1. MASALAH
DALAM MELAKUKAN TES INTELEGENSI PADA ORANG DEWASA
a. Penurunan
akibat pertambahan usia
Ciri
khas yang diperkenalkan oleh skala Wechsler untuk mengukur intelegensi orang
dewasa adalah penggunaan norma mundur untuk menghitung simpangan IQ. Skor-skor
mentah pada subtes WAIS pertama diolah ke dalam skor baku dengan rata-rata 10
dan simpangan baku. Skor-skor yang diskalakan ini diekspresikan dari segi
kelompok rujukan pasti yang terdiri dari 500 orang berusia antara 20 dan 34
tahun dimasukkan dalam sampel yang dibakukan. Jumlah skor-skor yang diskalakan
pada 11 subtes, digunakan untuk menemukan IQ simpangan dalam table usia yang
tepat. Akan tetapi, jika kita menguji jumlah skor yang diskalakan secara langsung,
kita dapat membandingkan kinerja dari kelompok usia berbeda dilihat dari segi
skala tunggal bersinambung. Dengan demikian, jika peserta tes memperlihatkan
kemerosotan yang sama dalam kinerja pada usia yang sama seperti yang ada pada
sampel normative, IQ-nya seharusnya tetap konstan. Dasar pemikiran awal
Wechsler untuk prosedur ini adalah bahwa merupakan hal “normal” bila kemampuan
seseorang yang dites itu merosot sesuai dengan makin tingginya usia melebihi
30-an tahun.
Perbedaan
usia dalam tingkat pendidikan tak bisa dielakkan jika sebuah sampel
standardisasi tes harus benar-benar merupakan representasi dari populasi Negara
pada saat norma-norma itu ditetapkan. Meskipun demikian, perbedaan-perbedaan
pendidikan merumitkan interpretasi dari penurunan skor yang diamati.
Kelompok-kelopok yang lebih tua dalam sampel standardisasi mungkin berkinerja
lebih jelek pada tes bukan karena sudah tua, melainkan karena mendapatkan lebih
sedikit pendidikan dibanding kelompok yang lebih muda.
Hasil
yang diperoleh dari sampel standardisasi pada skala Wechsler adalah penemuan
khas dari telaah potongan-lintang (cross-sectional) yang tradisional atas
intelegensi orang dewasa. Perbandingan-perbandingan potong-lintang, yaitu
orang-orang dari usia berbeda diuji pada saat yang sama, mungkin memperlihatkan
penurunan akibat pertambahan usia yang jelas disebabkan oleh perubahan cultural
yang dibangun bersama dengan efek-efek usia. Banyaknya pendidikan formal yang
ditempuh, hanya merupakan salah satu dari banyak variable dimana kelompok usia
bisa berbeda. Perubahan cultural lainnya telah terjadi dalam masyarakat manusia
selama setengah abad yang lalu, yang membuat latar belakang pengalaman dari
mereka yang berusia 20-tahun dan 70-tahun cukup berbeda. Tentu saja
perubahan-perubahan dalam media komunikasi, seperti radio, televisi, dan
internet, serta dalam transportasi telah sangat meningkatkan kisaran informasi
yang tersedia untuk pengembangan individual. Perbaikan dalam nutrisi dan
perawatan medis juga akan secara tidak langsung memengaruhi perkembangan
perilaku.
b. Perbedaan
individual dan usia
Selain
temuan-temuan dasar bahwa penurunan akibat pertambahan usia lebih kecil dan
selama hidup muncul belakangan dibanding perkiraan sebelumnya, riset terbaru
umumnya menyingkapkan perbedaan individual yang besar dalam kemampuan pada
semua level usia. Generalisasi apa saja, apakah menyinggung dekremen usian atau
perbedaan kelompok, harus dikualifikasi oleh pengakuan akan variabilitas
individu yang ditemukan dalam semua situasi. Perbedaan-perbedaan individual
dalam level-level usia. Akibatnya, distribusi skor yang didapatkan oleh
orang-orang dari usia berbeda tumpang tindih secara ekstensif. Ini sesungguhnya
berarti bahwa dapat ditemukan banyak dari orang-orang lebih tua, yang kinerja
sama denga orang yang lebih muda. Lagi
pula, mereka yang berkinerja terbaik dalam kelompok yang lebih tua melebihi
mereka yang berkinerja paling jelek dalam kelompok yang lebih muda. Juga
pertumpang tindih tersebut tidak terbatas pada level usia yang berdekatan
rentang kinerja masih bertumpah tindih bila kelompok –kelompok ekstrem
dibandingkan. Dengan demikian, beberapa orang yang berusia 80 tahun akan
berprestasi lebih baik daripada beberapa orang yang berusia 20 tahun.
