Hi Guys and Gurls,
Mungkin salam dan sapa yang pertama akan gua lakukan disini, karena udah lama banget ga ngeblog lagi, terakhir mungkin waktu kuliah dulu, mungkin sudah 3 tahunan lebih yang lalu.
kali ini gua akan sharing sedikit mengenai pengalaman dan pemikiran gue dalam "JOURNEY" pencarian cinta.
gua membuat tulisan ini bukan untuk pamer dan caper, postingan ini hanya bertujuan untuk sharing pemikiran, barang kali bisa membantu mereka yang sedang putus asa.
Banyak yang bertanya ke gue pertanyaan seperti ini, "kenapa masih sendiri?"
kadang gua juga bingung mau jawab apa yaaaa, kadang kesel kadang juga biasa aja.
mugkin biar gak bingung, terakhir kali gua pacaran adalah waktu gue kuliah. gua pacaran 3 tahun lebih, nyaris 4 tahun mungkin.
pengalaman itu ga terlalu baik menurut gua dan gua seneng bisa lepas dari dia sekarang kalau harus mengingat kembali ke belakang.
setelah lulus kuliah, gue mulai masuk ke dunia kerja dan sampai pada saat ini adalah kantor kedua gua. so, kalau dihitung-hitung gua udah 2 tahunan lebih di dunia kerja.
pengalaman demi pengalaman gua dapat, berbagai macam type orang gua temui.
termasuk laki-laki ... hehehe...
gua memang belum mencoba menjalani hubungan yang benar-benar statusnya pacaran, gua lebih banyak menjalani hubungan yang gak jelas alias tanpa status. tapi gua cukup menikmati dan happy, karena gua ga terikat apa-apa dengan siapa pun.
rasanya pun sama seperti pacaran kok, ada yang perhatiin, ada yang ngajak jalan, ada nelp dan ngechat.
kenapa begitu?
karena belum ada yang gua rasa benar-benar cocok dengan gua, entah apa gua terlalu idealis?
gua jalan dan mencoba jalan dengan semua laki-laki yang mencoba deket dengan gua dan gua belajar untuk mengikuti alurnya atau ritmenya. tapi sayang belum ada irama yang sesuai dengan gua.
orang-orang disekitar gua selalu gencar nyomblangin gua ke kenalan-kenalan mereka dan gua selalu nanya "kerjanya apa?" ... HAHAHAAAA... and than, hal itu menjadikan orang berfikir gua agak materialistis dan mau cari enaknya aja.
padahal bukan begitu intinya,
gua selalu welcome dengan laki-laki yang ngedeketin gua, cuma lebih sering akhirnya gua block dan gua cuekin setelah itu, sehingga udah keburu gua putuskan hubungannya.
karena apa?
gua gak suka nyakitin orang lain, gua takut terlalu memberikan harapan. akhirnya kebanyakan lebih baik gua akhiri kalau memang menurut gua ga cocok dengan gua.
Laki-laki mapan atau laki-laki biasa-biasa aja ?
Gua bukan Perempuan mata duitan yang maunya naik mobil dan dapet laki-laki yang mapan. kalau cuma itu kriteria gua mungkin gua udah pacaran lagi dari dulu.
BUKTINYA ADALAH satu waktu yang sangat berharga untuk gua, gua bisa kenal seorang laki-laki yang keren banget secara personality dan gaya hidupnya.
dan gua suka banget, sampai sekarang gua masih kagum sama dia.
dia cuma laki-laki yang enggak kuliah, tapi dia pekerja keras dan punya kerjaan juga tentunya, dia cuma bawa motor matic, dengan penampilan tattoan, sederhana dia ketemu gua dengan pakai celana pendek dan kaos sama seperti gua.
gua juga cukup sering telponan sama dia dan entah kenapa kita bisa ketawa lepas ampe geli banget dengan bahasan-bahasan yang ga jelas.
dia orang yang sangat memotivasi dengan kesederhanaannya,
ditengah-tengah pembicaraan kita, dia keluarin kalimat yang gua gak pernah lupa sampai sekarang, dan itu kalimat termanis yang pernah gua dengar, saat itu dia bilang....
"Delima, kamu suka banget ketawa yaa, harusnya nama kamu bukan delima tapi Joy"
habis itu dia timpal langsung lagi.... "kok jadi bagusan nama pemberian aku dari pada nama kamu" pangkasnya sambil tertawa.
beberapa lama gua kenal dia, gua merasa happy banget dan pertama kalinya gua bilang lagi "gua mau dia Tuhan"
tapi entah kenapa makin lama apinya padam,
gua juga bukan type perempuan yang mau mengejar,
gua kehilangan,
tapi sampai sekarang gua masih tetap kagum sama dia, liat aktifitas dia di sosial media cukup sepertinya.
cukup membuat sakit hati ... HAHAHAHA...
yaaa itu hanya ungkapan,
tapi kan gua juga punya iman, gua percaya Tuhan punya rencana sukacita dan gua mau tunggu itu.
sampai gua yakin memang dia yang gua mau, bukan karena yang penting ada.
sudah jadi sifat manusia sulit percaya yang tidak terlihat dan abu-abu.
tapi harus tetap berusaha.
semoga kamu selalu bahagia ya fer
Delima Marbun
OPEN YOUR MIND
Minggu, 11 Maret 2018
Minggu, 28 September 2014
APA ITU SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI ?
untuk mengetahui apa itu sistem informasi psikologi, maka harus diuraikan dari masing-masing kata tersebut, dimulai dari kata...
Sistem adalah kumpulan elemen-elemen yang terintegrasi dan berinterakasi untuk mencapai tujuan tertentu. Di dalam sistem terdapat suatu proses interaksi antara perangkat lunak dan perangkat keras yang akan menghasilkan informasi yang dapat digunakan.
Sistem juga merupakan manajerial dari sebuah organisasi yang mengatur dan menjalankan roda organisasi sehingga ada keteraturan yang baik didalamnya agar tidak terjadi bentrok antara elemen-elemen pembentuk sistem didalamnya.
Sistem memilki beberapa karakteristik, diantaranya :
- Komponen (elemen), Komponen dari suatu sistem dikenal sebagai subsistem, dimana subsistem merupakan sistem didalam suatu sistem yang memiliki fungsi sendiri namun terintegrasi dengan sistem lainnya.
- Boundary, Merupakan batasan antar sistem satu dan sistem lainnya dengan lingkungan luar.
- Environtment, Merupakan segala sesuatu yang berada diluar sistem yang mempengeruhi operasi dalam sistem.
- Interface, Merupakan media penghbung antara subsistem dengan subsistem lainnya.
- Input, Merupakan data yang dimasukan kedalam proses sistem.
- Output, Merupakan hasil yang dikeluarkan dari proses sistem, dimana didalamnya terdapat keluaran yang berguna (misalnya informasi) maupun yang tidak berguna (misalnya limbah).
- Sasaran sistem (objective), Merupakan sasaran atau tujuan yang ingin dicapai oleh suatu sistem.
Sistem diklasifikasikan kedalam beberapa jenis diantaranya :
- Sistem Abstrak --> sistem yg berisi gagasan atau konsep. contoh : sistem teologi
- Sistem Fisik --> sistem yg secara fisik dapat dilihat. contoh : sistem komputer, sistem transportasi
- Sistem Deterministik --> sistem yg operasinya dapat diprediksi secara tepat. contoh : program komputer
- Sistem Probabilistik --> sistem yg tidak bisa diramal dgn pasti karena mengandung unsur probabilitas. contoh : arisan, stok barang.
- Sistem Tertutup --> sistem mandiri, sistem yg tidak bertukar materi, informasi, atau energi dgn lingkungan(tidak dipengaruhi oleh lingkungan). contoh : reaksi kimia dlm sebuah tabung tertutup
- Sistem Terbuka --> sistem yg berhubungan dgn lingkungan dan dipengaruhi oleh lingkungan. contoh :sistem keorganisasian, sistem penawaran
- Sistem alamiah --> sistem yg terjadi karena alam (tidak dibuat oleh manusia). contoh : sistem tata surya
- Sistem buatan manusia --> sistem yg dibuat oleh manusia.
Didalam sebuah sistem besar tentunya terdiri dari beberapa subsistem yang terintegrasi dengan baik. Subsistem dibentuk dari beberapa cara yaitu :
- Factoring (pengunsuran). Cara ini bertujuan untuk membentuk struktur yang kompleks agar dapat dianalisa secara rinci.
- Simplikasi atau penyederhanaan. Cara ini bertujuan untuk menyederhanakan banyaknya interface yang muncul dari sistem itu sendiri.
- Decoupling (pemisahan). Dua subsistem yg berhubungan sangat erat membutuhkan suatu koordinasi & penjadwalan waktu yg ketat. pemecahannya adalah dgn memisahkan atau mengendorkan. hubungan tersebut sehingga kedua sistem dapat beroperasi sejenak secara bebas.
