Selasa, 25 Juni 2013

MASALAH DALAM PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS

1. MASALAH DALAM MELAKUKAN TES INTELEGENSI PADA ORANG DEWASA


a.     Penurunan akibat pertambahan usia

Ciri khas yang diperkenalkan oleh skala Wechsler untuk mengukur intelegensi orang dewasa adalah penggunaan norma mundur untuk menghitung simpangan IQ. Skor-skor mentah pada subtes WAIS pertama diolah ke dalam skor baku dengan rata-rata 10 dan simpangan baku. Skor-skor yang diskalakan ini diekspresikan dari segi kelompok rujukan pasti yang terdiri dari 500 orang berusia antara 20 dan 34 tahun dimasukkan dalam sampel yang dibakukan. Jumlah skor-skor yang diskalakan pada 11 subtes, digunakan untuk menemukan IQ simpangan dalam table usia yang tepat. Akan tetapi, jika kita menguji jumlah skor yang diskalakan secara langsung, kita dapat membandingkan kinerja dari kelompok usia berbeda dilihat dari segi skala tunggal bersinambung. Dengan demikian, jika peserta tes memperlihatkan kemerosotan yang sama dalam kinerja pada usia yang sama seperti yang ada pada sampel normative, IQ-nya seharusnya tetap konstan. Dasar pemikiran awal Wechsler untuk prosedur ini adalah bahwa merupakan hal “normal” bila kemampuan seseorang yang dites itu merosot sesuai dengan makin tingginya usia melebihi 30-an tahun.
Perbedaan usia dalam tingkat pendidikan tak bisa dielakkan jika sebuah sampel standardisasi tes harus benar-benar merupakan representasi dari populasi Negara pada saat norma-norma itu ditetapkan. Meskipun demikian, perbedaan-perbedaan pendidikan merumitkan interpretasi dari penurunan skor yang diamati. Kelompok-kelopok yang lebih tua dalam sampel standardisasi mungkin berkinerja lebih jelek pada tes bukan karena sudah tua, melainkan karena mendapatkan lebih sedikit pendidikan dibanding kelompok yang lebih muda.
Hasil yang diperoleh dari sampel standardisasi pada skala Wechsler adalah penemuan khas dari telaah potongan-lintang (cross-sectional) yang tradisional atas intelegensi orang dewasa. Perbandingan-perbandingan potong-lintang, yaitu orang-orang dari usia berbeda diuji pada saat yang sama, mungkin memperlihatkan penurunan akibat pertambahan usia yang jelas disebabkan oleh perubahan cultural yang dibangun bersama dengan efek-efek usia. Banyaknya pendidikan formal yang ditempuh, hanya merupakan salah satu dari banyak variable dimana kelompok usia bisa berbeda. Perubahan cultural lainnya telah terjadi dalam masyarakat manusia selama setengah abad yang lalu, yang membuat latar belakang pengalaman dari mereka yang berusia 20-tahun dan 70-tahun cukup berbeda. Tentu saja perubahan-perubahan dalam media komunikasi, seperti radio, televisi, dan internet, serta dalam transportasi telah sangat meningkatkan kisaran informasi yang tersedia untuk pengembangan individual. Perbaikan dalam nutrisi dan perawatan medis juga akan secara tidak langsung memengaruhi perkembangan perilaku.





