apa yang dicari dalam pekerjaan?
Yang dicari dalam pekerjaan adalah dimana bagian dari sebuah perencanaan besar atau bahwa pekerjaan itu menuju proses terwujudnya suatu yang besar.
Kalian mungkin berkata bahwa apa yang orang cari pada pekerjaan itu semuanya tergantung pada kemauan orang itu sendiri dan ada beberapa fakta mengenai ini. Tapi Daniel Yankelovich menemukan sebuah consensus yang berharga dari jawaban atas pertanyaan yang menyilang terhadap para pekerja termasuk kerah-bur dan kerah-putih dan para professional. Dua frekuensi tertinggi memberikan respon “ kerja itu menarik” dan memiliki “ rekan kerja yang ramah tamah” dengan masing-masing responden memberikan 70% pendapat dari pada pekerja. Di ikuti dengan 2 tambahan jawaban dalam melakukan pekerjaan yang berarti disebut sebagai “kesempatan untuk menggunakan pikiran anda” dan “ hasil kerja yang anda bisa lihat”- memberikan 65-62% dari masing-masing pendapat para pekerja. Sementara upah yang bagus berada di urutan ke-5 dari peringkat “ yang diberikan oleh 62% pekerja). Pekerja berkerah-biru member banyak tekanan pada uang. Dan para professional member sedikit tekanan pada uang, dengan pekerja berkerah-putih berada diantara keduanya.
Hasil yang serupa ditemukan pada survey mahasiswa baru, pada kelas 8 ketika ditanya tingkat apa yang paling penting dalam kepuasan bekerja, 5 kriteria teratas secara menurun menajadi kegiatan yang menarik untuk dilakukan. Menggunakan keahlian dan kemampuan. Berpeluang bagus dalam periklanan, masa depan yang terjamin, dan hasil yang nyata. Upah yang baik menempati urutan ke-8. Oenyda yang tidak kuliah memberikan respon yang serupa kecual mereka lebih memntingkan upah yang baik menempati posisi 8 (Bachman,Johnson,1979)
Responden pada survey psikologi hari ini termasuk kebanyakan dewasa alwal dan pekerja berpendidikan membuat perbedaan yang tajam antara apa yang merka suka tentang pekerjaan mereka dan apa pemikiran yang paling penting mengenai pekerjaan secara umum. seperti yang di ditunjukkan pada table 9.1. Aspek yang paling memuaskan dalam bekerja seperti keramah tamahan sesame rekan kerja. Kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan pekerjaan, dan kehormatan yang diterima oleh rekan sepekerjaan. Di lain pihak, aspek yang paling penting dalam melakukan pekerjaan adalah berkaitan dengan pertumbuhan pribadi atau aktualisasi diri. Termasuk kesempatan untuk melakukan sesuatu yang membuat diri sendiri senang melakukannya. Sesuatu yang berharga dan mempelajari hal yang baru. Aktualisasi ini lebih pentung daripada uang. Ketika responden tertekan pada kabar apapun mereka akan menerima pekerjaan berupah lebih tinggi yang mana kurang menarik. Hampir 2/3 responden mengatakan tidak rela. Di lain pihak, hampir setengah (46%) dari responden tidak akan menerima pekerjaan yang lebih menarik jika upahnya kurang dari pekerjaan yang mereka miliki saat ini. Bagaimanapun, hampir kebanyakan responden (41%) ihklas untuk melakukan pertukaran, mereka yang setidaknya ikhlas untuk memtong upahnya adalah wanita yang sudah bercerai (55%), pria yang sudah menikah (49%), Janda (47%) dan perempuan yang hidup dengan seseorang (47%) (Renvick, Lawler,1976).
Fungsi psikologis dari pekerjaan?
Fungsi psikologinya yaitu : Meskipun apa kata orang tentang memiliki pekeraan untuk hidup. Itu mungkin jelas sekarang bahwa setiap orang bekerja keras untuk uangnya sendiri. Survei membuktikan kebanyakan orang akan melanjutkan pekerjaanya bahkan jika mereka memiliki cukup uang untuk hidup nyaman seumur hidupnya (Renwick&Lawler,1978). Kenyataanya adalah bekerja itu meenuhi kebutuhan psikologis dan social yang penting. Rasa pemenuhan pribadi, orang membutuhkan perasaan kalau mereka tumbuh, mempelajarai keahlian baru, dan mencapai sesuatu yang berharga ketika perasaan ini kurang, mereka mungkin pindah ke pekerjaan yang menjanjikan pencapaian yang lebih atau hasil yang jelas. Contohnya, seorang individu yang pekerjaanya terarah mungkin meninggalkan meja untuk bekerja menjual barang atau konstruksi. Bahkan orang yang sudah mendapatkan banyak uang tidak akan mau mengurangi waktu dan energy yang di habiskan oleh pekerjaan mereka.kemampuan karena kebutuhan akan penghargaan dan penguasaan (Morgan,1972).
II. Fase-fase dalam memilih pekerjaan
Fase-fase dalam pekejaan adalah Orang denderung mengidentifikasi dengan apa yang mereka lakukan. Bagaimana seiring kalian mendengar seseorang memperkenalakan dirinya dengan berkata “saya bekerja untuk IBM” atau “ saya seorang suster”. Studs Tarket (1972) menemukan bahwa pekerjaan mereka membosankan,pekerjaan mekanis yang sering membuat mereka merasa menjadi “mekanik”, atau “robot”. Dilain pihak, mereka tertarik pada tantangan dan pemenuhan pekerjaan pada seni atau profesi yang menunjukan tujuan hidup mereka, biasanya sebagai hasil dari pekerjaan yang mereka lakukan.