Sistem yang baik seharusnya memiliki sebuah pengendalian sistem, dimana hal ini diwujudkan dengan menggunakan umpan balik (feedback), hal ini dilakukan agar sistem berjalan sesuai tujuan. Caranya adalah dengan membandingkan keluaran sistem dengan keluaran yang diharapkan.
Selanjutnya saya akan membahas apa itu “Informasi” , mulai dari pengertiannya sampai dengan pengolahannya.
Informasi adalah kumpulan pesan yang memiliki makna yang dapat diolah sebagai dasar pengambilan tindakan. Sebuah informasi harus ditempatkan pada suatu konteks permasalahan tertentu yang sesuai. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kerancuan dalam pengolahan tiap-tiap informasi.
Informasi memiliki beberapa karakteristik yang bisa dijadikan indikator baik atau tidaknya informasi tersebut :
- Relevan. Artinya terdapat kesesuaian antara kebutuhan informasi dengan ketersediaan informasi.
- Tepat waktu. Penting bagi tiap penerima informasi menerimanya secara tepat waktu, karena terlambatnya suatu informasi akan sangat mengurangi nilai dari informasi tersebut.
- Akurat. Informasi akan sangat bernilai bila bebas dari kesalahan-kesalahan yang bisa menyesatkan, sehingga maksud dari penggunaan informasi itu akan menjadi jelas.
- Mengurangi ketidakpastian. Sebuah informasi hadir untuk mengurangi ketidakpastian sehingga dapat memperkuat fakta.
- Mengandung elemen yang baru. Informasi akan sangat bernilai ketika terdapat elemen-elemen baru, sehingga dapat tercipta suatu improvisasi dan inovasi.
Berikut ini adalah metode pengumpulan Informasi :
- Pengamatan langsung
- Wawancara
- Perkiraan koserponden
- Daftar pertanyaan
Bila kita tarik kesimpulan dari beberpa penjabaran diatas makan kita bisa mengatakan bahwa sistem informasi merupakan sistem terbuka yang menghasilkan informasi dengan menggunakan siklus :
Input—Proses—Output
Fungsi dari sistem informasi adalah untuk membantu individu atau kelompok untuk melaksanakan aktivitas yang dapat berupa perencanaan, pengorganisasian, pengontrolan dan pengambilan keputusan.
Selanjutnya saya akan membahas mengenai “Psikologi” , yang merupakan kajian utama dalam tulisan ini…
Psikologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu psyche dan logos. Dimana psyche bermakna jiwa, sedangkan logos bermakna ilmu. Dengan kata lain psikologi adalah ilmu tentang jiwa.
Jiwa merupakan suatu kajian yang sifatnya abstrak, namun dalam psikologi hal abstrak ini dapat dipelajari melalui tingkah laku manusia dan hewan yang merupakan objek kajian psikologi. Secara sederhana psikologi dapat pula diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan.
Penggunaan hewan sebagai objek psikologis dikarenakan pada aliran behavioristik seringkali prilaku yang diprediksi akan terjadi pada manusia terlebih dahulu di uji cobakan pada hewan. Banyak diantara percobaan-percobaan pada hewan ini berhasil terjadi pada manusia. Diantaranya percobaan Pavlov dan Skinner.
Sesungguhnya penerapan percobaan-percobaan perilaku tersebut sudah keluar dari esensi dari psikologi itu sendiri, dimana yang seharusnya dikaji adalah kondisi psikis dari manusia bukan sekedar perilaku yang nampak. Oleh karena itu bermunculanlah teori-teori yang menentang aliran behavioristik tersbut, yaitu aliran humanistik. Dimana manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki kesadaran penuh untuk mengembangkan potensi dirinya. Dengan demikian aspek psikis seseorang dapat lebih tergambarkan.
Namun aliran behavioristik tidak sepenuhnya salah karena ada banyak hal yang belum mampu dijelaskan oleh teori lain mengenai perilaku manusia yang muncul akibat dari pengalaman psikis seseorang.
Setelah melihat paparan diatas maka kita dapat menyimpulkan beberapa hal mengenai sistem informasi psikologi. Sistem informasi psikologi adalah kajian ilmu yang mempelajari hubungan antara ilmu psikologi dalam kaitannya dengan penggunaan dan pengaplikasian komputer dalam bidang psikologi.
Penggunaan sistem informasi dalam psikologi dimungkinkan karena banyak hal dalam dunia psikologi yang masih bisa dikelola dengan sentuhan komputerisasi. Misalnya penggunaan tes psikologi secara virtual, penggunaan teknologi eye-tracking dan yang terbaru adalah teknologi virtual reality yang memungkinkan seseorang untuk mengurangi bahkan menyembuhkan gangguan psikologis seperti ADHD, PTSD dan beragam fobia.
Jumat, 27 Juni 2014
TUGAS PORTOFOLIO 4
A. Terapi Kelompok
1. Konsep dasar pandangan Terapi Kelompok tentang kepribadian
Institut Tavistock di London (1930), dengan dasar teori psikoanalisisnya Melani Klein mengembangkan proses kelompok dalam membantu memecahkan problematika
Samuel Slavson (1930), seorang engineer, melakukan terapi aktivitas kelompok dan mendorong anggotanya dalam berinteraksi menyelesaikan konflik, impuls dan pola perilaku.Slavson (1943), mengorganisasikan Asosiasi Terapi Kelompok America.
Slavson (1964) menerapkan teknik terapi kelompok dengan pendidikan progresif dan psikoanalisis, untuk membantu anak2 dan remaja yang mengalami gangguan.
2. Unsur-unsur Terapi
- Munculnya gangguan
Muncul dua aliran yang berbeda yang mencakup gambaran tentang proses terapi kelompok. Satu aliran memusatkan pada peraturan para anggota dan pemimpin, sementara aliran lainnya memeriksa dengan menggunakan kerangka kerja teoritis untuk memimpin kelompok .
- Tujuan Terapi
a. Menjadi lebih terbuka dan jujur terhadap diri sendiri dan orang lain
b. Belajar mempercayai diri sendiri dan orang lain
c. Berkembang untuk lebih menerima diri sendiri
d. Belajar berkomunikasi dengan orang lain
e. Belajar untuk lebih akrab dengan orang lain
f. Belajar untuk bergaul dengan sesama atau lawan jenis
g. Belajar untuk memberi dan menerima
h. Menjadi peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain
i. Meningkatkan kesadaran diri, sehingga akan merasa lebih bebas dan tegas dalam memilih
.
- Peran Terapis
Yang terpenting dalam konseling/terapi kelompok adalah konselor/terapis harus mempunyai dasar teori dan terlatih untuk memimpin kelompok, karena dikuatirkan membuat lebih buruk keadaan.
3. Teknik-teknik Terapi
- Teknik yang melibatkan para anggota
- Teknik yang melibatkan pemimpin
- Menggunakan babak-babak terapeutik
- Teknik sesekali membantu lebih dari satu anggota
- Teknik untuk bekerja dengan Individu secara tidak langsung
- Teknik yang menyebabkan para anggota berbagi pada tingkat lebih pribadi
B. Terapi Keluarga
1. Konsep dasar pandangan terapi keluarga tentang kepribadian
Dengan penekanan pada konstelasi keluarga, holisme, dan kebebasan terapis untuk berimprovisasi, Pendekatan Adler memberikan kontribusi dasar pada perspektif terapi keluarga. Adlerians bekerja dengan fokus keluarga pada suasana kekeluargaan, konstelasi keluarga, dan tujuan interaktif dari setiap anggota (Bitter, Roberts, & Sonstegard, 2002). Suasana keluarga adalah iklim yang mencirikan hubungan antara orang tua dan sikap mereka terhadap kehidupan , peran gender, pengambilan keputusan, persaingan, kerjasama, menghadapi konflik, tanggungjawab, dan sebagainya. Suasana, termasuk menyediakan model peran orang tua, mempengaruhi anak-anak saat mereka tumbuh dewasa. Proses terapi berusaha untuk meningkatkan kesadaran tentang interaksi individu-individu dalam sistem keluarga. Mereka yang mempraktekkan terapi keluarga Adlerian berusaha untuk memahami tujuan, keyakinan, dan, perilaku, setiap anggota keluarga dan keluarga sebagai entitas dalam dirinya sendiri.
2. Unsur-unsur Terapi
- Munculnya gangguan
Peran serta keluarga dlm perawatan klien gangguan jiwa. Keluarga merupakan tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dg lingkungannya.
Keluarga dipandang sbg satu sistem sehingga gangguan yg tjd pd salah satu anggota dpt mempengaruhi sistem, disfungsi dlm keluarga dpt sbg penyebab gangguan.