b.    Perbedaan individual dan usia

Selain temuan-temuan dasar bahwa penurunan akibat pertambahan usia lebih kecil dan selama hidup muncul belakangan dibanding perkiraan sebelumnya, riset terbaru umumnya menyingkapkan perbedaan individual yang besar dalam kemampuan pada semua level usia. Generalisasi apa saja, apakah menyinggung dekremen usian atau perbedaan kelompok, harus dikualifikasi oleh pengakuan akan variabilitas individu yang ditemukan dalam semua situasi. Perbedaan-perbedaan individual dalam level-level usia. Akibatnya, distribusi skor yang didapatkan oleh orang-orang dari usia berbeda tumpang tindih secara ekstensif. Ini sesungguhnya berarti bahwa dapat ditemukan banyak dari orang-orang lebih tua, yang kinerja sama denga  orang yang lebih muda. Lagi pula, mereka yang berkinerja terbaik dalam kelompok yang lebih tua melebihi mereka yang berkinerja paling jelek dalam kelompok yang lebih muda. Juga pertumpang tindih tersebut tidak terbatas pada level usia yang berdekatan rentang kinerja masih bertumpah tindih bila kelompok –kelompok ekstrem dibandingkan. Dengan demikian, beberapa orang yang berusia 80 tahun akan berprestasi lebih baik daripada beberapa orang yang berusia 20 tahun.
Akan tetapi, hal yang bahkan lebih relevan untuk topic yang sekarang adalah perubahan-perubahan yang terjadi sesuai dengan usia bervariasi pada setiap orang. Dengan demikian, antara usia 50 dan 60 tahun misalnya, ada yang bisa memperlihatkan penurunan, ada yang tidak mengalami perubahan berarti, dan ada yang meningkat, dalam kinerja tes. Besarnya perubahan, apakah itu merosot atau meningkat, juga akan sangat bervariasi diantara individu. Lagi pula, telaah-telaah intensif atas orang-orang berusia lanjut hingga dasawarsa kehidupan ketujuh, delapan, dan Sembilan, menunjukkan bahwa fungsi intelektual lebih erat berhubungan dengan status kesehatan individu dibanding dengan usia kronologis. Faktor-faktor penunjang lainnya adalah lingkungan yang menyenangkan, dengan peluang-peluang rangsangan intelektual yang bervariasi dan pemeliharaan gaya hidup yang luwes.


c.     Hakikat inteligensi orang dewasa

Karena tes intelegensi bertaut dengan kemampuan-kemampuan akademik, tidak mengherankan kalau ditemukan bahwa telaah paling dini atas orang dewasa telah memperlihatkan peningkatan usia yang lebih besar dalam skor dikalangan individu yang melanjutkan pendidikan mereka lebih jauh. Sama halnya, orang-orang yang kedudukannya lebih “akademik” dalam content, yang menuntut permainan kata dan kemampuan numeric, mungkin untuk mempertahankan level kinerja mereka atau memperlihatkan perbaikan dalam skor tes intelegensi selama bertahun-tahun, sementara mereka yang bergabung dalam jabatan-jabatan yang menekan aktivitas mekanik atau hubungan antarpersonal bisa memperlihatkan kemerosotan.