III. Hubunga antara karakteristik pribadi dengan karakteristik pekerjaan dalam memilih pekerjaan yg cocok
3.1 Karakteristik pribadi
Sebuah awal yang bagus adalah memilih ketertarikan apa yang kamu punya pada diri sendiri dan kemampuan. Kalian adalah sebuah gabungan unik dari sifat pribadi,ketertarikan,keahlian dan harga. Semakin baik yang kalian dapat ketahui mengenai diri kalian sendiri maka lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.
Apa yang paling membuat anda tertarik. data atau sesuatu? pelajaran apa yang paling anda sukai di sekolah? Kegiatan Ekstrakurikuler apa yang anda sukai? Bagaimana dengan kerja paruh waktu? Coba temukan mengenai apa pekerjaan tersebut yang membuat mereka tertarik kepada anda. Apakah itu kegiatanya sendiri? Atau orang-orang didalamnya?
Bagaimana dengan kemampuan anda? Apa pekerjaan terbaik yang anda bisa lakukan?yang paling anda kuasai? tidak peduli berapa banyak kemampuan yang anda miliki. Penting untuk menyadari bahwa masing-masing dari kita berkualitas untuk banyak kedudukan yang berbeda.tidak hanya satu. Seperti olahraga athletic termasuk terbatas untuk sejumlah orang yang memiliki otot dan keahlian. Jadi kebanyakan pekerjaan memerlukan hanya beberapa keahlian spesifik atau karakteristik. Rahasianya terletak pada menemukan jenis pekerjaan yang memerlukan kekuatan tertentu yang anda miliki.
Untuk memperluas kedua ketertarikan dan bakat kalian akan berubah dengan pengalaman dan waktu. Penelitian sudah menunjukkan kategori ketertarikan yang luas, seperti pada bidang obat-obatan. teknik atau bisnis, tetap stabil dari para remaja.(Campbell,1971). Jika kalian menyukai sesuatu pada saat anda belasan dan awal 20, kesempatan yang sama akan kalian sukai pada tahun-tahun selanjutnya.
Mungkin kalian pernah mendengar seseorang mengambil sebuah tes psikologi untuk membantu pemilihan karir. Sebenarnya, kebanyakan dari persediaan ketertarikan anda daripada sebuah test biasa. Saat ini, satu dari kebanyakan menggunakan instrument tes adalah Strong-Campbell Interest Inventory (SCII) yang mana menggabungkan banyak item dari versi awalnya Strong Inventory for males and females dengan menghilangkan item yang berdasarkan jenis kelamin. hasilnya, yang mana biasanya dibagi secara terbuka dengan individu, menunjukan bagaimana ketertarikan seorang individu dibandingkan dengan orang-orang lain yang memiliki kedudukan yang berbeda.
Apakah tes ketertarikan tersebut membantu anda membuat keputusan yang tepat pada pemilihan kerja? Semua tergantung dari bagaimana kita menggunakanya. Jika kalian mengandalkan hasil tersebut sebagai sebuah pengganti untuk membuat keputusan pribadi, maka jawabanya akan negative. Tapi jika kalian menggunakan hasil tersebut sebagai sebuah sumber untuk mengklarifikasi ketertarikan kalian dalam rangka untuk membuat sebuah keputusan,maka jawabanya pasti positif. Seperti halnya instrument yang menunjukan reliabilitas yang besar dalam memprediksi apa seorang individu akan bersikeras atau keluar dari bidang pekerjaan tersebut. Mereka tidak bisa memprediksi kesuksesan pada bidang yang diberikan karena kebanyak faktor subjektif terlibat didalamnya. Tapi sudah itemukan bahwa apa yang membuat berhasil biasanya mendemonstrasikan lebih tinggi daripada rata-rata skor ketertarikan, sementara siapa yang akan keluar nanti biasanya lebih rendah daripada rata-rata skor (Shertzer,1981)
3.2 karakteristik pekerjaan
Sekali anda memulai menjelajahi ketertarikan anda sendiri,kemampuan,dan nilai, kalian siap untuk mencari pekerjaan yang cocok dengan karakteristik pribadi anda. Dengan lebih dari 20.000 pekerjaan yang berbeda untuk dipilih,ini bukanlah tugas mudah. Untungnyam ada sumber buku untuk membati pencarian tersebut. Seperti yang banyak digunakan Dictionary of Occupational (DOT) dan Occupational Outlook Hand-book. Kedua buku direvisi secara teratur oleh pemerintah percetakan. Sebagai tambahan, berbagai macam pekerjaan sudah teratur pada dasar keluarga ataukelompok dari pekerjaan yang terkait. Masing-masing kelompok menunjukan tokoh 9-1 berisi ratusan pekerjaan yang terdekat. Contohnya, bidang kesehatan termasuk sejumlah besar pekerja kesehatan-dokter,perawat,apoteker, dokter gigi,kebersihan gigi,hanya untuk beberapa nama. Ini sering membantu memilih 2 dari 3 pekerjaan kelompok yang kalian paling tertarikm dan mulai menelusuri beberapa pekerjaan spesifik pada kelompoknya.
Sebuah perangkat yang membantu untuk menemukan pekerjaan yang paling cocok untuk kamu adalah John Holland’s Self Directied Search For Vocational Planning. Yang mana dapat dikelola sendiri. Ini berdasarkan dari kenyataan bahwa manusia di bidang pekerjaan yang samasering memiliki sifat yang mirip,ketertarikan dan kebiasaan dalam melakukan sesuatu. Holland (1973) menggambarkan 6 dari jenis kepribadian bersama dengan lingkungan kerja mereka yang baik. Setelah mencocokan sejumlah kegiatan,ketertarikan dan perkiraan kemampuan anda sendiri, kalian menjumblahkan item untuk menemukan 3 jenis kepribadian yang paling menyerupai.kemudian pada pekerjaan yang terpisah penemu buklet, kalian mencocokan berbagai jenis kepribadian digabungkan dengan beberapa pekerjaan yang cocok. O’connel dan Sedlacek (1972) sudah menemukan Self-Directed search lebih handal dan sedikit membantu untuk perencanaan ketertarikan jurusan.