- Tujuan Terapi
- Menurunkan konflik kecemasan keluarga
- Meningkatkan kesadaran keluarga thd kebutuhan masing-masing anggota keluarga
- Meningkatkan kemampuan penanganan thd krisis
- Mengembangkan hubungan peran yg sesuai
- Membantu keluarga menghadapi tekanan dari dlm maupun dari luar anggota keluarga
- Meningkatkan kesehatan jiwa keluarga sesuai dg tingkat perkembangan anggota keluarga
- Peran Terapis
- Merawat klien secara utuh : observasi stress emosi klien & keluarga
- Mengkaji fungsional & disfungsional keluarga
3. Teknik-teknik Terapi
- Model teoritik digunakan oleh terapis untuk mengevaluasi, diagnosis, dan mengubah hubungan keluarga.
- Terapi memahami keluarga secara terpisah dan hak tersebut sebagai tanggungjawab dalam melakukan intervensi terapeutik
- Gaya, kepribadian, dan nilai yang dimiliki seorang terapis.
- Lapangan atau cakupan terapi keluarga
C. Terapi Bermain
1. Konsep dasar pandangan terapi bermain tentang kepribadian
Terapi permainan merupakan terapi kejiwaan namun dalam pelaksanaannya faktor ekspresi-gerak menjadi titik tumpuan bagi analisa terapeutic dengan medianya adalah bentuk-bentuk permainan yang dapat menimbulkan kesenangan, kenikmatan dan tidak ada unsur paksaan serta menimbulkan motivasi dalam diri sendiri yang bersifat spontanitas, sukarela dan mempunyai pola atau aturan yang tidak mengikat.
2. Unsur-unsur Terapi
- Munculnya gangguan
Permainan merupakan suatu kesibukan yang ada dalam kehidupan sehari-hari dari diri anak berkebutuhan khusus dan berguna bagi dirinya dalam kehidupannya yang mandiri kelak.
- Tujuan Terapi
- Fisik meliputi perkembangan kekuatan organ tubuh, peningkatan ketahanan otot-otot dan organ tubuh, pencegahan dan perbaikan sikap tubuh yang kurang baik.
- Intelektual meliputi kemampuan berkomunikasi, menghitung angka dalam suatu permainan sehingga dapat dikatakan menang atau kalah dll.
- Emosi : penerimaan atas pimpinan orang lain, bagaimana ia memimpin dll.
- Sosialisasi : bagaimana dapat bermain bersama, meningkatkan hubungan yang sehat dalam kelompok.
- Peran Terapis, dalam pendidikan ;
- Sarana pencegahan : tidak menambah permasalahan baru dan menghmbat proses belajarnya.
- Sarana penyembuhan : dapat disembuhkan atau dilatih sebagai sarana belajar melalui bentuk-bentuk permainan yang bertujuan mengembalikan fungsi fisik,psiko-terapi,modifikasi perilaku, mengembangkan fungsi sosial, melatih bicara, mempertajam atau latihan visual, latihan auditif, latihan taktil, dll.
- Sarana penyesuaian diri : anak-anak sulit beradaptasi, oleh karena itu dilatih bekelompok dalam permainan.
- Sarana untuk mengembangkan ketajaman penginderaan : untuk menjernihkan penglihatan (visual) misal ; permainan warna, bentuk, jarak dll.
- Sarana mengembangkan kepribadian : anak dapat bergerak dengan bebas dan aktif melakukan berbagai kegiatan dengan perasaan gembira dan menyenangkan.
- Sarana untuk latihan aktifitas sehari-hari : permainan memasak, berdagang, rumah-rumahan dll.
3. Teknik-teknik Terapi
Penggunaan terapi bermain sebagai teknik psikoterapi.
1. Nilai Terapiutik dari Permainan
2. Kepada Siapa Terapi Bermain Diberikan
3. Prosedur dalam Terapi Bermain.
4. Hal Penting Sesudah Terapi Bermain.
D. Review
1. TERAPI PSIKOANALISIS
Tokoh : Sigmun Freud
Teknik Terapi :
a. Free Associaton
Asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatic di masa lampau, yang dikenal dengan sebutan katarsis.
Selama proses asosiasi bebas berlangsung tugas analisis adalah mengenali bahan yang di repress dan dikung dalam ketidaksadaran.
b. Analisis Transference
Analisis transference adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi.
c. Analisis Resisten
Freud memandang resistensi sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebahai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkatkan jika klien menjadi sadar atas dorongan-doronggan dan perasaan-perasaan yag direpresi itu.
d. Analisis Mimpi
Sebuah prosedur yang penting untuk menyngkap bahan yang tak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan-pertahanan melemah, dan perasaan-perasaan yang direpresi muncul kepermukaan.
2. TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL
Tokoh : Maslow dan Kelly
Teknik Terapi :
Teori humanistik eksistensial tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur konseling bisa dipungut dari beberapa teori konseling lainnya, seperti teori Gestalt dan Analisis Transaksional.
3. PERSON CENTERED THERAPY
Tokoh : Rogers
Teknik Terapi :
- Free Association (Asosiasi Bebas)
- Analisis Transference
- Analisis Resistensi
- Analisis Mimpi
4. LOGO TERAPI
Tokoh : Victor Frankl
Tekinik Terapi :
Diantara teknik-teknik tersebut adalah yang dikenal dengan intensi paradoksal, yang mampu menyelesaikan lingkaran neurotis yang disebabkan kecemasan anti sipatori dan hiper-intensi. Intensi paradoksal adalah keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti.
Teknik terapi Frankl yang kedua adalah de-refleksi. Frankl percaya bahwa sebagian besar persoalan kejiwaan berawal dari perhatian yang terlalu terfokus pada diri sendiri. Dengan mengalihkan perhatian dari diri sendiri dan mengarahkannya pada orang lain, persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya.
5. ANALISIS TRANSAKSIONAL
Tokoh: Berne
Teknik Terapi :
Menurut Berne ada beberapa teknik khusus yang dapat dipakai dalam proses terapi, yaitu: interogasi, spesifikasi, konfrontasi, eksplanasi, illustrasi, konfirmasi, interprestasi, kristalisasi.
6. RATIONAL EMOTIVE THERAPY
Tokoh; ELLIS
Teknik Terapi :
Teknik Emotif (afektif)
- Teknik Assertive Training , yaitu teknik yang digunakan untuk melatih, medorong dan membiasakan klien untuk terus menerus menyesuaikan diri dengan perilaku tertentu yang diinginkan
- Teknik sosiodrama, yang digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan negatif) melalui suasana yang didramatisasikan
- Teknik self modeling atau diri sebagai model, yakni teknik yang digunakan untuk meminta klien agar berjanji atau mengadakan komitmen dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu.
- Teknik imitasi, yakni teknik yang digunakan dimana klien diminta untuk menirukn secara terus menerus soal model perilaku tertentu dengan maksud menhadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.
- Teknik Behavioristik
·Teknik-Teknik Kognitif
- Home work assigments/ pemberian tugas rumah , klien diberikan tugas rumah untuk berlatih, membiasakan diri serta menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menurut pola perilaku yang diharapkan.
- Teknik Assertive , teknik yang digunakan untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan perilaku tertentu yang diharapkan melalui role playing atau bermain peran.
7. TERAPI PERILAKU (BEHAVIOR THERAPY)
Tokoh :
Tokoh dari Classical Conditioning adalah Pavlov.
Tokoh dari Operan Conditioning adalah E.L. Thorndike.
Tokoh dari Modelling adalah Walter dan Bandura.
Teknik Terapi :
terapis menggunakan teknik seperti summarizing, reflection, klarifikasi, dan pertanyaan terbuka. Goldfried dan Davidson (dalam Corey, 1996) mengatakan bahwa, akan tetapi terdapat dua fungsi yang membedakan klinisi behavioral: mereka fokus pada hal-hal spesifik, dan mereka secara sistematis berusaha untuk mendapatkan informasi tentang situasi antecedents, dimensi dari masalah-masalah perilaku, dan konsekuensi dari masalah.
8. TERAPI KELOMPOK
Tokoh: Joseph Pratt
Teknik Terapi :
- Teknik yang melibatkan para anggota
- Teknik yang melibatkan pemimpin
- Menggunakan babak-babak terapeutik
- Teknik sesekali membantu lebih dari satu anggota
- Teknik untuk bekerja dengan Individu secara tidak langsung
- Teknik yang menyebabkan para anggota berbagi pada tingkat lebih pribadi
9. TERAPI KELUARGA
Tokoh :Alfred Adler
Teknik terapi :
- Terapi Keluarga Berstruktur ---> Terapi keluarnya berstruktur adalah suatu kerangka teori tehnik pendekatan individu dalam konteks sosialnya. Tujuan adalah mengubah organisasi keluarga. Terapi keluarga berstruktur memepergunakan proses balik antara lingkungan dan orang yang terlibat perubahan – perubahan yang ditimbulkan oleh seseorang terhadap sekitarnya dan cara – cara dimana umpan balik terhadap perubahan perubahan tadi mempengaruhi tindakan selanjutnya. Terapi keluarga mempergunakan tehnik – tehnik dan mengubah konteks orang – orang terdekat sedemikian rupa sehingga posisi mereka berubah dengan mengubah hubungan antara seseorang dengan konteks yang akrab tempat dia berfungsi, kita mengubah pengalaman subyektifnya.