2.     OBJEKTIVITAS TES

Bila streotipe dan prasangka sosial mungkin mengganggu evaluasi antar pribadi, tes merupakan usaha untuk berjaga-jaga terhadap favoritisme dan keputusan yang sifatnya sewenang-wenang dan tak terduga-duga. Ketika gerakan hak-hak sipil mencapai memontumnya, berbagai pengamat meminta perhatian pada fungsi positif yang bisa dilakukan oleh pengetesan baku. Dalam komentarnya tentang penggunaan tes di sekolah, Gardner (1961, hlm. 48-49) menulis: “tes-tes tidak bisa melihat apakah seorang anak muda berpakaian compang-camping atau wol dan tes-tes tidak bisa mendengar aksen dari perkampungan kumuh. Tes-tes menyingkapkan paket intelektual pada tiap tingkat populasi.
Jika tes-tes harus disingkirkan, kebutuhan untuk membuat pilihan oleh individual juga oleh organisasi, akan tetap ada. Pengambilan keputusan akan jatuh kembali pada alternative-alternatif yang sudah lama dikenal, seperti surat rekomendasi, wawancara, dan indeks prestasi kumulatif. Dewasa ini, sumber data alternative ini kerap digunakan bersama-sama dengan skor tes, tetapi bukan menggantikan tes. Sesungguhnya, tes-tes terbakukan diperkenalkan sebagai satu sarana untuk mengompensasi ketidakandalan, subjektivitas dan bias potensial dari prosedur tradisional ini. Alternative-alternatif terhadap pengetesan ini umumnya terbuktikurang akurat dibanding dalam memprediksi kinerja di sekolah ataupun kinerja pekerjaan. Prosedur alternative yang lebih baru dikembangkan, seperti teknik penaksiran portofolio dan kinerja, pada akhirnya mungkin terbukti memiliki keuntungan jika dibandingkan denga tes-tes tradisional. Akan tetapi, sejauh ini riset dengan teknik-teknik baru ini menunjukkan bahwa teknik-teknik tersebut tidak lebih tepat untuk berbagai populasi dibandingkan dengan tes-tes terbakukan yang hendak mereka lengkapi atau gantikan.
Serangan terhadap pengetesan kerap gagal membeda-bedakan antara sumbangan yang positif dai pengetesan terhadap keadilan dalam mengambil keputusan serta penyalahgunaan tes sebagai jalan pintas untuk keputusan yang dipertimbangkan secra cermat. Memandang pengetesan dalam konteks sosialnya, Committee on Ability Testing mendesak agar tes dipandang bukan sebagai obat mujarab atau sebgai kambing hitam bagi masalah-masalah masyarakat untuk meningkatkan kesempatan bagi anggota kelompok minoritas yang bersangkutan seharusnya tidak dicampuradukkan dengan validitas proses pengetesan. Dalam peryataan pentin, komisi menyatakan, “usaha untuk mencari masyarakat yang lebih pantas telah menempatkan kemampuan pengetesan pada pusat kontroversi dan memberi reputasi yang berlebihan untuk yang buruk dan yang baik”. Kenyataan ini masih berlaku dan dalam konteks kurangnya alternative yang tepat dan akan terus berlaku utnuk waktu yang cukup lama.
Ringkas kata, tes-tes tentu saja bisa disalahgunakan pada kelompok minoritas seperti halnya pada siapa pun. Meskipun begitu, bila digunakan denga tepat, tes-tes bisa menjalankan fungsi yang penting dalam pencegahan diskriminasi yang tidak relevan dan tidak adil. Bila melakukan evaluasi atas konsekuensi sosial pengetesan, kita perlu menaksir secara teliti konsekuensi-konsekuensi sosial dari tidak dilakukannya pengetesan dan dengan demikian, bersandar pada prosedur-prosedur lain untuk mengambil keputusan, yang lebih kurang adil dibanding pengetesan. Selanjutnya, dalam menentukan konsekuensi pengetesan, kita harus teliti membeda-bedakan konsekuensi penggunaan tes yang tepat dari konsekuensi penyalahgunaan tes serta memisahkan konsekuensi langsung pengetesan dari konsekuensi yang diperantarai oleh faktor-faktor luar pengetesan. Sebaliknya, karena alasan-alasan yang salah kita mungkin membuang alat yang meskipun selalu membutuhkan perbaikan tapi bisa terbukti tidak dapat digantikan.