IV. Kepuasan kerja dan penyesuaian diri dalam pekerjaan
Pengertian Kepuasan Kerja
Locke mengatakan kepuasan kerja ialah “the appraisal of one’s job as attaining or allowing the attainment of one’s important job values, providing these values are congruent with or help fulfill one’s basic needs (Munandar, 2008 ).” Secara singkat dikatakan bahwa tenaga kerja yang puas dengan pekerjaannya merasa senang dengan pekerjaannya.
Howell dan Dipboye(1986) dalam Munandar (2008) memandang kepuasan kerja sebagai hasil keseluruhan dari derajat rasa suka atau tidak sukanya tenaga kerja terhadap berbagai aspek dari pekerjaannya.
Wexley &Yulk (1977) dalam As’ad ( 2008 ) kepuasan kerja ialah “is the way an employee feels about his her job”. Maksudnya adalah kepuasan kerja sebagai “perasaan seseorang terhadap pekerjaan”. Kemudian oleh Vroom (1964) dikatakan sebagai “refleksi dari job attitude yang bernilai positif”.
Kepuasan kerja merupakan penilaian dari pekerja yaitu seberapa jauh pekerjaannya secara keseluruhan memuaskan kebutuhannya. (Hoppeck dalam As’ad, 2008)
Tiffin (1958) berpendapat bahwa kepuasan kerja berhubungan erat dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaannya sendiri, situasi kerja, kerjasama antara peminpin dengan sesama karyawan. Kemudian Blum (1956) mengemukakan bahwa kepuasan kerja merupakan sikap umum yang merupakan hasil dari beberapa sikap khusus terhadap faktor-faktor pekerjaan, penyesuaian diri dan hubungan social individual di luar kerja (As’ad, 2008).
Dari penjelasan di atas penulis menyimpulkan bahwa kepuasan kerja merupakan perasaan dan sikap positif karyawan terhadap pekerjaannya, karena apa yang telah dicapai sesuai dengan harapan karyawan, serta adanya penyesuaian diri karyawan dengan lingkungan kerja. Dari berbagai definisi para tokoh, saya akan menggunakan definisi kepuasan kerja dari Tiffin, karena definisi ini yang paling mendekati dan sesuai dengan penelitian saya.
Teori-Teori Kepuasan Kerja :
- Discrepancy Theory --> Porter (1961) dalam As’ad (2008) mengukur kepuasan kerja seseorang dengan menghitung selisih antara apa yang seharusnya dengan kenyataannya yang dirasakan (difference between how much of something there should be and how much there “is now”. Locke (1989) menerangkan bahwa kepuasan kerja seseorang bergantung kepada discrepancy antara should be (ecpectation, need, atau values) dengan apa yang menurut perasaannya atau persepsinya telah diperoleh atau dicapai melalui pekerjaan. Dengan demikian, orang akan merasa puas bila tidak ada perbedaan antara yang diinginkan dengan persepsinya atas kenyataan, karena batas minimum yang diinginkan telah terpenuhi. Bila yang didapat ternyata lebih besar daripada yang diinginkan, maka orang akan menjadi lebih puas lagi walaupun terdapat discrepancy, tetapi merupakan discrepancy positif. Sebaiknya semakin jauh kenyataan yang dirasakan itu di bawah standar minimum sehingga menjadi negative discrepancy, maka makin besar pula ketidakpuasan seseorang terhadap pekerjaan.
- Equity Theory --> Prinsip teori ini adalah bahwa orag akan merasa puas atau tidak puas, tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan (equity) atau tidak atas suatu situasi. Perasaan equity dan inequity atas suatu situasi, diperoleh orang dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain yang sekelas, sekantor maupun di tempat lain. Elemen-elemen equity ada tiga yaitu (Wexley & Yulk (1977) dalam As’ad (2008)) : a). input, Input adalah “is anything of value that an amployee perceives that the contributes to his her job.” Artinya ialah segala sesuatu yang berharga yang dirasakan karyawan sebagai sumbangan terhadap peerjaan. Dalam hal ini misalnya education, experience, skills, amount of effort expected, number of hours worked, and personal tools dan sebagainya. b). Out comes, Out comes ialah “is anything of value that the employee perceives he obtains from the job.” Artinya adalah segala sesuatu yang berharga, yang dirasakan karyawan sebagai “hasil” dari pekerjaannya seperti misalnya pay, fringe benefits, status symbols, recognition, opportunity for achievement or self-expression. c). Comparison persons, Comparisoan persons ialah kepada orang lain dengan siapa karyawan membandingkan rasio input-out comes yang dimilikinya. Comparison persons ini bisa berupa seseorang di perusahaan yang sama, atau di tempat lain, atau bisa pula dengan dirinya sendiri di waktu lampau. Menurut teori ini setiap karyawan akan membandingkan ratio-out comes dirinya dengan ratio-out comes orang lain. Bila perbandingan itu dianggapnya cukup adil (equity), maka ia akan merasa puas. Bila perbandingan itu tidak seimbang tetapi menguntungkan (over compensation in-equity), bisa menimbulkan kepuasan tetapi bisa pula tidak (misalnya pada orang yang moralis). Tetapi bila perbandingan itu tidak seimbang dan merugikan (under compensation in-equity), akan timbul ketidakpuasan (wexley & Yukl, 1977).
