Selasa, 25 Juni 2013

MASALAH DALAM PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS

1. MASALAH DALAM MELAKUKAN TES INTELEGENSI PADA ORANG DEWASA


a.     Penurunan akibat pertambahan usia

Ciri khas yang diperkenalkan oleh skala Wechsler untuk mengukur intelegensi orang dewasa adalah penggunaan norma mundur untuk menghitung simpangan IQ. Skor-skor mentah pada subtes WAIS pertama diolah ke dalam skor baku dengan rata-rata 10 dan simpangan baku. Skor-skor yang diskalakan ini diekspresikan dari segi kelompok rujukan pasti yang terdiri dari 500 orang berusia antara 20 dan 34 tahun dimasukkan dalam sampel yang dibakukan. Jumlah skor-skor yang diskalakan pada 11 subtes, digunakan untuk menemukan IQ simpangan dalam table usia yang tepat. Akan tetapi, jika kita menguji jumlah skor yang diskalakan secara langsung, kita dapat membandingkan kinerja dari kelompok usia berbeda dilihat dari segi skala tunggal bersinambung. Dengan demikian, jika peserta tes memperlihatkan kemerosotan yang sama dalam kinerja pada usia yang sama seperti yang ada pada sampel normative, IQ-nya seharusnya tetap konstan. Dasar pemikiran awal Wechsler untuk prosedur ini adalah bahwa merupakan hal “normal” bila kemampuan seseorang yang dites itu merosot sesuai dengan makin tingginya usia melebihi 30-an tahun.
Perbedaan usia dalam tingkat pendidikan tak bisa dielakkan jika sebuah sampel standardisasi tes harus benar-benar merupakan representasi dari populasi Negara pada saat norma-norma itu ditetapkan. Meskipun demikian, perbedaan-perbedaan pendidikan merumitkan interpretasi dari penurunan skor yang diamati. Kelompok-kelopok yang lebih tua dalam sampel standardisasi mungkin berkinerja lebih jelek pada tes bukan karena sudah tua, melainkan karena mendapatkan lebih sedikit pendidikan dibanding kelompok yang lebih muda.
Hasil yang diperoleh dari sampel standardisasi pada skala Wechsler adalah penemuan khas dari telaah potongan-lintang (cross-sectional) yang tradisional atas intelegensi orang dewasa. Perbandingan-perbandingan potong-lintang, yaitu orang-orang dari usia berbeda diuji pada saat yang sama, mungkin memperlihatkan penurunan akibat pertambahan usia yang jelas disebabkan oleh perubahan cultural yang dibangun bersama dengan efek-efek usia. Banyaknya pendidikan formal yang ditempuh, hanya merupakan salah satu dari banyak variable dimana kelompok usia bisa berbeda. Perubahan cultural lainnya telah terjadi dalam masyarakat manusia selama setengah abad yang lalu, yang membuat latar belakang pengalaman dari mereka yang berusia 20-tahun dan 70-tahun cukup berbeda. Tentu saja perubahan-perubahan dalam media komunikasi, seperti radio, televisi, dan internet, serta dalam transportasi telah sangat meningkatkan kisaran informasi yang tersedia untuk pengembangan individual. Perbaikan dalam nutrisi dan perawatan medis juga akan secara tidak langsung memengaruhi perkembangan perilaku.