Akan
tetapi, hal yang bahkan lebih relevan untuk topic yang sekarang adalah
perubahan-perubahan yang terjadi sesuai dengan usia bervariasi pada setiap
orang. Dengan demikian, antara usia 50 dan 60 tahun misalnya, ada yang bisa
memperlihatkan penurunan, ada yang tidak mengalami perubahan berarti, dan ada
yang meningkat, dalam kinerja tes. Besarnya perubahan, apakah itu merosot atau
meningkat, juga akan sangat bervariasi diantara individu. Lagi pula,
telaah-telaah intensif atas orang-orang berusia lanjut hingga dasawarsa
kehidupan ketujuh, delapan, dan Sembilan, menunjukkan bahwa fungsi intelektual
lebih erat berhubungan dengan status kesehatan individu dibanding dengan usia
kronologis. Faktor-faktor penunjang lainnya adalah lingkungan yang
menyenangkan, dengan peluang-peluang rangsangan intelektual yang bervariasi dan
pemeliharaan gaya hidup yang luwes.
c. Hakikat
inteligensi orang dewasa
Karena
tes intelegensi bertaut dengan kemampuan-kemampuan akademik, tidak mengherankan
kalau ditemukan bahwa telaah paling dini atas orang dewasa telah memperlihatkan
peningkatan usia yang lebih besar dalam skor dikalangan individu yang
melanjutkan pendidikan mereka lebih jauh. Sama halnya, orang-orang yang
kedudukannya lebih “akademik” dalam content, yang menuntut permainan kata dan
kemampuan numeric, mungkin untuk mempertahankan level kinerja mereka atau
memperlihatkan perbaikan dalam skor tes intelegensi selama bertahun-tahun,
sementara mereka yang bergabung dalam jabatan-jabatan yang menekan aktivitas
mekanik atau hubungan antarpersonal bisa memperlihatkan kemerosotan.
2.
OBJEKTIVITAS TES
Bila
streotipe dan prasangka sosial mungkin mengganggu evaluasi antar pribadi, tes
merupakan usaha untuk berjaga-jaga terhadap favoritisme dan keputusan yang
sifatnya sewenang-wenang dan tak terduga-duga. Ketika gerakan hak-hak sipil
mencapai memontumnya, berbagai pengamat meminta perhatian pada fungsi positif
yang bisa dilakukan oleh pengetesan baku. Dalam komentarnya tentang penggunaan
tes di sekolah, Gardner (1961, hlm. 48-49) menulis: “tes-tes tidak bisa melihat
apakah seorang anak muda berpakaian compang-camping atau wol dan tes-tes tidak
bisa mendengar aksen dari perkampungan kumuh. Tes-tes menyingkapkan paket
intelektual pada tiap tingkat populasi.
Jika
tes-tes harus disingkirkan, kebutuhan untuk membuat pilihan oleh individual
juga oleh organisasi, akan tetap ada. Pengambilan keputusan akan jatuh kembali pada
alternative-alternatif yang sudah lama dikenal, seperti surat rekomendasi,
wawancara, dan indeks prestasi kumulatif. Dewasa ini, sumber data alternative
ini kerap digunakan bersama-sama dengan skor tes, tetapi bukan menggantikan
tes. Sesungguhnya, tes-tes terbakukan diperkenalkan sebagai satu sarana untuk
mengompensasi ketidakandalan, subjektivitas dan bias potensial dari prosedur
tradisional ini. Alternative-alternatif terhadap pengetesan ini umumnya
terbuktikurang akurat dibanding dalam memprediksi kinerja di sekolah ataupun
kinerja pekerjaan. Prosedur alternative yang lebih baru dikembangkan, seperti
teknik penaksiran portofolio dan kinerja, pada akhirnya mungkin terbukti
memiliki keuntungan jika dibandingkan denga tes-tes tradisional. Akan tetapi, sejauh
ini riset dengan teknik-teknik baru ini menunjukkan bahwa teknik-teknik
tersebut tidak lebih tepat untuk berbagai populasi dibandingkan dengan tes-tes
terbakukan yang hendak mereka lengkapi atau gantikan.