- Two Factor Theory --> Prinsip teori ini ialah bahwa kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja itu merupakan dua hal yang berbeda (Herzberg, 1966). Artinya kepuasan dan ketidakpuasan terhadap pekerjaan itu tidak merupakan suatu variabel yang kontinyu. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Herzberg (1959). Berdasarkan atas hasil penelitian beliau, membagi situasi yang mempengaruhi sikap seseorang terhadap pekerjaannya menjadi dua kelompok, yaitu : kelompok satisfiers atau motivator dan kelompok dissatisfies atau hygiene factors. Satisfiers (motivator) ialah faktor-faktor atau situasi yang dibuktikannya sebagai sumber kepuasan kerja yang terdiri dari “Achievement, recognition, work it self, responsibility and advancement. Dikatakannya bahwa hadirnya factor ini akan menimbulkan kepuasan, tetapi tidak hadirnya factor ini tidaklah selalu mengakibatkan ketidakpuasan. Dissatisfiers (hygiene factors) ialah faktor-faktor yang terbukti menjadi sumber ketidakpuasan, yang terdiri dari company policy and administration, supervision technical, salary, interpersonal relations, working condition, job security andstatus (Wexley& Jukl, 1977). Perbaikan terhadap kondisi atas situasi ini akan mengurangi atau menghilangkan ketidakpuasan, tetapi tidak akan menimbulkan kepuasan karena ia bukan sumber kepuasan kerja. Jadi, perbaikan salary dan working conditions tidak akan menimbulkan kepuasan tetapi hanya mengurangi ketidakpuasan.
Faktor-Faktor Kepuasan Kerja
Harold E. Burt (dalam As’ad , 2008) mengemukakan pendapatnya tentang factor-faktor yang dapat menimbulkan kepuasan kerja. Factor- factor tersebut adalah :
- Factor hubungan antar karyawan, antara lain :
1. Hubungan antara manager dengan karyawan
2. Factor fisis dan kondisi kerja
3. Hubungan social di antara karyawan
4. Sugesti dari teman sekerja
5. Emosi dan situasi kerja
- Factor individual, yaitu yang berhubungan dengan :
1. Sikap orang terhadap pekerjaannya
2. Umur orang sewaktu bekerja
3. Jenis kelamin (pernah dilakukan penelitian oleh Lawler, 1973, dikutip oleh Wexley & Yukl, 1979)
- Factor-faktor luar (extern), yang berhubungan dengan :
1. Keadaan keluarga karyawan
2. Rekreasi
3. Pendidikan (training, up grading dan sebagainya)
Menurut Sagala dan Rivai (2009), factor-faktor yang biasanya digunakan untuk mengukur kepuasan kerja seorang karyawan adalah :
- Isi pekerjaan, penampilan tugas pekerjaan yang actual dan sebagai control terhadap pekerjaan
- Supervise
- Organisasi dan manjemen
- Kesempatan untuk maju
- Gaji dan keuntungan dalam financial lainnya seperti adanya insentif
- Rekan kerja
- Kondisi pekerjaan
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Gilmer (1966) dalam As’ad (2008) sebagai berikut :
- Kesempatan untuk maju. Dalam hal ini ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan peningkatan kemampuan selama kerja.
- Keamanan kerja. Factor ini serong disebut sebagai penunjang kepuasan kerja, baik bagi karyawan pria maupun wanita. Keadaan yang aman sangat mempengaruhi perasaan karyawan selama kerja.
- Gaji. Gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan dan jarang orang mengekspresikan kepuasna kerjanya dengan sejumlah uang yang diperolehnya.
- Perusahaan dan manajemen. Perusahaan dan manajemen yang baik adalah yang mampu memberikan situasi dan kondisi kerja yang stabil. Factor ini yang menentukan kepuasan kerja karyawan.
- Pengawasan (supervisi). Bagi karyawan, supervisor dianggap sebagai figure ayah dan sekaligus atasannya. Supervise yang buruk dapat berakibat absensi dan turn over.
- Factor intrinsic dari pekerjaan. Atribut yang ada pada pekerjaan mensyaratkan ketrampilan tertentu. Sukar dan mudahnya serta kebanggaan akan tugas akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan.
- Kondisi kerja. Termasuk disini adalah kondisi tempat, vertical, penyinaran, kantin, dan tempat parkir.
- Aspek social dalam pekerjaan. Merupakan salah satu sikap yang sulit digambarkan tetapi dipandang sebagai factor yang menunjang puas atau tidak puas dalam kerja.
- Komunikasi. Komunikasi yang lancer antar karyawna dengan pihak manajemen banyak dipakai alasan untuk menyukai jabatannya. Dalam hal ini adanya kesediaan pihak atasan untuk mau mendengar, memahami dan mengakui pendapat ataupun prestasi karyawannya sangat berperan dalam menimbulkan rasa puas terhadap kerja.
- Fasilitas. Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pension, atau perumahan merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa cemas.