b.    Perbedaan individual dan usia

Selain temuan-temuan dasar bahwa penurunan akibat pertambahan usia lebih kecil dan selama hidup muncul belakangan dibanding perkiraan sebelumnya, riset terbaru umumnya menyingkapkan perbedaan individual yang besar dalam kemampuan pada semua level usia. Generalisasi apa saja, apakah menyinggung dekremen usian atau perbedaan kelompok, harus dikualifikasi oleh pengakuan akan variabilitas individu yang ditemukan dalam semua situasi. Perbedaan-perbedaan individual dalam level-level usia. Akibatnya, distribusi skor yang didapatkan oleh orang-orang dari usia berbeda tumpang tindih secara ekstensif. Ini sesungguhnya berarti bahwa dapat ditemukan banyak dari orang-orang lebih tua, yang kinerja sama denga  orang yang lebih muda. Lagi pula, mereka yang berkinerja terbaik dalam kelompok yang lebih tua melebihi mereka yang berkinerja paling jelek dalam kelompok yang lebih muda. Juga pertumpang tindih tersebut tidak terbatas pada level usia yang berdekatan rentang kinerja masih bertumpah tindih bila kelompok –kelompok ekstrem dibandingkan. Dengan demikian, beberapa orang yang berusia 80 tahun akan berprestasi lebih baik daripada beberapa orang yang berusia 20 tahun.
Akan tetapi, hal yang bahkan lebih relevan untuk topic yang sekarang adalah perubahan-perubahan yang terjadi sesuai dengan usia bervariasi pada setiap orang. Dengan demikian, antara usia 50 dan 60 tahun misalnya, ada yang bisa memperlihatkan penurunan, ada yang tidak mengalami perubahan berarti, dan ada yang meningkat, dalam kinerja tes. Besarnya perubahan, apakah itu merosot atau meningkat, juga akan sangat bervariasi diantara individu. Lagi pula, telaah-telaah intensif atas orang-orang berusia lanjut hingga dasawarsa kehidupan ketujuh, delapan, dan Sembilan, menunjukkan bahwa fungsi intelektual lebih erat berhubungan dengan status kesehatan individu dibanding dengan usia kronologis. Faktor-faktor penunjang lainnya adalah lingkungan yang menyenangkan, dengan peluang-peluang rangsangan intelektual yang bervariasi dan pemeliharaan gaya hidup yang luwes.


c.     Hakikat inteligensi orang dewasa

Karena tes intelegensi bertaut dengan kemampuan-kemampuan akademik, tidak mengherankan kalau ditemukan bahwa telaah paling dini atas orang dewasa telah memperlihatkan peningkatan usia yang lebih besar dalam skor dikalangan individu yang melanjutkan pendidikan mereka lebih jauh. Sama halnya, orang-orang yang kedudukannya lebih “akademik” dalam content, yang menuntut permainan kata dan kemampuan numeric, mungkin untuk mempertahankan level kinerja mereka atau memperlihatkan perbaikan dalam skor tes intelegensi selama bertahun-tahun, sementara mereka yang bergabung dalam jabatan-jabatan yang menekan aktivitas mekanik atau hubungan antarpersonal bisa memperlihatkan kemerosotan.