Serangan
terhadap pengetesan kerap gagal membeda-bedakan antara sumbangan yang positif
dai pengetesan terhadap keadilan dalam mengambil keputusan serta penyalahgunaan
tes sebagai jalan pintas untuk keputusan yang dipertimbangkan secra cermat.
Memandang pengetesan dalam konteks sosialnya, Committee on Ability Testing
mendesak agar tes dipandang bukan sebagai obat mujarab atau sebgai kambing
hitam bagi masalah-masalah masyarakat untuk meningkatkan kesempatan bagi
anggota kelompok minoritas yang bersangkutan seharusnya tidak dicampuradukkan
dengan validitas proses pengetesan. Dalam peryataan pentin, komisi menyatakan,
“usaha untuk mencari masyarakat yang lebih pantas telah menempatkan kemampuan
pengetesan pada pusat kontroversi dan memberi reputasi yang berlebihan untuk
yang buruk dan yang baik”. Kenyataan ini masih berlaku dan dalam konteks
kurangnya alternative yang tepat dan akan terus berlaku utnuk waktu yang cukup
lama.
Ringkas kata,
tes-tes tentu saja bisa disalahgunakan pada kelompok minoritas seperti halnya
pada siapa pun. Meskipun begitu, bila digunakan denga tepat, tes-tes bisa
menjalankan fungsi yang penting dalam pencegahan diskriminasi yang tidak
relevan dan tidak adil. Bila melakukan evaluasi atas konsekuensi sosial
pengetesan, kita perlu menaksir secara teliti konsekuensi-konsekuensi sosial
dari tidak dilakukannya pengetesan dan dengan demikian, bersandar pada
prosedur-prosedur lain untuk mengambil keputusan, yang lebih kurang adil
dibanding pengetesan. Selanjutnya, dalam menentukan konsekuensi pengetesan,
kita harus teliti membeda-bedakan konsekuensi penggunaan tes yang tepat dari
konsekuensi penyalahgunaan tes serta memisahkan konsekuensi langsung pengetesan
dari konsekuensi yang diperantarai oleh faktor-faktor luar pengetesan.
Sebaliknya, karena alasan-alasan yang salah kita mungkin membuang alat yang
meskipun selalu membutuhkan perbaikan tapi bisa terbukti tidak dapat
digantikan.
3.
KUALIFIKASI PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS
Prinsip
kode etik dalam hal kompetensi menyatakan bahwa para psikolog “memberikan hanya
jasa dan menggunakan hanya teknik yang mereka kuasai melalui pendidikan,
pelatihan, atau pengalaman”. Dalam kaitan dengan tes, persyaratan bahwa tes-tes
itu digunakan hanya oleh penguji-penguji yang memiliki kualifikasi tepat adalah
satu langkah untuk melindungi peserta tes terhadap penggunaan tes yang tidak
selayaknya. Tentu saja, kualifikasi yang diperlukan berbeda menurut jenis tes.
Dengan demikian, periode pelatihan intensif yang relative panjang dan
pengalaman yang disupervisi diperlukan demi penggunaan yang sepantasnya atas
tes intelegensi individu dan kebanyakan tes kepribadian, sedangkan pelatihan
psikologis yang kurang begitu spesifik diperlukan untuk tes-tes prestasi
pendidikan atau kemahiran pekerjaan. Hendaknya diperhatikan bahwa siswa-siswa
yang mengikuti tes dalam kelas untuk maksud pengajaran, biasanya tidak
dilengkapi untuk melaksanakan tes yang lain atau menginterprestasikan skor-skor
tes secara tepat.
Para
penguji yang benar terlatih memilih tes yang sesuai, baik dengan maksud
tertentu yang menjadi tujuan pengetesan, maupun dengan orang yang diuji. Mereka
juga sadar tentang kepustakaan riset yang ada pada tes yang dipilih dan mampu
melakukan evaluasi atas segi-segi teknis dalam kaitan dengan ciri-ciri
misalnya, norma, realibilitas, dan validitas. Dalam menyelenggarakan tes mereka
tanggap terhadap banyak kondisi yang bisa memengaruhi kinerja tes. Mereka
menarik kesimpulan untuk membuat rekomendasi hanya setelah mempertimbangkan
skor tes dari segi informasi berkaitan lainnyatentang individu bersangkutan. Di
atas segalanya, mereka seharusnya memiliki pengetahuan yang luas dalam ilmu
tentang perilaku manusia untuk mewaspadai kesimpulan yang tidak berdasar dalam
interpretasi mereka atas skor-skor tes. Bila tes diselenggarakan oleh teknisi
psikologis atau asisten psikologis, atau orang yang tidak memiliki latihan
professional memadai, penting untuk diperhatikan bahwa seorang psikolog yang
memiliki kualifikasi cukup, hadir ditempat itu, setidak-tidaknya sebagai
konsultan untuk memberikan perspektif yang dibutuhkan bagi interpretasi kinerja
tes yang tepat.