Dampak Dari Kepuasan Dan Ketidakpuasan Kerja
- Dampak Terhadap Produktivitas, Terdapat pandangan bahwa kepuasan kerja merupakan akibat, bukan sebab dari produktivitas. Lawler dan Porter (dalam Munandar, 2001) menjelaskan bahwa produktivitas yang tinggi menyebabkan peningkatan kepuasan kerja hanya jika tenaga kerja mempersepsikan bahwa ganjaran intrinsic (misalnya perasaan telah mencapai sesuatu) dan ganjaran ekstrinsik (misalnya gaji) yang diterima secara adil dan wajar diasosiasikan sebagai unjuk kerja yang unggul. Sebaliknya, jika tenaga kerja tidak mempersepsikan ganjaran instrinsik dan ekstrinsik berasosiasi terhadap unjuk kerja, maka kenaikan dalam unjuk kerja tidak akan berhubungan dengan kenaikan dalam kepuasan kerja (dalam Munandar, 2001)
- Dampak Terhadap Kehadiran (Absenteisme) Dan Keluarnya Tenaga Kerja (Turnover), Porter dan Steers (dalam Munandar, 2008) menyimpulkan bahwa ketidakhadiran dan berhenti bekerja merupakan jawaban yang berbeda secara kualitatif, ketidakhadiran bersifat lebih spontan dan tidak mencerminkan ketidakpuasan kerja, sebaliknya berhenti atau keluar dari pekerjaan mempunyai akibat ekonomis yang besar, maka lebih besar kemungkinannya memiliki hubungan terhadap ketidakpuasan kerja.
Menurut Robbins (dalam Munandar, 2001) ketidakpuasan tenaga kerja dapat diungkapkan dengan empat cara.
- Keluar (exit) merupakan ketidakpuasan kerja yang diungkapkan dengan meninggalkan pekerjaan yaitu, mencari pekerjaan lain.
- Menyuarakan (voice) merupakan ketidakpuasan yang diungkapkan melalui usaha aktif dan konstruktif untuk memperbaiki kondisi seperti, memberikan saran perbaikan, mendiskusikan masalah dengan atasannya.
- Mengabaikan (Neglect) merupakan ketidakpuasan yang diungkapkan melalui sikap membiarkan keadaan menjadi lebih buruk, seperti terlambat.
- Kesetiaan (loyality) merupakan ketidakpuasan yang diungkapkan dengan menunggu secara pasif sampai kondisinya menjadi lebih baik.
- Dampak Terhadap Kesehatan, Terdapat bukti bahwa kepuasan kerja berhubungan dengan kesehatan fisik dan mental. Tingkat dari kepuasan kerja berhubungan dengan kesehatan, sehingga penngkatan dari yag satu dapat meningkatkan yang lain dan sebaliknya penurunan yang atu mempunyai akibat yang negative juga pada yang lain (dalam Munandar, 2001).
V. Bagaimana mengisi waktu luang dengan cara positf?
Kata Thomas Edison: Waktu adalah satu-satunya modal yang dimiliki oleh manusia, dan ia tidak boleh sampai kehilangan waktu.
Meluangkan waktu itu ternyata penting dan banyak cara/kegiatan positif yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang. Misalnya olahraga, jalan-jalan, melakukan hobby, atau ngeblog. Selain itu, mengisi waktu luang setelah kesibukan yang mendera ibarat bayaran dari pekerjaan itu sendiri.
Kita tidak pernah menduga kalau kegiatan yang dilakukan di saat waktu luang bisa juga menghasilkan atau mendapat penghargaan. Siapa yang tahu kalau suatu saat nanti, kegiatan yang dilakukan di waktu luang, bisa menjadi penghasilan terbesar.
Dan, bagaimana kita bisa punya waktu luang di sela-sela kesibukan dengan mengaturnya sebaik mungkin? Berikut ini tips dan triknya:
- Jangan pernah terjebak dgn waktu. Bukan waktu yg mengatur kita, tapi kitalah yang mengatur waktu,
- Coba sesuatu yang baru yang tidak menyita waktu kerja. Misalnya dengan menulis di smartphone yang kita miliki
- Tentukan prioritas. Dengan prioritas bisa diketahui mana yang mendesak, mana yang kurang. Tanpa prioritas, waktu terbuang percuma.
- Buat yang super sibuk, buatlah agenda yang harus ditaati. Masukkan waktu bekerja, waktu untuk keluarga, dan waktu untuk diri sendiri.
- Pastikan dalam agenda, 50 persen waktu yang dilakukan adalah untuk kegiatan positif atau produktif.
- Jangan melakukan pekerjaan/hal yang lain sebelum menuntaskan pekerjaan yang lebih dulu dilakukan. Yang ada keduanya berantakan.
- Jika tidak berhubungan dgn pekerjaan, jauhkan diri dari sosial media, hingga pekerjaan tuntas diselesaikan
![]()
Menggunakan waktu dengan bijak, maka tidak ada istilah tidak punya waktu luang! Tidak ada waktu yang terbuang percuma.
Kata Stephen R. Covey: Kuncinya terletak bukan pada bagaimana Anda menghabiskan waktu, namun dalam menginvestasikan waktu Anda. Melakukan dua hal bersamaan sama artinya dengan tidak melakukan sesuatu.
Jika merasa jenuh dengan waktu yang telah dihabiskan, ubah kebiasaan itu. Manfaatkanlah waktu luang.
B. SELF DIRECTED
Self-directed changes adalah sebuah teori yang mengajarkan tentang bagaimana kita bisa mengubah diri kearah yang lebih baik dari kenyataan hidup yang kurang mendukung.
Kalau kita tidak bisa mengantisipasi perubahan, maka kita perlu menjadikan perubahan itu sebagai dorngan untuk mengubah diri.
Bagaimana caranya???