- Terapi Individu atau Perorangan ---> Melihat individu sebagai suatu tempat yang patologis dan mengumpulkan data yang di peroleh dari atau tentang individu tadi.
10.TERAPI BERMAIN
Tokoh : Sigmund Freud
Teknik Terapi :
- Emosi negatif terekspresikan secara menyebar ditempat klien bermain. Misalnya, ekspresi dari reaksi terhadap kekerasan tersebar pada ruang bermain, alat permainan,atau pada terapis
- Anak mengekspresikan emosi yang bertentangan, misalnya antara kecemasan dengan kekasaran.
- Anak lebih fokus dalam mengekspresikan emosi negatif, misalnya pada orang tua, diri sendiri atau orang lain dalam hidupnya.
- Emosi dan sikap yang bertentangan negatif dengan positif, kembali terjadi dengan fokus pada orang tua, diri sendiri atau orang lain.
- Anak mengekspresikan pemahaman atas emosi negatif ataupun positif yang ada pada dirinya dengan jelas, terbedakan, terpisah, dan realistik dengan sikap positif yang lebih dominan
Sumber :
http://kajianpsikologi.blogspot.com/p/konseling-kelompok.html
http://saraswatiundersea.blogspot.com/2012/04/terapi-adlerian.html
http://gitomulyanto.blogspot.com/2009/11/terapi-kelompok.html
http://psikology09b.blogspot.com/2012/03/terapi-keluarga.html
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-RAHAYU_GININTASASI/Teknik_terapi_keluargax.pdf
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:9alS6gQY1W0J:staff.uny.ac.id/sites/default/files/LATAR%2520BELAKANG%2520TERAPI%2520BERMAIN.ppt+&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id
http://firnurdiono.wordpress.com/therapi-bermain/
Kamis, 22 Mei 2014
TUGAS PORTOFOLIO 3
I. ANALISIS TRANSAKSIONAL (BERNE)
A. Konsep Dasar, Pandangan, Analisis Transaksional Tentang Kepribadian.
Analisis transaksional (TA) adalah merupakan teori kepribadian dan sistem yang terorganisir dari terapi interaksional. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa disaat kita membuat keputusan berdasarkan premis premis masa lalu yang pada suatu waktu sesuai dengan kebutuhan kelangsungan hidup kita tetapi yang mungkin tidak lagi berlaku. TA menekankan aspek kognitif dan perilaku dari proses terapeutik. Dalam TA ada tiga sekolah diakui klasik, Schiffian (atau reparenting), dan redecisionaland dua sekolah tidak resmi diidentifikasi sebagai reparenting diri dan korektif orangtua. Konsep utama analisis transaksional Pada hakekatnya manusia adalah :
- Kehidupan manusia bukanlah merupakan sesuatu yang telah ditentukan (anti deterministik).
- Manusia mampu memahami keputusan-keputusannya pd masa lalu & kemudian dpt memilih untuk memutuskan kembali atau menyesuaikan kembali keputusan yg pernah diambil.
- Manusia mempunyai kapasitas untuk memilih & dlm tingkat sesadaran tertentu indv dpt menjadi mandiri dlm menghadapi persoalan hidupnya.
- Hekekat manusia selalu ditempatkan dlm interaksi & interelasi sbg dasar pertumtumbuhan dirinya.
Struktur Kepribadian:
- Kepribadian manusia terdiri dari 3 status ego : ego orang tua, ego orang dewasa dan ego anak
- Ego orang tua : bagain dari kepribadian yg menunjukkan sifat-sifat orang tua, berisi perintah (harus & semestinya)
- Ego dewasa : bagian dari kepribadian yg objektif, stabil, tidak emosional, rasional, tidak menghakimi, berkerja dengan fakta dan kenyataan-kenyataan, selalu berusaha untuk menggunakan informasi yang tersdia untuk menghasilkan pemecahan yang terbaik dalam pemecahan berbagai masalah. Dalam status orang dewasa selalu akan berisi hal-hal yang produktif, objektif, tegas, dan efektif dalam menghadapi kehidupan.
- Ego anak : bagian dari kepribadian yang menunjukkan ketidakstabilan, masih dalam perkembangan, berubah-ubah, ingin tahu dan sebaginya. Ego Anak berisi perasaan-perasaan, dorongan-dorongan , dan tindakan –tindakan spontan
B. Unsur - Unsur Terapi
1. Muculnya Gangguan.
***Ego state child
Pernyataan ego dengan ciri kepribadian anak-anak seperti bersifat manja, riang, lincah dan rewel. Tiga bagian dari ego state child ini ialah:
- Adapted child (kekanak-kanakan). Unsur ini kurang baik ditampilkan saat komunikasi karena banyak orang tidak menyukai dan hal ini menujukkan ketidak matangan dalam sentuhan.
- Natural child (anak yang alamiah). Natural child ini banyak disenangi oleh orang lain karena sifatnya yang alamiah dan tidak dibuat-buat serta tidak berpura-pura, dan kebanyakan orang senang pada saat terjadinya transaksi.
- Little professor. Unsur ini ditampilkan oleh seseorang untuk membuat suasana riang gembira dan menyenangkan padahal apapun yang dilakukannya itu tidaklah menunjukkan kebenaran.
***Ego state parent
Ciri kepribadian yang diwarnai oleh siafat banyak menasehati, memerintah dan menunjukkan kekuasaannya. Ego state parent ini terbagi dua yaitu :
- Critical parent. Bagian ini dinilai sebagai bagian kepriadian yang kurang baik, seperti menujukkan sifat judes, cerewet, dll.
- Nurturing parent. Penampilan ego state seperti ini baik seperti merawat dan lain sebagianya.
***Ego state adult
Berorientasi kepada fakta dan selalu diwarnai pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana.
2. Tujuan Terapi
Tujuan dari analisis transaksional adalah otonomi, yang didefinisikan sebagai kesadaran, spontanitas, dan kapasitas untuk keintiman.
Tujuan dasar analisis transaksional adalah membantu klien dalam membuat putusan – putusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya. Sasarannya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatasi oleh putusan – putusan dini mengenai posisi hidupnya dan oleh pilihan terhadap cara – cara hidup yang mandul dan diterministik.
Menurut Lutfi Fauzan, tujuan terapi analisis transaksional dapat dibagi menjadi tujuan umum dan tujuan khusus :
- Tujuan umum terapi analisis transaksional ialah membantu individu mencapai otonomi. Individu dikatakan mencapai otonomi bilamana ia memliki Kesadaran, Spontanitas, Keakraban.
- Tujuan khusus terapi analisis transaksional, yaitu :
- Terapis membantu klien membebankan Status Ego Dewasanya dari kontaminasi dan pengaruh negatif Status Ego Anak dan Status Ego Orang tua.
- Terapis membantu klien menetapkan kebebasan untuk membuat pilihan-pilihan terlepas dari perintah-perintah orang tua.
- Terapis membantu klien untuk menggunakan semua status egonya secara tepat.
- Terapis membantu klien untuk mengubah keputusan-keputusan yang mengarah pada posisi kehidupan “orang kalah”.
3. Peran Terapis
Peran terapis, seperti seseorang guru, pelatih atau narasumber dengan penekana yang kuat pada keterlibatannya. Sebagai guru, terapis menerangkan konsep-konsep seperti analisis struktual, analaisi transaksional, analisis skenario dan analisis permainan..
Menurut Corey (1988) peranan terapis yaitu membantu klien untuk menemukan suasana masa lalu, mengidentifikasikan rencana hidup dan mengembangkan strategi-strategi yang telah dipergunakannya dalam menghadapi orang lain yang sekarang mungkin akan dipertimbangkannya. Terapis membantu klien memperoleh kesadaran yang lebih realitas dan mencari alternatif-alternatif untuk menjalani kehidupan yang lebih otonom.
Tugas terapis adalah menggunakan pengetahuannya untuk mendukung klien dalam hubungannya dengan suatu kontrak spesifik yang jelas diprakarsai oleh kilen.
C. Teknik Terapi Analisis Transaksional
Menurut Corey secara umum teknik-teknik yang dapat dipilih dan diterapkan dalam terapi analisis transaksional, yaitu:
- Permission (pemberian kesempatan), dalam proses terapi, pemberian kesempatan ini diberikan kepada kilen agar dapat menggunakan waktunya secara efektif tanpa melakukan ritual pengunduran diri mengalami semua status ego yang biasanya dilakukan dengan mendorong klin menggunakan kemampuan Status Ego Dewasa untuk menikmati kehidupan tidak memainkan permainan dengan cara tidak membiarkan klien memainkannya.