Siapakah
psikolog yang memenuhi syarat?
Jelas,
mengingat diversifikasi disiplin ini dan spesialisasi akibat pelatihan, tidak
satupun psikolog sama kualifikasinya didalam semua bidang, bahkan dalam bidang
pengetesan dan penaksiran psikologis yang lebih sempit. Dengan mengakui fakta
ini, kode etik meminta para psikolog untuk “menerima batas-batas kompetensi
khusus mereka dan keterbatasan keahlian mereka”. Implikasi kewajiban etis ini
telah dinyatakan dalam prinsip kompetensi yang telah dikutip sebelumnya.
Sebuah
lengkah penting, baik dalam memengaruhi standar professional maupun dalam
membantu mesyarakat untuk mengidentifikasi psikolog yang memenuhi syarat,
adalah pemberlakuan pemberian lesensi Negara bagian dan hokum sertifikasi bagi
para psikolog. Semua Negara bagian, juga District of Colombia, jarang memiliki
hukum seperti ini; kebanyakan provinsi Canada juga telah memberlakukan
Undang-undang yang mengatur praktik psikologi. Meskipun “pemberian Lisensi” dan
“sertifikasi” kerap digunakan secara timbale balik, dalam psikologi, sertifikasi
terutama merujuk pada perlindungan hukum atas gelar “psikolog”, sementara
pemberian lisensi mengendalikan praktik psikologi terlepas dari gelar, yang
karenanya orang yang berpraktik itu dikenali. Dengan demikian, hukum-hukum
pemberian lisensi perlu mencakup definisi dari praktik psikologi. Kebanyakan
Negara bagian mulai dengan hukum sertifikasi yang lebih sederhana, tetapi ada
gerakan yang berkesinambungan menuju pemberian lisensi. Dalam salah satu tipe
hukum ini, persyaratan umumnya adalah doktorat dalam psikologi, jumlah
pengalaman tersupervisi yang khusus, dan kinerja memuaskan pada pengujian untuk
memperoleh kualifikasi. Aturan pemberian lisensi umumnya meliputi dasar untuk
tindakan disipliner terhadap psikolog, yang bisa dimulai dari denda dan teguran
sampai skor dan pencabutan lisensi. Banyak yurisdiksi telah memuat persyaratan
etis APA dalam aturan mereka, entah secara langsung entah tidak langsung
sehingga pelanggaran atas kode etik kerap merupakan dasar bagi bentuk tindakan
disipliner tertentu. APA juga telah mengembangkan Model Act for State Licensure
of Psychologists untuk berfungsi sebagai prototype bagi penyusunan konsep
perundang-undangan Negara bagian yang mengatur praktik psikologi.
Pada
tingkat lebih lanjut, sertifikasi spesialisasi diberikan oleh American Board of
Professional Psychology. Dengan menuntut tingkat pelatihan dan pengalaman yang
tinggi dalam spesialisasi yang dimaksud .
Dalam dasawarsa
yang lampau, pergeseran dalam system pelayanan kesehatan dan perubahan lain
dalam pasaran kerja professional telah membuat masalah surat kepercayaan bagi
praktik psikologi menjadi hal yang semakin mendesak. Karena itu, American
Psycholoical Association telah mengambil beberapa langkah untuk menegakkan
manajemen yang tertib atas banyak konflik potensial yang inheren dalam atmosfir
dewasa ini. Salah satu langkah ini adalah penciptaan APA college of
Professional Psychology, yang akan mengeluarkan surat kepercayaan bagi berbagai
keahlian dalam psikologi melalui prosedur yang mencakup pengujian dan juga
persyaratan pendidikan serta pengalaman. Langkah lainnya adalah pengembangan
proses dimana spesialisasi dan kemahiran praktik psikologi bisa diakui secara
formal. Pedoman lebih lanjut menyangkut isu spesifik kualifikasi penggunaan tes
dan juga prosedur baru untuk mengakreditasi spesialisasi penaksiran pasti akan
timbul dimasa depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar