pra sekolah mereka cenderung menjadi tidak dewasa, sangat kurang control diri dan kurang eksplorasi.
3.      Orang Tua Otoritatif
Menghargai individualitas anak akan tetapi juga menekankan batasan social. Mereka memiliki keyakinan diri akan kemampuan mereka membimbing anaknya, tetapi mereka juga menghormati indenpendensi keputusan, ketertarikan, pendapat, dan kepribadian anak. Mereka mencintai dan menerima, tetapi juga menuntut perilaku yang baik, dan kokoh dalam mempertahankan standar, dan memiliki keinginan untuk menjatuhkan keinginan yang bijaksana dan terbatas ketika memang hal tersebut dibutuhkan, dalam konteks hubungan yang hangat dan sportif.
Menurut penelitian semakin tinggi presentase orang tua memberi hukuman fisik kepada anaknya, maka semakin rendah IQ anak. Bahkan semakin sering orang tua memukul anak akan membuat  perkembangan mental anak akan menjadi lambat. Anak yang sering mendapat perlakuan kasar maupun keras dari orang tuanya akan membuat anak minder, tidak mau bergaul dengan teman sebayanya dan maunya mengurung diri atau bermain sendiri di kamar. Berdisiplin merupakan kesempatan baik untuk mengajarkan sesuatu kepada anak, tetapi bila orang tua menerapkan nya dengan cara  memukul, maka secara tidak langsung dia mengajarkan kepada anaknya bahwa dengan mengguanakan cara kekerasan dapat menyelesaikan suatu masalah.
Cara menangani perilaku anak yang sering mengalami tindakan kekerasan yaitu dengan cara melakukan komunikasi yang baik, memberikan motivasi agar si anak tidak minder dan member penjelasan kepada si anak bahwa kekerasan itu bukanlah sesuatu hal yang dapat menyelesaikan masalah.
10 alasan untuk tidak melakukan hukuman fisik :
1.      Menunjukkan pesan, yang lebih kuat adalah yang benar

Bila orang tua menggunakan hukuman fisik untuk menunjukkan kepada si anak akan kesalahannya maka pesan yang dikirim adalah: “siapa yang lebih kuat dan lebih besar bias memutuskan apa yang benar dan apa yang salah”.
Perlu dipikirkan, apakah orang tua ingin mengajarkan kepada anak bahwa untuk mengutarakan pendapatnya pendapatnya atau untuk menunjukkan ia benar adalah dengan berbuat kasar/bertubuh besar?

2.      Mengajarkan orang dewasa boleh menyakiti fisik orang yang lebih muda

Memberi hukuman fisik kepada anak mengajarkan, orang yang lebih tua dan lebih besar, memiliki hak untuk menyakiti fisik orang yang lebih muda dan bertubuh kecil. Pesan ini amat membingungkan si anak bila ia juga diaajar untuk tidak memukul orang lain. Apa jadinya bila si anak kelak tumbuh menjadi orang yang bertubuh lebih besar dari orang tuanya?

3.      Mencontohkan bahwa kekerasan akan menyelesaikan segala masalah

Memberi hukuman fisik juga menunjukkan kepada anak bahwa kekerasan adalah cara yang tepat dan diperbolehkan untuk menyelesaikan masalah dalam hidup. Hukuman fisik dari orang tua kepada anak akan diartikan sebagai bentuk bullying, mengirim pesan kepada anak bahwa ini adalah cara efektif untuk membuat orang lain melakukan apa yang kita inginkan.

4.      Merusak kepercayaan diri anak bila si kecil dipukul oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya, maka aka nada pertanyaan yang berkelebat dibenak anak, seperti,”apa ada yang salah dengan saya?”. Harga diri adalah hal yang sungguh penting dalam diri seseorang, sayangnya, sayangnya hal ini pula punya bentukan yang sangat ringkih. Bila anda ingin anak sukses dalam hidup, level dari harga diri adalah salah satu factor terpenting yang ia perlukan.

5.      Menciptakan gejala masalah mental

Menurut sebuah study, hukuman fisik dari orang tua kepada anak akan menciptakan masalah mental anak dimasa depan.

6.      Merusak kepercayaan dan hubungan orang tua-anak

Bila sesorang dipukul, apakah ada yang berterimakasih dan bersyukur kepada orang yang memukul? Kemungkinan terbesar, benak akan berkata”saya benci kamu” atau komenar-komentar lain yang bersifat benci. Anak-anak berharap orang tuanya akan melindungi dan mencintainya dengan kasih, bukan dengan pukulan. Pukulan atau hukuman fisik lainnya membuat si anak berfikir mengenai konsep tersebut.

7.      Tak bisa belajar optimal

Penelitian membuktikan, tubuh tidak bisa belajar dan berfikir bila selalu dalam keadaan takut. Rasa takut menciptakan insting bertahan atau melawan serta mengucurkan hormone adrenalin dan kortisol dalam darah. Bila ini terjadi maka otak tak akan mampu berfikir maupun belajar.

8.      Mengurangi efek orang tua pada anak

Hubungan baik dan harmonis memudahkan seseorang untuk menciptakan efek dalam member masukan, arahan dan sebagainya.

9.      Membuat anak mencari cara untuk lari dari orang tuanya

Kebanyakan orang akan melakukan apa yang mereka inginkan kecuali resiko hukumannya cukup tinggi. Hukuman fisik dari orang tua yang berulang akan membuat si anak mencoba mencari cara berbohong atau lari dari orang tuanya bila ia melakukan kesalahan. Bila terus terjadi, ia akan selalu merasa takut dan selalu mencari cara untuk lari dari orang tuanya.

10.  Ada banyak cara untuk mengajar anak tentang disiplin ketimbang hukuman fisik

Hukuman fisik bukan cara satu-satunya untuk orang tua mengajarkan disiplin atau membebarkan kesalahan yang telah dilakukan anak ada banyak cara komunikasi yang lebih efektif untuk member ajaran kepada anak. Hanya karena orang tua dari orang tua menggunakan hukuman fisik dijaman dahulu. Bukan berarti hal itu boleh menjadi alasan untuk melakukan hal itu kepada anaknya.


Jadi, kalau orang tua taunya hanya memukul, maka itu sama saja dia tidak mengajarkan apa-apa tentang kebaikan. Oleh karena itu sekarang bila hendak mengajarkan anak, jadikanlah dia sebagai teman kita. Jauhkan segala sesuatu yang bersifat kekerasan. Dengan penuh kasih sayang dalam mengajar anak-anak, maka kita telah menciptakan budaya senyum tanpa kekerasan. Sehingga jangan sampai perilaku kekerasan menjadi budaya dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

followers