- Protection (proteksi), klien mungkin akan merasa ketakutan setelah ia menerima kesempatan untuk menghentikan perintah-perintah orang tua dan menggunakan Status Ego Dewasa dan Status Ego Anak.
- Potency (potensi), maksudnya seorang terapis tahu apa yang akan dilakukan dan kapan melakukannya. Oleh karena itu kemampuan terapis terletak pada keahliannya, sehingga keterampilan tersebut efektif secara optimal.
Menurut Berne ada beberapa teknik khusus yang dapat dipakai dalam proses terapi, yaitu: interogasi, spesifikasi, konfrontasi, eksplanasi, illustrasi, konfirmasi, interprestasi, kristalisasi.
II. RATIONAL EMOTIVE THERAPY (ELLIS)
A. Konsep Dasar, Pandangan, Rational Emotive Therapy Tentang Kepeibadian
Rational Emotive Therapy atau Teori Rasional Emotif mulai dikembangan di Amerika pada tahun 1960-an oleh Alberl Ellis, seorang Doktor dan Ahli dalam Psikologi Terapeutik yang juga seorang eksistensialis dan juga seorang Neo Freudian. Teori ini dikembangkanya ketika ia dalam praktek terapi mendapatkan bahwa sistem psikoanalisis ini mempunyai kelemahan-kelemahan secara teoritis (Ellis, 1974).
Unsur pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi bahwa berfikir dan emosi buka dua proses yang terpisah. Emosi disebabkan dan dikendalikan oleh pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intrinsik. Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis yaitu ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, diantaranya:
- Antecedent event (A). Merupakan segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
- Belief (B). Merupakan keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau sistem keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
- Emotional consequence (C). Merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
B. Unsur - Unsur Terapi
1. Munculnya Gangguan
Masalah yang dihadapi klien dalam pendekatan Konseling Rasional-Emotife itu muncul disebabkan karena ketidaklogisan klien dalam berfikir. ketidaklogisan berpikir ini selalu berkaitan dan bahkan menimbulkan hambatan gangguanatau kesulitan emotional dalam melihat dan menafsirkan objek atau fakta yang dihadapinya.
Menurut konseling rational emotif ini, individu merasa dicela, diejek dan tidak diacuhkan oleh individu lain kerena ia memiliki keyakinan dan berpikir bahwa individu lain itu mencela dan tidak mengacuhkan dirinya.
2. Tujuan Terapi
Tujuan utama konseling rasional-emotif adalah sebagai berikut:
- Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan self-actualization-nya seoptimal mungkin melalui perilaku kognitif dan afektif yang positif.
- Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti: rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, dan rasa marah. Sebagai konseling dari cara berfikir keyakinan yang keliru berusaha menghilangkan dengan jalan melatih dan mengajar klien untuk menghadapi kenyataan-kenyataan hidup secara rasional dan membangkitkan kepercayaan nilai-nilai dan kemampuan diri sendiri.
3. Peran Terapis
Tugas konselor adalah membantu individu yang tidak bahagia dan menghadapi hambatan, untuk menunjukkan bahwa kesulitannya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak logis dan usaha memperbaikinya adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. Konselor yang efektif akan membantu klien untuk mengubah pikiran, perasaan, dan perilaku yang tidak logis.
Peran terapis dalam metode RET dalam terapi ini adalah sebagai berikut:
- Aktif, yaitu berbicara, mengkonfrontasikan (yang irrasional), menafsirkan, menyerang falsafah yang menyalahkan diri.
- Direktif, yaitu menerangkan ketidakrasionalan yang dialami dan yang ditunjukkan oleh klien baik berupa tingkah laku verbal, maupun sikapnya yang terlihat, juga mengajari klien untuk menggunakan metode-metode perilaku misalnya desentisasi dan latihan asertif.
C. Teknik Terapi Rational Emotive Therapy
***Teknik Emotif (afektif)
- Teknik Assertive Training , yaitu teknik yang digunakan untuk melatih, medorong dan membiasakan klien untuk terus menerus menyesuaikan diri dengan perilaku tertentu yang diinginkan
- Teknik sosiodrama, yang digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan negatif) melalui suasana yang didramatisasikan.
- Teknik self modeling atau diri sebagai model, yakni teknik yang digunakan untuk meminta klien agar berjanji atau mengadakan komitmen dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu.
- Teknik imitasi, yakni teknik yang digunakan dimana klien diminta untuk menirukn secara terus menerus soal model perilaku tertentu dengan maksud menhadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.
***Teknik Behavioristik
- Teknik reinforcement atau penguatan, yaitu teknik yang digunakan untuk mendorong klien kearah perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun punishment/ hukuman.
- Teknik social modeling atau penguatan modeling, yakni teknik yang digunakan untuk memberikan perilaku-perilaku baru kepada klien.
- Teknik live models/ model dari kehidupan nyata, yang digunakan untuk menggambarkan perilaku tertentu.
***Teknik-Teknik Kognitif
- Home work assigments/ pemberian tugas rumah , klien diberikan tugas rumah untuk berlatih, membiasakan diri serta menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menurut pola perilaku yang diharapkan.
- Teknik Assertive , teknik yang digunakan untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan perilaku tertentu yang diharapkan melalui role playing atau bermain peran.
III. TERAPI PERILAKU (BEHAVIOR THERAPY)
A. Konsep Dasar, Pandangan, Perilaku Tentang Kepribadian
Terapi behavioral atau terapi perilaku berasal dari dua konsep yakni dari Ivan Pavlov dan B.F. Skinner. Mula-mula terapi ini dikembangkan oleh Wolpe (1985) untuk menanggulangi (treatment) neurosis.
Terapi perilaku adalah penggunaan prinsip dan paradigma belajar yang ditatpkan secara eksperimental untuk mengatasi perilaku tidak adaptif. Dalam prakteknya, terapi perilaku adalah penekanan pada analisis perilaku untuk menguji secara sistematik hipotesis mana terapi didasarkan.
B. Unsur - Unsur Terapi
1. Munculnya Gangguan
Dimana landasan pijakan terapi tingkah laku ini yaitu pendekatan behavioristik, pendekatan ini menganggap bahwa “Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial budayanya. Segenap tingkah laku manusia itu dipelajari”. Ini merupakan anggapan dari behavioristik radikal. Namun behavioristik yang lain yaitu behavioristik kontemporer, yang merupakan perkembangan dari behavioristik radikal menganggap bahwa setiap individu sebenarnya memiliki potensi untuk memilih apa yang dipelajarinya. Ini bertentangan dengan prinsip behavioris yang radikal, yang menyingkirkan kemungkinan individu menentukan diri.
2. Tujuan Terapi
- Mengubah perilaku yang tidak sesuai pada klien
- Membantu klien belajar dalam proses pengambilan keputusan secara lebih efisien.
- Mencegah munculnya masalah di kemudian hari.
- Memecahkan masalah perilaku khusus yang diminta oleh klien.
- Mencapai perubahan perilaku yang dapat dipakai dalam kegiatan kehidupannya.
3. Peran Terapis
Menurut Corey (1996) terapis dalam memegang peranan aktif dan direktif dalam pelaksanaan proses terapi. Dalam hal ini terapis harus mencari pemecahan masalah klien. Fungsi utama terapis adalah bertindak sebagai guru, pengarah, penasihat, konsultan, pemberi dukungan, fasilitator, dan mendiagnosis tingkah laku maladaptif klien dan mengubahnya menjadi tingkah laku adaptif. Terapis pada behavior therapy memperhatikan tanda-tanda apapun yang diberikan klien, dan mereka bersedia untuk mengikuti prosedur terapi.
Fungsi penting terapis lainnya adalah sebagai role model bagi klien. Bandura (dalam Corey, 1996) mengatakan kebanyakan belajar itu terjadi melalui pengalaman langsung. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa proses fundamental yang paling memungkinkan klien dapat mempelajari tingkah laku baru adalah melalui proses imitasi. Terapis dijadikan model pribadi yang ingin ditiru oleh klien karena cenderung memandang terapis sebagai orang yang patut untuk diteladani. Klien sering kali meniru sikap, nilai dan tingkah laku terapis. Untuk itulah, seorang terapis diharapkan menyadari perannya yang begitu penting dalam terapi sehingga tidak memunculkan perilaku yang tidak semstinya untuk ditiru.