Mudah-mudah saja kok! Menurut SDCT (Self-Directed Change Theory) ada 3 cara, yaitu sebagai berikut:
- Yang pertama, kita perlu memunculkan rasa tidak puas terhadap kondisi aktual yan kita hadapi saat ini (actual),
- Yang kedua, kita perlu memiliki gambaran yang jelas tentang kondisi ideal ang kita inginkan (ideal),
- Yang ketiga, kita perlu memiliki konsep yang jelas tentang apa yang bisa kita lakukan untuk bergerak dari kondisi aktual menuju kondisi ideal (Action Step)
Tiga langkah di atas harus berupa satu rangkaian yang tak terpisah. Jika sampai terpisah, akibatnya malah akan jelek. Misalnya, kita tidak puas dengan keadaan sekarang, tetapi rasa itu tidak kita gunakan untuk memunculkan gambaran yang jelas tentang keadaan yang kita inginkan dan tidak pula kita gunakan untuk mendorong mendorong aksi, apa kira-kira yang akan terjadi? Yang paling berpotensi akan terjadi adalah akan muncul konflik-diri. tapi sebaliknya, jika kita sanggup mengelola ketidakpuasan itu menjadi dorongan untuk mendinamiskan batin, pasti hasilnya jauh lebih baik.
Self Directed Change meliliki beberapa tahapan, diantaranya:
- Meningkatkan Kontrol Diri --> Meningkatkan control diri yaitu, Kontrol diri berkaitan dengan bagaimana cara seseorang mengendalikan emosi serta dorongan-dorongan dalam dirinya (Harlock). Ketika seseorang ingin merubah kebiasaannya terhadap perbedaan yang besar. Contohnya: misalnya seorang perokok berat yang ingin lepas dari kebiasaannya merokok.
- Menetapkan Tujuan --> Menetapkan tujuan adalah mengubah hal yang buruk menjadi lebih baik lagi. Kita harus menetapkan target unutk mempunyai hidup yang lebih baik lagi. Contoh: kita harus menahan keinginan kita untuk merokok mungkin kita bisa mengganti rokok dengan permen-permen pengganti rokok, dan sebagainya.
- Pencatatan Perilaku --> Pencatatan perilaku maksudnya adalah kita mencatat hal apa saja yang bisa di rubah dari kebiasaan kita. Contoh: misalnya jika kita mempunyai kebiasaan merokok, catat hal-hal apa saja yang mungkin mengganggu kita untuk tidak merokok. Misalnya dengan menhindari teman yang sedang merokok. Mungkin akan membantu kita untuk mempermudah godaan-godaan yang datang.
- Menyaring Anteseden Perilaku --> Menyaring anteseden perilaku adalah menuliskan kebiasaan-kebiasaan yang ingin kita perbaiki. Contoh: selain merokok, misalnya kita sering meminum minuman keras. Lalu kita tuliskan kebiasan tersebut untuk di ubah menjadi lebih baik. Dari situ mungkin kita akan berpikir sebenarnya selama ini baik atau burukkah kebiasaan tersebut untuk kesehatan kita.
- Menyusun Konsekuensi Yang Efektif --> Jika kita sudah berhasil mengontrol kondisi yang memicu kebiasaan kita, kita perlu meningkatkan meningkatkan pengendalian diri, mengatur konsekuensi dari perilaku kita sehingga orang lain dapat menerimanya.
- Menerapkan Pencana Intervenesi --> Membandingkan seberapa berhasil kita mencapai tujuan-tujuan yang kita kehendaki. Misalnya, menghitung berapa batang atau bungkus rokok yang di hisap dari sebelum kita menerapkan tahapan-tahapan ini sampai sudah menerapkan tahapan ini.
- Evaluasi --> Evaluasi adalah, melihat berapa besar kemajuan yang sudah kita lakukan untuk perubahan yang lebih baik. Pastikan setiap tahapan terpenuhi. Jika memang ada tahapan yang belum bisa terpenuhi lebih baik kita mengulang tahapan-tahapan tersebut agar tujuan dapat tercapai dengan baik.
- Cara meningkatan kontrol diri --> Dalam perkembangan kontrol-diri, beberapa ahli menganggap bahwa pada usia remaja kontrol-diri sudah mencapai akhir perkembangan, penelitian membuktikan bahwa kontrol-diri yang rendah pada masa remaja berhubungan dengan kontrol-diri yang rendah pula pada masa dewasa.
Namun ahli lain mengatakan bahwa kontrol-diri dapat berkembang sepanjang kehidupan.
Seperti yang dilaporkan oleh Fujita dkk,kontrol-diri dapat ditingkatkan melalui beberapa cara berfikir yang saling berhubungan :
- Global Processing, mencoba fokus pada gambaran besar dari tujuan hidup atau cita-cita kita, sehingga setiap kegiatan atau tindakan kita dilihat sebagai bagian dari pencapaian tujuan akhir.
- Abstrac listening, mencoba menolak detil-detil dalam situasi khusus untuk membawa kita berfikir bagaimana tindakan kita sesuai dengan rencana kerja kita secara keseluruhan. Contohnya : seseorang mungkin harus mengurangi berfikir tentang detil-detil beratnya latihan fisik tetapi mencoba untuk fokus pada gambaran fisik yang ideal yang akan dicapai bila dia tetap menjalankan latihan dengan baik.
- High-level categorization, berfikir tentang konsep tingkat tinggi daripada keadaan yang khusus atau sesaat. Katagorisasi tugas dapat membantu kita untuk mengatur fokus dan mencapai disiplin-diri yang lebih besar.
Beberapa hal diatas dapat diterapkan pada banyak situasi dimana pada saat itu dibutuhkan kontrol-diri.
Pendek kata ketiga cara berfikir diatas adalah cara yang berbeda untuk mengatakan hal yang sama yaitu : berfikir global, obyektif dan abstak , sehingga peningkatan kontrol-diri akan mengikuti kemudian.