2.     OBJEKTIVITAS TES

Bila streotipe dan prasangka sosial mungkin mengganggu evaluasi antar pribadi, tes merupakan usaha untuk berjaga-jaga terhadap favoritisme dan keputusan yang sifatnya sewenang-wenang dan tak terduga-duga. Ketika gerakan hak-hak sipil mencapai memontumnya, berbagai pengamat meminta perhatian pada fungsi positif yang bisa dilakukan oleh pengetesan baku. Dalam komentarnya tentang penggunaan tes di sekolah, Gardner (1961, hlm. 48-49) menulis: “tes-tes tidak bisa melihat apakah seorang anak muda berpakaian compang-camping atau wol dan tes-tes tidak bisa mendengar aksen dari perkampungan kumuh. Tes-tes menyingkapkan paket intelektual pada tiap tingkat populasi.
Jika tes-tes harus disingkirkan, kebutuhan untuk membuat pilihan oleh individual juga oleh organisasi, akan tetap ada. Pengambilan keputusan akan jatuh kembali pada alternative-alternatif yang sudah lama dikenal, seperti surat rekomendasi, wawancara, dan indeks prestasi kumulatif. Dewasa ini, sumber data alternative ini kerap digunakan bersama-sama dengan skor tes, tetapi bukan menggantikan tes. Sesungguhnya, tes-tes terbakukan diperkenalkan sebagai satu sarana untuk mengompensasi ketidakandalan, subjektivitas dan bias potensial dari prosedur tradisional ini. Alternative-alternatif terhadap pengetesan ini umumnya terbuktikurang akurat dibanding dalam memprediksi kinerja di sekolah ataupun kinerja pekerjaan. Prosedur alternative yang lebih baru dikembangkan, seperti teknik penaksiran portofolio dan kinerja, pada akhirnya mungkin terbukti memiliki keuntungan jika dibandingkan denga tes-tes tradisional. Akan tetapi, sejauh ini riset dengan teknik-teknik baru ini menunjukkan bahwa teknik-teknik tersebut tidak lebih tepat untuk berbagai populasi dibandingkan dengan tes-tes terbakukan yang hendak mereka lengkapi atau gantikan.
Serangan terhadap pengetesan kerap gagal membeda-bedakan antara sumbangan yang positif dai pengetesan terhadap keadilan dalam mengambil keputusan serta penyalahgunaan tes sebagai jalan pintas untuk keputusan yang dipertimbangkan secra cermat. Memandang pengetesan dalam konteks sosialnya, Committee on Ability Testing mendesak agar tes dipandang bukan sebagai obat mujarab atau sebgai kambing hitam bagi masalah-masalah masyarakat untuk meningkatkan kesempatan bagi anggota kelompok minoritas yang bersangkutan seharusnya tidak dicampuradukkan dengan validitas proses pengetesan. Dalam peryataan pentin, komisi menyatakan, “usaha untuk mencari masyarakat yang lebih pantas telah menempatkan kemampuan pengetesan pada pusat kontroversi dan memberi reputasi yang berlebihan untuk yang buruk dan yang baik”. Kenyataan ini masih berlaku dan dalam konteks kurangnya alternative yang tepat dan akan terus berlaku utnuk waktu yang cukup lama.
Ringkas kata, tes-tes tentu saja bisa disalahgunakan pada kelompok minoritas seperti halnya pada siapa pun. Meskipun begitu, bila digunakan denga tepat, tes-tes bisa menjalankan fungsi yang penting dalam pencegahan diskriminasi yang tidak relevan dan tidak adil. Bila melakukan evaluasi atas konsekuensi sosial pengetesan, kita perlu menaksir secara teliti konsekuensi-konsekuensi sosial dari tidak dilakukannya pengetesan dan dengan demikian, bersandar pada prosedur-prosedur lain untuk mengambil keputusan, yang lebih kurang adil dibanding pengetesan. Selanjutnya, dalam menentukan konsekuensi pengetesan, kita harus teliti membeda-bedakan konsekuensi penggunaan tes yang tepat dari konsekuensi penyalahgunaan tes serta memisahkan konsekuensi langsung pengetesan dari konsekuensi yang diperantarai oleh faktor-faktor luar pengetesan. Sebaliknya, karena alasan-alasan yang salah kita mungkin membuang alat yang meskipun selalu membutuhkan perbaikan tapi bisa terbukti tidak dapat digantikan.




3.     KUALIFIKASI PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS

Prinsip kode etik dalam hal kompetensi menyatakan bahwa para psikolog “memberikan hanya jasa dan menggunakan hanya teknik yang mereka kuasai melalui pendidikan, pelatihan, atau pengalaman”. Dalam kaitan dengan tes, persyaratan bahwa tes-tes itu digunakan hanya oleh penguji-penguji yang memiliki kualifikasi tepat adalah satu langkah untuk melindungi peserta tes terhadap penggunaan tes yang tidak selayaknya. Tentu saja, kualifikasi yang diperlukan berbeda menurut jenis tes. Dengan demikian, periode pelatihan intensif yang relative panjang dan pengalaman yang disupervisi diperlukan demi penggunaan yang sepantasnya atas tes intelegensi individu dan kebanyakan tes kepribadian, sedangkan pelatihan psikologis yang kurang begitu spesifik diperlukan untuk tes-tes prestasi pendidikan atau kemahiran pekerjaan. Hendaknya diperhatikan bahwa siswa-siswa yang mengikuti tes dalam kelas untuk maksud pengajaran, biasanya tidak dilengkapi untuk melaksanakan tes yang lain atau menginterprestasikan skor-skor tes secara tepat.
Para penguji yang benar terlatih memilih tes yang sesuai, baik dengan maksud tertentu yang menjadi tujuan pengetesan, maupun dengan orang yang diuji. Mereka juga sadar tentang kepustakaan riset yang ada pada tes yang dipilih dan mampu melakukan evaluasi atas segi-segi teknis dalam kaitan dengan ciri-ciri misalnya, norma, realibilitas, dan validitas. Dalam menyelenggarakan tes mereka tanggap terhadap banyak kondisi yang bisa memengaruhi kinerja tes. Mereka menarik kesimpulan untuk membuat rekomendasi hanya setelah mempertimbangkan skor tes dari segi informasi berkaitan lainnyatentang individu bersangkutan. Di atas segalanya, mereka seharusnya memiliki pengetahuan yang luas dalam ilmu tentang perilaku manusia untuk mewaspadai kesimpulan yang tidak berdasar dalam interpretasi mereka atas skor-skor tes. Bila tes diselenggarakan oleh teknisi psikologis atau asisten psikologis, atau orang yang tidak memiliki latihan professional memadai, penting untuk diperhatikan bahwa seorang psikolog yang memiliki kualifikasi cukup, hadir ditempat itu, setidak-tidaknya sebagai konsultan untuk memberikan perspektif yang dibutuhkan bagi interpretasi kinerja tes yang tepat.
Siapakah psikolog yang memenuhi syarat?
Jelas, mengingat diversifikasi disiplin ini dan spesialisasi akibat pelatihan, tidak satupun psikolog sama kualifikasinya didalam semua bidang, bahkan dalam bidang pengetesan dan penaksiran psikologis yang lebih sempit. Dengan mengakui fakta ini, kode etik meminta para psikolog untuk “menerima batas-batas kompetensi khusus mereka dan keterbatasan keahlian mereka”. Implikasi kewajiban etis ini telah dinyatakan dalam prinsip kompetensi yang telah dikutip sebelumnya.
Sebuah lengkah penting, baik dalam memengaruhi standar professional maupun dalam membantu mesyarakat untuk mengidentifikasi psikolog yang memenuhi syarat, adalah pemberlakuan pemberian lesensi Negara bagian dan hokum sertifikasi bagi para psikolog. Semua Negara bagian, juga District of Colombia, jarang memiliki hukum seperti ini; kebanyakan provinsi Canada juga telah memberlakukan Undang-undang yang mengatur praktik psikologi. Meskipun “pemberian Lisensi” dan “sertifikasi” kerap digunakan secara timbale balik, dalam psikologi, sertifikasi terutama merujuk pada perlindungan hukum atas gelar “psikolog”, sementara pemberian lisensi mengendalikan praktik psikologi terlepas dari gelar, yang karenanya orang yang berpraktik itu dikenali. Dengan demikian, hukum-hukum pemberian lisensi perlu mencakup definisi dari praktik psikologi. Kebanyakan Negara bagian mulai dengan hukum sertifikasi yang lebih sederhana, tetapi ada gerakan yang berkesinambungan menuju pemberian lisensi. Dalam salah satu tipe hukum ini, persyaratan umumnya adalah doktorat dalam psikologi, jumlah pengalaman tersupervisi yang khusus, dan kinerja memuaskan pada pengujian untuk memperoleh kualifikasi. Aturan pemberian lisensi umumnya meliputi dasar untuk tindakan disipliner terhadap psikolog, yang bisa dimulai dari denda dan teguran sampai skor dan pencabutan lisensi. Banyak yurisdiksi telah memuat persyaratan etis APA dalam aturan mereka, entah secara langsung entah tidak langsung sehingga pelanggaran atas kode etik kerap merupakan dasar bagi bentuk tindakan disipliner tertentu. APA juga telah mengembangkan Model Act for State Licensure of Psychologists untuk berfungsi sebagai prototype bagi penyusunan konsep perundang-undangan Negara bagian yang mengatur praktik psikologi.
Pada tingkat lebih lanjut, sertifikasi spesialisasi diberikan oleh American Board of Professional Psychology. Dengan menuntut tingkat pelatihan dan pengalaman yang tinggi dalam spesialisasi yang dimaksud .
Dalam dasawarsa yang lampau, pergeseran dalam system pelayanan kesehatan dan perubahan lain dalam pasaran kerja professional telah membuat masalah surat kepercayaan bagi praktik psikologi menjadi hal yang semakin mendesak. Karena itu, American Psycholoical Association telah mengambil beberapa langkah untuk menegakkan manajemen yang tertib atas banyak konflik potensial yang inheren dalam atmosfir dewasa ini. Salah satu langkah ini adalah penciptaan APA college of Professional Psychology, yang akan mengeluarkan surat kepercayaan bagi berbagai keahlian dalam psikologi melalui prosedur yang mencakup pengujian dan juga persyaratan pendidikan serta pengalaman. Langkah lainnya adalah pengembangan proses dimana spesialisasi dan kemahiran praktik psikologi bisa diakui secara formal. Pedoman lebih lanjut menyangkut isu spesifik kualifikasi penggunaan tes dan juga prosedur baru untuk mengakreditasi spesialisasi penaksiran pasti akan timbul dimasa depan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

followers