C. Teknik - Teknik Terapi Perilaku
Terapis menggunakan teknik seperti summarizing, reflection, klarifikasi, dan pertanyaan terbuka. Goldfried dan Davidson (dalam Corey, 1996) mengatakan bahwa, akan tetapi terdapat dua fungsi yang membedakan klinisi behavioral: mereka fokus pada hal-hal spesifik, dan mereka secara sistematis berusaha untuk mendapatkan informasi tentang situasi antecedents, dimensi dari masalah-masalah perilaku, dan konsekuensi dari masalah.
Senin, 14 April 2014
Tugas Portofolio 2
I. TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL
Istilah psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga” (a third force).
Meskipun tokoh-tokoh psikologi humanistik memiliki pandangan yang berbeda-beda, tetapi mereka berpijak pada konsepsi fundamental yang sama mengenai manusia, yang berakar pada salah satu aliran filsafat modern, yaitu eksistensialisme. Eksistensialisme adalah hal yang mengada-dalam dunia (being-in-the-world), dan menyadari penuh akan keberadaannya (Koeswara, 1986 : 113). Para filsuf eksistensialis percaya bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib atau wujud dari keberadaannya, serta bertanggung jawab atas pilihan dan keberadaannya, dalam hal ini “pilihan” menjadi evaluasi tertinggi dari tindakan yang akan diambil oleh seseorang.
Tokoh-tokoh dalam konseling eksistensial-humanistik yaitu, Abraham Maslow, Carl H. Rogers, Holo May, Bagental, Yourard dan Arbuckle.
a). konsep dasar pandangan humanistik eksistensial tentang kepribadian
Konsep dasar menurut Akhmad Sudrajat adalah :
- Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan, dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya.
- Manusia tidak pernah statis, ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda, oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri.
- Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression.
Menurut Gerald Corey, (1988:54-55) ada beberapa konsep utama dari pendekatan eksistensial yaitu :
- Kesadaran diri, Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri itu pada seseorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu. Kesanggupan untuk memilih alternative – alternatif yakni memutuskan secara bebas di dalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang esensial pada manusia.
- Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan. Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab dapat menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan eksistensial juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati. Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesadaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi – potensinya.
- Penciptaan Makna. Manusia itu unik, dalam artian bahwa dia berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Pada hakikatnya manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah makhluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna dapat menimbulkan kondisi-kondisi keterasingan dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi – potensi manusiawinya sampai taraf tertentu.
b). Unsur-unsur terapi
- munculnya gangguan ---> Model humanistik kepribadian, psikopatologi, dan psikoterapi awalnya menarik sebagian besar konsep-konsep dari filsafat eksistensial, menekankan kebebasan bawaan manusia untuk memilih, bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan hidup sangat banyak pada saat ini. Hidup sehat di sini dan sekarang menghadapkan kita dengan realitas eksistensial menjadi, kebebasan, tanggung jawab, dan pilihan, serta merenungkan eksistensi yang pada gilirannya memaksa kita untuk menghadapi kemungkinan pernah hadir ketiadaan. Pencarian makna dalam kehidupan masing-masing individu adalah tujuan utama dan aspirasi tertinggi. Pendekatan humanistik kontemporer psikoterapi berasal dari tiga sekolah pemikiran yang muncul pada 1950-an, eksistensial, Gestalt, dan klien berpusat terapi.
- Tujuan Terapi ---> Menyajikan kondisi-kondisi untuk memaksimalkan kesadaran diri dan pertumbuhan, Menghapus penghambat-penghambat aktualisasi potensi pribadi. membantu klien menemukan dan menggunakan kebebasan memilih dan memperluas kesadaran diri, Membantu klien agar bebas dan bertanggung jawab atas arah kehidupan sendiri.
- Peran Terapis ---> Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikoterapi Humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut :
- Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi
- Menyadari peran dan tanggung jawab terapis
- Mengakui sifat timbale balik dari hubungan terapeutik.
- Berorientasi pada pertumbuhan
- Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.
- Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tangan klien.
- Memandang terapis sebagai model, bisa secara implicit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
- Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandagan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
- Bekerja kea rah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.
II. PERAN CENTERED THERAPY (ROGERS)
a). Konsep Dasar Pandangan Rogers Tentang Kepribadian
Tingkah laku manusia hanya dapat dipahami dari bagaimana dia memandang realita secara subyektif. Bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Manusia itu Bebas, Rasional, Utuh, mudah berubah, sebjektif, heterostatis, dan sukar di pahami. Tori Rogers adalah memanusiakan manusia.
Konsep pokok yang mendasari adalah menyangkut konsep-konsep mengenai diri (self), aktualisasi diri, teori kepribadian, dan hakekat kecemasan. Menurut Roger konstruk inti terapi berpusat pada klien adalah konsep tentang diri dan konsep menjadi diri atau pertumbuhan perwujudan diri.
b). unsur-unsur terapi
- Munculnya gangguan ---> Carl Rogers (1902-1987), berpendapat bahwa orang-orang memiliki kecenderungan dasar yang mendorong mereka ke arah pertumbuhan dan pemenuhan diri. Gangguan-gangguan psikologis pada umumnya terjadi karena orang-orang lain menghambat individu dalam perjalanan menuju kepada aktualisasi diri. Pendekatan humanistic Rogers terhadap terapi Person Center Therapy, membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sejati dengan menciptakan kondisi-kondisi penerimaan dan pengharagaan dalam hubungan terapeutik.
- Tujuan Terapi ---> Rogers berpendapat bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan – tujuan atau nilai – nilai yang di milikinya pada pasien. Fokus dari terapi adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin atau mengarahkan jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan – perasaan yang di ungkapkan oleh pasien untuk membantunya berhubungan dengan perasaan – perasaanya yang lebih dalam dan bagian – bagian dari dirinya yang tidak di akui karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau menguraikan dengan kata – kata pa yang di ungkapkan pasien tanpa memberi penilaian.
- Peran Terapis ---> Menurut Rogers, peran terapis bersifat holistik, berakar pada cara mereka berada dan sikap – sikap mereka, tidak pada teknik – teknik yang di rancang agar klien melakukan sesuatu. Penelitian menunjukkan bahwa sikap – sikap terapislah yang memfasilitasi perubahan pada klien dan bukan pengetahuan, teori, atau teknik – teknik yang mereka miliki. Terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai instrument perubahan. Fungsi mereka menciptakan iklim terapeutik yang membantu klien untuk tumbuh. Rogers, juga menulis tentang I-Thou. Terapis menyadari bahasa verbal dan nonverbal klien dan merefleksikannya kembali. Terapis dan klien tidak tahu kemana sesi akan terarah dan sasaran apa yang akan di capai. Terapis percaya bahwa klien akan mengembangkan agenda mengenai apa yang ingin di capainya. Terapis hanya fasilitator dan kesabaran adalah esensial.
- Tekhnik – Tekhnik Terapi ---> Untuk terapis person – centered, kualitas hubungan terapis jauh lebih penting daripada teknik. Rogers, percaya bahwa ada tiga kondisi yang perlu dan sudah cukup terapi, yaitu :
- Empathy
- Positive Regard (acceptance)
- Congruence
Empati adalah kemampuan terapis untuk merasakan bersama dengan klien dan menyampaikan pemahaman ini kembali kepada mereka. Empati adalah usaha untuk berpikir bersama dan bukan berpikir tentang atau mereka. Rogers mengatakan bahwa penelitian yang ada makin menunjukkan bahwa empati dalam suatu hubungan mungkin adalah faktor yang paling berpengaruh dan sudah pasti merupakan salah satu faktor yang membawa perubahan dan pembelajaran.
Positive Regard yang di kenal juga sebagai akseptansi adalah geunine caring yang mendalam untuk klien sebagai pribadi – sangat menghargai klien karena keberadaannya.
Congruence / Kongruensi adalah kondisi transparan dalam hubungan tarapeutik dengan tidak memakai topeng atau pulasan – pulasan. Menurut Rogers perubahan kepribadian yang positif dan signifikan hanya bisa terjadi di dalam suatu hubungan.
III. LOGOTERAPI (VICTOR FRANKL)
a). Konsep dasar pandangan Frankl tentang kepribadian
Mencari makna dalam hidup inilah prinsip utama teori Frankl yang dinamakan Logoterapi. Logoterapi memiliki tiga konsep dasar, yakni kebebasan berkeinginan maksudnya adalah Konsep kebebasan berkeinginan (freedom of will), mengacu pada kebebasan manusia untuk menentukan sikap (freedom to take astand) terhadap kondisi-kondisi biologis, psikologi, dan sosiokultural, keinginan akan makna, dan makna hidup.
b). unsur-unsur terapi
- Munculnya Gangguan ---> Logoterapi inibiasanya dilakukan untuk klien-klien yang mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), karena biasanya orang yang stres akibat trauma cenderung menyalahkan dirisendiri bahkan bisa ke resiko mencederai diri dan orang lain.