II. Cara menetapkan suatu tujuan
Kita semua memiliki hal-hal yang ingin kita capai dalam hidup dan, untuk sebagian besar, kami melakukan yang terbaik untuk mencapai Tujuantersebut. Kadang-kadang, bagaimanapun, kami berhasil menetapkan tujuan yang tidak efektif atau dicapai dan ini dapat menyebabkan kita banyak perselisihan.
Bagaimana Anda tahu jika tujuan Anda adalah efektif dan dapat dicapai?
Hal pertama yang harus dilakukan adalah menuliskan sumber daya yang Anda perlukan untuk mencapai tujuan Anda, baik sumber daya fisik dan yang mental. Jika ada sesuatu yang Anda butuhkan untuk menyelesaikan sebelum Anda dapat membuat tujuan Anda menjadi kenyataan, memprioritaskan langkah-langkah yang harus Anda ambil untuk menyelesaikan tugas yang pertama. Sebagai contoh, Anda mungkin perlu jumprope jika tujuan Anda adalah untuk latihan. Setelah sumber daya Anda berada di tempat, Anda telah membuka jalan raya untuk pencapaian. Mari kita lihat bagaimana untuk memasuki jalan di-sehingga Anda dapat berada di jalan.
Berikut adalah beberapa strategi yang bisa Anda gunakan untuk menciptakan tujuan yang efektif Anda benar-benar dapat mencapai:
- Pastikan tujuan Anda adalah spesifik. Tetapkan tujuan terukur sehingga Anda dapat mencapai dan berhasil. Menentukan jumlah yang tepat dan jangka waktu dari apa pun yang Anda ingin capai. * Menetapkan tujuan untuk menjadi seorang pelari cepat atau memasak lebih baik tidak bekerja karena tidak ada hasil akhir yang spesifik. Anda tidak akan dapat menilai apakah Anda pernah mencapai tujuan itu karena, tidak peduli apa, selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik pada sesuatu. * Di sisi lain, mengatakan tujuan Anda adalah untuk "meningkatkan kecepatan Anda berjalan dengan mencukur 10 detik dari Waktu yang diperlukan untuk menjalankan program Anda" adalah spesifik dan Anda dapat mengetahui bahwa anda telah mencapai hal itu.
- Tujuan Anda juga harus dapat dicapai dan realistis. Anda tidak akan menetapkan tujuan Anda untuk menurunkan £ 40 dalam 10 hari berikutnya, karena itu hanya tidak realistis. Menetapkan tujuan untuk kehilangan £ 40 selama 12-14 minggu berikutnya adalah tujuan nyata dan dapat dicapai. * Tujuan tercapai yang kontraproduktif. Tidak hanya bisa Anda pernah menyelesaikan tujuan yang tak terjangkau, tetapi juga dapat mencegah Anda dari bahkan mencoba. Dengan menetapkan tujuan Anda tidak mungkin bertemu, Anda sedang menyiapkan diri untuk kegagalan dan menurunkan Anda sendiri kepercayaan diri.
- Beri diri Anda batas waktu untuk tujuan Anda. Menetapkan tenggat waktu membuat prioritas tujuan, terus dalam pikiran Anda, dan membuatnya lebih mudah untuk dicapai. Jika Anda tahu Anda hanya memiliki kerangka waktu tertentu di mana untuk mencapai sesuatu, Anda cenderung untuk fokus lebih banyak waktu dan energi pada tugas itu. * Jika Anda memiliki tujuan besar, kemudian membaginya menjadi tujuan jangka pendek, atau langkah. Tujuan yang lebih kecil membuat Anda tetap fokus pada pencapaian tujuan yang lebih besar sepanjang mereka terkait satu sama lain. * Sebagai contoh, jika tujuan Anda adalah untuk dipromosikan dalam enam bulan, kemudian mendirikan enam bulan satu tujuan yang dirancang untuk meningkatkan kinerja pekerjaan Anda akan berkontribusi terhadap tujuan keseluruhan.
- Tuliskan tujuan Anda. Anda harus tetap dipasang di tempat yang Anda akan melihat setiap hari. Kebanyakan orang memiliki lebih dari satu gol pada suatu waktu. Anda dapat menetapkan tujuan dalam berbagai bidang: keluarga, pekerjaan, Kesehatan, pendidikan, hobi, atau bagian dari kehidupan Anda di mana Anda ingin membuat perubahan. Pertanyaannya adalah bagaimana untuk menangani semua tujuan ini pada waktu yang sama. Menuliskan setiap tujuan dapat membantu Anda untuk mengatur mereka, memprioritaskan mereka, dan lebih baik meMotivasi Anda untuk bekerja untuk mencapai mereka. * Setelah Anda memiliki mereka ditulis, Anda dapat melihat cara mereka terhubung satu sama lain dan dapat menemukan cara-cara untuk bekerja pada mereka pada waktu yang sama. * Sebagai contoh, katakanlah satu tujuan Anda adalah untuk mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan uang lebih banyak dan lainnya adalah untuk melanjutkan pendidikan Anda. Setelah Anda menyelesaikan pendidikan Anda, Anda harus dapat lahan pekerjaan yang lebih baik. Apakah Anda melihat bagaimana satu gol feed ke yang lain? * Mungkin salah satu tujuannya adalah untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga Anda dan satu sama lain adalah olahraga. Nah, jika Anda berolahraga sebagai sebuah keluarga sekali atau dua kali seminggu, Anda akan mencapai kedua tujuan pada waktu yang sama. Menggunakan Tujuan pengaturan tips akan membuat tujuan Anda lebih spesifik, efektif, dan dapat dicapai. Setelah Anda memutuskan pada tujuan dan keinginan Anda, membuat rencana langkah-langkah tindakan dan tongkat dengan itu. Dalam waktu, Anda akan mencapai tujuan tersebut dan Anda akan memiliki sistem di tempat untuk usaha apapun!
III. Cara Menyusun Konsekuensi Yang Efektif
Semua berkonsekuensi. Kalau tidak mau berkonsekuensi jangan mengambil tindakan apapun, tapi itupun menimbulkan konsekuensi. Dunia ini selalu memberikan dua nilai atau batasan yaitu baik-buruk atau 2 sisi yang berkonotasi ke arah positif atau negatif. Begitu juga dengan konsekuensi. Parameter positif atau negatif tergantung bagaimana memilihnya. Reinhold Niebuhr mengatakan “All human sin seems so much worse in its consequences than in its intentions“. Keberanianlah yang menyempitkan jarak ketakutan akibat dari konsekuensi.
Mempersiapkan, itu sebuah tindakan karena tahu dengan konsekuensi. Mengabaikan berarti memperbesar konsekuensi. Hal ini berlaku terhadap hal yang baik maupun buruk, walaupun konteksnya lebih ke arah yang buruk. Setiap sisi, elemen obyek dan yang terkait harus benar-benar dipahami kalau perlu sampai hal yang paling detail sehingga terakomodir semua. Langkah tadi akan menghasilkan sebuah desain yang jelas sehingga segala dampak dari konsekuensi terinventarisasi dengan baik dan berujung pada proses minimalisasi kegagalan. Tapi tidak jarang hal ini diabaikan dengan menganggap sebagai bentuk kegiatan yang bertele-tele. Mereka sebenarnya sangat tahu tapi selalu menghibur diri dan menguatkan diri dengan kalimat “ah lihat aja nanti yang penting lakuin dulu….“. Begitu sederhana. Hanya orang-orang yang bermental tebal atau masuk kategori nekad yang bisa menganggap enteng sebuah konsekuensi dari sebuah tindakan (berat). Nekad itu kadang bisa menguatkan dari rasa ketidakpercayaan diri, dan tidak jarang membuahkan hasil sesuai dengan rencana, tapi itu mungkin masuk kategori nekad cermat.
IV. Menerapkan Rencana Intervensi
Adapun rencana intervensi yang dibuat praktikan untuk menangani masalah klien “MG” adalah sebagai berikut:
- Social Case Work Method, Metode Bimbingan Sosial Individu menekankan pada pertolongan secara khusus terhadap individu yang mengalami masalah tersebut.
- Social Group Work Method,Metode Bimbingan Sosial Kelompok menekankan bahwa pertolongan dapat dilakukan dengan melakukan modifikasi peran kelompok untuk dapat saling membantu menghadapi masalahnya.
- Motivation Training, Training motivasi akan dibawakan oleh trainer profesional dengan materi seputar merancang masa depan. Apa Saja Yang Dilakukan Dalam Proses Evaluasi. Evaluasi adalah proses penilaian. Dalam perusahaan, evaluasi dapat diartikan sebagai proses pengukuran akan efektifitas strategi yang digunakan dalam upaya mencapai tujuan perusahaan. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut akan digunakan sebagai analisis situasi program berikutnya.
Dalam mengadakan sebuah proses evaluasi, terdapat beberapa hal yang akan dibahas yaitu apa yang menjadi bahan evaluasi, bagaimana proses evaluasi, kapan evaluasi diadakan, mengapa perlu diadakan evaluasi, dimana proses evaluasi diadakan, dan pihak yang mengadakan evaluasi. Hal yang perlu dilakukan evaluasi tersebut adalah narasumber yang ada, efektifitas penyebaran pesan, pemilihan media yang tepat dan pengambilan keputusan anggaran dalam mengadakan sejumlah promosi dan periklanan. Evaluasi tersebut perlu diadakan dengan tujuan untuk menghindari kesalahan perhitungan pembiayaan, memilih strategi terbaik dari berbagai alternatif strategis yang ada, meningkatkan efisiensi iklan secara general, dan melihat apakah tujuan sudah tercapai. Di sisi lain, perusahaan kadang-kadang enggan untuk mengadakan evaluasi karena biayanya yang mahal, terdapat masalah dengan penelitian, ketidaksetujuan akan apa yang hendak dievaluasi, merasa telah mencapai tujuan, dan banyak membuang waktu.
Secara garis besar, proses evaluasi terbagi menjadi di awal (pretest) dan diakhir (posttest). Pretest merupakan sebuah evaluasi yang diadakan untuk menguji konsep dan eksekusi yang direncanakan. Sedangkan, posttest merupakan evaluasi yang diadakan untuk melihat tercapainya tujuan dan dijadikan sebagai masukan untuk analisis situasi berikutnya.
Evaluasi dapat dilakukan di dalam atau diluar ruangan. Evaluasi yang diadakan di dalam ruangan pada umumnya menggunakan metode penelitian laboratorium dan sampel akan dijadikan sebagai kelompok percobaan. Kelemahannya, realisme dari metode ini kurang dapat diterapkan. Sementara, evaluasi yang diadakan di luar ruangan akan menggunakan metode penelitian lapangan dimana kelompok percobaan tetap dibiarkan menikmati kebebasan dari lingkungan sekitar. Realisme dari metode ini lebih dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mencapai evaluasi tersebut dengan baik, diperlukan sejumlah tahapan yang harus dilalui yakni menentukan permasalahan secara jelas, mengembangkan pendekatan permasalahan, memformulasikan desain penelitian, melakukan penelitian lapangan untuk mengumpulkan data, menganalisis data yang diperoleh, dan kemampuan menyampaikan hasil penelitian.