- Tujuan Terapi ---> Tujuan dari logoterapi adalah agar setiap pribadi: (a). memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal ada pada setiap orang terlepas dari ras, keyakinan dan agama yang dianutnya; (b). menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan. (c). memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mampu tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.
- Peran Terapis ---> Peranan dan Kegiatan Terapis, Menurut Semiun (2006) terdapat beberapa peranan dan kegiatan terapis dapat dikemukakan secara singkat di bawah ini.
- Menjaga hubungan yang akrab dan pemisahan ilmiah. Terapis pertama-tama harus menciptakan hubungan antara klien dengan mencari keseimbangan antara dua ekstrem, yakni hubungan yang akrab (seperti simpati) dan pemisahan secara ilmiah (menangani klien sejauh ia melibatkan diri dalam teknik terapi).
- Mengendalikan filsafat pribadi. Maksudnya adalah terapis tidak boleh memindahkan filsafat pribadi pada klien, karena logotherapy digunakan untuk menangani masalah-masalah yang menyangkut nilai-nilai dan masalah spiritual, seperti aspirasi terhadap hidup yang bermakna, makna cinta, makna penderitaan, dan sebagainya.
- Terapis bukan guru atau pengkhotbah. Terapis adalah seorang spesialis mata dalam pengertian bahwa ia memberi kemungkinan kepada klien untuk melihat dunia sebagaimana adanya, dan bukan seorang pelukis yang menyajikan dunia sebagaimana ia sendiri melihatnya.
- Memberi makna lagi pada hidup. Salah satu tujuan logotherapy adalah menemukan tujuan dan maksud keberadaannya. Kepada klien bahwa setiap kehidupan memiliki potensi-potensi yang unik dan tugas utamanya adalah menemukan potensi-potensi itu. Pemenuhan tugas ini memberi makna pada kepada hidupnya.
- Memberi makna lagi pada penderitaan. Di sini, terapis harus menekan bahwa hidup manusia dapat dipenuhi tidak hanya dengan menciptakan sesuatu atau memperoleh sesuatu, tetapi juga dengan menderita. Manusia akan mengalami kebosanan dan apati jika ia tidak mengalami kesulitan atau penderitaan.
- Menekankan makna kerja. Tugas terapis adalah memperlihatkan makan pada pekerjaan itu sehingga nilai-nilai yang dimiliki oleh orang-orang yang bekerja berubah. Tanggunga jawab terhadap hidup dipikul oleh setiap orang dengan menjawab kepada situasi-situasi yang ada. Ini dilakukan bukan dengan perkataan, melainkan dengan tindakan. Kesadaran akan tanggung jawab timbul dari kesadaran akan tugas pribadi yang konkret dan unik.
- Menekankan makna cinta. Tugas terapis adalah menuntut klien untuk mencintai dalam tingkat spiritual atau tidak mengacaukan cinta seksual dengan cinta spiritual yang menghidupi pengalaman orang lain dalam semua keunikan dan keistimewaannya.
C. Tekhnik – tekhnik Logotherapy
- Intensi Paradoksikal. Teknik intensi paradoksikal merupakan teknik yang dikembangkan Frankl berdasarkan kasus kecemasan antispatori, yaitu kecemasan yang ditimbulkan oleh antisipasi individu atas suatu situasi atau gejala yang ditakutinya. Intensi paradoksikal adalah keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti.
- Derefleksi. Derefleksi merupakan teknik yang mencoba untuk mengalihkan perhatian berlebihan ini pada suatu hal di luar individu yang lebih positif. Derefleksi memanfaatkan kemampuan transendensi diri yang ada pada manusia. Dengan teknik ini individu diusahakan untuk membebaskan diri dan tak memperhatikan lagi kondisi yang tidak nyaman untuk kemudian lebih mencurahkan perhatian kepada hal-hal lain yang positif dan bermanfaat. Dengan berusaha mengabaikan keluahannya, kemudian mengalihkannya pada hal-hal yang bermanfaat, gejala, kemudian mengalihkannya pada hal-hal yang bermanfaat, gejala hyper intention akan menghilang (Bastaman, 1995).
- Bimbingan Rohani. Bimbingan rohani adalah metode yang khusus digunakan terhadap pada penanganan kasus dimana individu berada pada penderitaan yang tidak dapat terhindarkan atau dalam suatu keadaan yang tidak dapat dirubahnya dan tidak mampu lagi berbuat selain menghadapinya. Pada metode ini, individu didorong untuk merealisasikan nilai bersikap dengan menunjukkan sikap positif terhadap penderitaanya dalam rangka menemukan makna di balik penderitaan tersebut.
Senin, 03 Maret 2014
TUGAS PORTOFOLIO 1
I. PENGANTAR
1. Pengertian Psikoterapi
psikoterapi adalah proses difokuskan untuk membantu Anda menyembuhkan dan konstruktif belajar lebih banyak bagaimana cara untuk menangani masalah atau isu-isu dalam kehidupan Anda. Hal ini juga dapat menjadi proses yang mendukung ketika akan melalui periode yang sulit atau stres meningkat, seperti memulai karier baru atau akan mengalami perceraian.
Umumnya psikoterapi dianjurkan bila seseorang bergulat dengan kehidupan, masalah hubungan atau kerja atau masalah kesehatan mental tertentu, dan isu-isu atau masalah yang menyebabkan banyak individu yang besar rasa sakit atau marah selama lebih dari beberapa hari. Ada pengecualian untuk aturan umum, tetapi sebagian besar, tidak ada salahnya untuk pergi ke terapi bahkan jika Anda tidak sepenuhnya yakin Anda akan mendapat manfaat dari itu. Jutaan orang mengunjungi psikoterapis setiap tahun, dan sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa orang yang melakukannya manfaat dari interaksi. Kebanyakan terapis juga akan jujur dengan Anda jika mereka yakin Anda tidak akan mendapatkan keuntungan atau pendapat mereka, tidak perlu psikoterapi.
2. tujuan psikoterapi
tujuan dari psikoterapi secara khusus dari beberapa metode dan tekhnik psikoterapi yang banyak peminatnya, dari dua orang tokoh yakni Ivey, et al (1987) dan Corey (1991).
- Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Psikodinamik menurut Ivey, et al (1987) adalah : membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
- Tujuan psikoterapi dengan pendekatam psikoanalisis menurut Corey (1991) dirumuslan sebagai : membuat sesuatu yag tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupakan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
- Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat pada peribadi, menurut Ivey, et al (1987) adalah : untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.
- Tujuan psikoterapi dengan pendekatan behavioristik, dijelaskan oleh Ivey, et al (1987) sebagai berikut : untuk menghilangkan kesalah dalam belajar dan berperilaku dan untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih bisa menyesuaikan. Arah perubahan perilaku yang khusus dilakukan oleh klien. Corey (1991) menjelaskan mengenai hal ini sebagai berikut : Terapi perilaku bertujuan secara umum untuk menghilangkan perilaku yang malasuai (mal adaptive) dan lebih banyak mempelajari perilaku yang efektif.
- Tujuan psikoterapi dengan metode dan teknik Gestalt, dirumuskan oleh Corey, et al (1987) sebagai berikut : Agar seseorang lebih menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang. Corey (1991) merumuskan tujuan Gestalt sebagai berikut : membantu klien memperoleh pemahaman mengenai saat-saat dari pengalamannya. unutk merangsangya meneriama tanggung jawab dari dorongan yang ada di dunia dalamnya yang bertentangan dengan ketergantungannya terhadap dorongan-dorongan dari dunia luar.
3. unsur-unsur psikoterapi
Masserman (1984) melaporkan delapan ‘parameter pengaruh’ dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi, yaitu :
- Peran sosial (martabat)
- Hubungan (persekutuan tarapeutik)
- Hak
- Retrospeksi
- Reduksi
- Rehabilitasi, memperbaiki gangguan perilaku berat
- Resosialisasi,
- Rekapitulasi
4. perbedaan psikoterapi dengan konseling
Psikoterapi: Satu bentuk terapi psikologis. Tetapi pada segi lain, ia menunjuk pada sekelompok terapi psikologis, yaitu suatu rentangan wawasan luas tempat hipnotis pada satu titik dan konseling pada titik lainnya. Dengan demikian, konseling merupakan salah-satu bentuk psikoterapi.
Konseling: Konseling merupakan salah-satu bentuk psikoterapi.
Fokus
Psikoterapi: Lebih berfokus pada konseren atau masalah penyembuhan-penyembuhan-penyesuaian-pengobatan.
Konseling: Lebih berfokus pada konseren, ikhwal, masalah, pengembangan-pendidikan-pencegahan.
Landasan
Psikoterapi: dijalankan berdasarkan ilmu atau teori kepribadian dan psikopatologi.
Konseling: Dijalankan atas dasar atau pandangan terhadap manusia.
Tujuan
Psikoterapi: Mengatasi kelemahan-kelemahan tertentu melalui beberapa cara praktis, mencakup pembedahan psikis dan pembedahan otak.
Konseling: Konselor, pada pihak lain, berurusan dengan identifikasi dan pengembangan kekuatan-kekuatan positif pada individu. Ini dilakukan dengan membantu klien untuk menjadi seorang yang berfungsi secara sempurna. Fully functioning person.
5. pendekatan terhadap mental illines
- Biological, Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin dalam tubuh. Lalu dikembangkan terapi injeksi insulin . juga mulai dikembangkan upaya bedah otak di London.
- Psychological, Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuele pasca-traumatic, kededihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respons emosional penuh stress yang dilimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu. Ini dimulai dari teori psikoanlisis Freud tahun (1856-1939)
- Sosiological, Meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi sosio-budaya tertentu.
- Philosophic, Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yaitu menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.
6. bentuk utama terapi
- Psikoterapi Suportif:
- Mendukung fungsi-fungsi ego, atau memperkuat mekanisme defensi yang ada
- Memperluas mekanisme pengendalian yang dimiliki dengan yang baru dan lebih baik.
- Perbaikan ke suatu keadaan keseimbangan yang lebih adaptif.
Cara atau pendekatan: bimbingan, reassurance, katarsis emosional, hipnosis, desensitisasi, eksternalisasi minat, manipulasi lingkungan, terapi kelompok.
- Psikoterapi Reedukatif, Mengubah pola perilaku dengan meniadakan kebiasaan (habits) tertentu dan membentuk kebiasaan yang lebih menguntungkan.Cara atau pendekatan: Terapi perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, psikodrama.
- Psikoterapi Rekonstruktif, Dicapainya tilikan (insight) akan konflik-konflik nirsadar, dengan usaha untuk mencapai perubahan luas struktur kepribadian seseorang.
II. TERAPI PSIKOANALISIS (SIGMUND FREUD)
1. konsep dasar teori psikoanalisis tentang kepribadian
Menurut Sigmund freud bahwa konsep psikoanalisa adalah konsep tentang ketidaksadaran dalam kepribadian .
Beberapa hakikat manusia menurut freud :
- Anti rasionalisme
- Mendasari tindakannya dengan motivasi yang tak sadar ,konflik dan simbolisme
- Manusia secara esensial bersifat biologis terlahir dengan dorongan-dorongan instruktif sehingga perilaku merupakan fungsi yang bereaksi kea rah dorongan tadi
- Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis sebelumnya
- Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses yang tidak biasa.
2. unsur-unsur terapi
- Munculnya masalah/gangguan, Psikoterapi berupaya untuk memunculkan penyebab masalah atau gangguan itu muncul melalui intervensi yang ditinjau dari lingkungan, kepribadian, faktor ekonomi, afeksi, komunikasi interpesonal dan lain sebagainya. Dengan usaha lebih mengenal penyebab gangguan itu muncul klien dapat memperkuat diri agar terhindar dari resiko yang tinggi dengan modifikasi interaksi terhdap lingkungannya.
- Tujuan psikoterapi : a). Memperkuat motivasi untuk melakukan hal-hal yg benar. b). Mengurangi tekanan emosi melalui kesempatan untuk mengekspresikan perasaan yg mendalam c). Membantu mengembangkan potensi d). Mengubah kebiasaan, memberi kesempatan perubahan perilaku (menyiapkan situasi belajar baru) e). Mengubah struktur kognitif individu f). Meningkatkan pengetahuan & pengambilan keputusan g). Meningkatkan pengetahuan diri atau insight h). Meningkatkan kualitas hubungan sosial i). Mengubah lingkungan sosial f). Mengubah proses somatik supaya mengurangi rasa sakit g). Mengubah status kesadaran untuk mengembangkan kesadaran, kontrol dan kreativitas diri
- Peran terapis, Goodstein (1972) juga menyebut peran terapis sebagai pemberi perkuatan. Menurut Goodstein (hlm. 274), “peran konselor adalah menunjang perkembangan tingkah laku yang secara sosial layak dengan secara sisternatis memperkuat jenis tingkah laku klien semacam itu”. Minat perhatian, dan persetujuan (ataupun ketidakberminatan dan ketidaksetujuan) terapis adalah penguat – penguat yang hebat bagi tingkah laku klien. Penguat – penguat tersebut bersifat interpersonal dan melibatkan bahasa, baik verbal maupun nonverbal, serta acap kali tanpa peran mengendalikan tingkah laku klien yang dimainkan oleh terapis melalui perkuatan menjangkau situasi di luar konseling serta dimasukkan ke dalam tingkah laku klien dalam dunia nyata: “Konselor mengganjar respons – respons tertentu yang dilaporkan telah ditampilkan oleh klien dalam situasi – situasi kehidupan nyatan dan menghukum respons – respons yang lainnya. Ganjaran – ganjaran itu adalah persetujuan, minat, dan kepribadian. Perkuatan semacam itu penting terutama pada periode ketika klien mencoba respons – respons atau tingkah laku baru yang belum secara tetap diberi perkuatan oleh orang lain dalam kehidupan klien” (Goodstein, hlm. 275). Salah satu penyebab munculnya hasil yang tidak memuaskan adalah bahwa terapis tidak cukup memperkuat tingkah laku baru dikembangkan oleh klien satu fungsi penting lainnya adalah peran terapis sebagai model bagi klien. Bandura (19(9) menunjukkan bahwa sebagian besar proses belajar yang muncul melalui pengalaman langsung juga bisa diperoleh melalui pengamatan terhadap tingkah laku orang lain. Ia mengungkapkan bahwa salah satu prose fundamental yang memungkinkan klien bisa mempelajari tingkah laku, baru adalah imitasi atau percontohan sosial yang disajikan oleh terapis. Terapis sebagai pribadi menjadi model yang penting bagi klien. Karena klien sering memandang terapis sebagai orang yang patut diteladani, klien acap kali meniru sikap – sikap, nilai – nilai, kepercayaan – kepercayaan, dan tingkah laku terapis. Jadi, terapis harus menyadari peranan penting yang dimainkan dalam proses identifikasi. Bagi terapi, tidak menyadari kekuatan yang dimilikinya dalam memperkuat dan membentuk cara berfikir dan bertindak kliennya, berarti mengabaikan arti penting kepribadiannya sendiri dalam proses terapi.
3. teknik-teknik terapi
- Free association, salah satu alat untuk “open the door” ke : keinginan, fantasi, pikiran, perasaan, konflik, motivasi yang tidak disadari. prosedur : a). pasien rileks duduk / berbaring di sofa (“couch”) b.)mengatakan apapun yang ada di pikiran (tanpa sensor). (diinterpretasi sbg ekspresi simbolik dari pikiran2 & perasaan2 yg direpres) tugas terapis : mendengarkan, mencatat, menganalisis /menginterpretasi bahan yang direpres, memberitahu / membimbing pasien memperoleh insight (dinamika yang mendasari perilaku yang tidak disadari)
- analysis of transference, pasien “displace” perasaan2 (love/hate) terhadap significant other (seringkali orang tua), kepada terapis terjadi ketika muncul konflik/ kebutuhan /dorongan masa lalu (cinta, benci, seksualitas, penolakan) & dibawa ke masa sekarang (terhadap terapis). tugas terapis : menginterpretasi/menganalisis, membuat pasien memperoleh insight (dapat membedakan fantasi – realitas, masa lalu – sekarang, menyadari dorongan2 yang tidak disadarinya), membantu pasien mengatasi konflik2 lama yang menghambat dirinya (mampu : mengatasi mispersepsi, mis-interpretasi, mengevaluasi kecemasan / dorongan yang tidak realistik, membuat keputusan yang realistik & matang).
- analisis resisten, sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas dan analisis mimpi, klien dapat menunjukkan ketidaksediaanuntukmenghubungkanpikiran,perasaan,dan pengalaman tertentu. Freud memandang bahwa resistensi dianggap sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagaipertahanan terhadap kecemasanyang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkatjika klien menjadi sadar atas dorongan atau perasaan yang direpres tersebut (Corey, 1995). Dalam proses terapi, resistensi bukanlah sesuatu yang harus diatasi, karena merupakan perwujudan dari pertahanan klien yang biasanya dilakukan sehari-hari. Resistensi ini dapat dilihat sebagai sarana untuk bertahan klien terhadap kecemasan, meski sebenamya menghambat kemampuannya untuk menghadapi hidup yang lebih memuaskan (Corey, 1995).
- dream analysis, mimpi -à “royal road” to the unconscious: membuka bahan2 (keinginan, dorongan) / masalah2 yg tidak disadari, sebagai “symbolic wishfulfillment”. Proses : tidur — MPE (terutama represi) lemah — dalam mimpi : muncul ke permukaan / keluar halus (simbol) — diceritakan
Langganan:
Postingan (Atom)