3.     KUALIFIKASI PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS

Prinsip kode etik dalam hal kompetensi menyatakan bahwa para psikolog “memberikan hanya jasa dan menggunakan hanya teknik yang mereka kuasai melalui pendidikan, pelatihan, atau pengalaman”. Dalam kaitan dengan tes, persyaratan bahwa tes-tes itu digunakan hanya oleh penguji-penguji yang memiliki kualifikasi tepat adalah satu langkah untuk melindungi peserta tes terhadap penggunaan tes yang tidak selayaknya. Tentu saja, kualifikasi yang diperlukan berbeda menurut jenis tes. Dengan demikian, periode pelatihan intensif yang relative panjang dan pengalaman yang disupervisi diperlukan demi penggunaan yang sepantasnya atas tes intelegensi individu dan kebanyakan tes kepribadian, sedangkan pelatihan psikologis yang kurang begitu spesifik diperlukan untuk tes-tes prestasi pendidikan atau kemahiran pekerjaan. Hendaknya diperhatikan bahwa siswa-siswa yang mengikuti tes dalam kelas untuk maksud pengajaran, biasanya tidak dilengkapi untuk melaksanakan tes yang lain atau menginterprestasikan skor-skor tes secara tepat.
Para penguji yang benar terlatih memilih tes yang sesuai, baik dengan maksud tertentu yang menjadi tujuan pengetesan, maupun dengan orang yang diuji. Mereka juga sadar tentang kepustakaan riset yang ada pada tes yang dipilih dan mampu melakukan evaluasi atas segi-segi teknis dalam kaitan dengan ciri-ciri misalnya, norma, realibilitas, dan validitas. Dalam menyelenggarakan tes mereka tanggap terhadap banyak kondisi yang bisa memengaruhi kinerja tes. Mereka menarik kesimpulan untuk membuat rekomendasi hanya setelah mempertimbangkan skor tes dari segi informasi berkaitan lainnyatentang individu bersangkutan. Di atas segalanya, mereka seharusnya memiliki pengetahuan yang luas dalam ilmu tentang perilaku manusia untuk mewaspadai kesimpulan yang tidak berdasar dalam interpretasi mereka atas skor-skor tes. Bila tes diselenggarakan oleh teknisi psikologis atau asisten psikologis, atau orang yang tidak memiliki latihan professional memadai, penting untuk diperhatikan bahwa seorang psikolog yang memiliki kualifikasi cukup, hadir ditempat itu, setidak-tidaknya sebagai konsultan untuk memberikan perspektif yang dibutuhkan bagi interpretasi kinerja tes yang tepat.
Siapakah psikolog yang memenuhi syarat?
Jelas, mengingat diversifikasi disiplin ini dan spesialisasi akibat pelatihan, tidak satupun psikolog sama kualifikasinya didalam semua bidang, bahkan dalam bidang pengetesan dan penaksiran psikologis yang lebih sempit. Dengan mengakui fakta ini, kode etik meminta para psikolog untuk “menerima batas-batas kompetensi khusus mereka dan keterbatasan keahlian mereka”. Implikasi kewajiban etis ini telah dinyatakan dalam prinsip kompetensi yang telah dikutip sebelumnya.
Sebuah lengkah penting, baik dalam memengaruhi standar professional maupun dalam membantu mesyarakat untuk mengidentifikasi psikolog yang memenuhi syarat, adalah pemberlakuan pemberian lesensi Negara bagian dan hokum sertifikasi bagi para psikolog. Semua Negara bagian, juga District of Colombia, jarang memiliki hukum seperti ini; kebanyakan provinsi Canada juga telah memberlakukan Undang-undang yang mengatur praktik psikologi. Meskipun “pemberian Lisensi” dan “sertifikasi” kerap digunakan secara timbale balik, dalam psikologi, sertifikasi terutama merujuk pada perlindungan hukum atas gelar “psikolog”, sementara pemberian lisensi mengendalikan praktik psikologi terlepas dari gelar, yang karenanya orang yang berpraktik itu dikenali. Dengan demikian, hukum-hukum pemberian lisensi perlu mencakup definisi dari praktik psikologi. Kebanyakan Negara bagian mulai dengan hukum sertifikasi yang lebih sederhana, tetapi ada gerakan yang berkesinambungan menuju pemberian lisensi. Dalam salah satu tipe hukum ini, persyaratan umumnya adalah doktorat dalam psikologi, jumlah pengalaman tersupervisi yang khusus, dan kinerja memuaskan pada pengujian untuk memperoleh kualifikasi. Aturan pemberian lisensi umumnya meliputi dasar untuk tindakan disipliner terhadap psikolog, yang bisa dimulai dari denda dan teguran sampai skor dan pencabutan lisensi. Banyak yurisdiksi telah memuat persyaratan etis APA dalam aturan mereka, entah secara langsung entah tidak langsung sehingga pelanggaran atas kode etik kerap merupakan dasar bagi bentuk tindakan disipliner tertentu. APA juga telah mengembangkan Model Act for State Licensure of Psychologists untuk berfungsi sebagai prototype bagi penyusunan konsep perundang-undangan Negara bagian yang mengatur praktik psikologi.
Pada tingkat lebih lanjut, sertifikasi spesialisasi diberikan oleh American Board of Professional Psychology. Dengan menuntut tingkat pelatihan dan pengalaman yang tinggi dalam spesialisasi yang dimaksud .
Dalam dasawarsa yang lampau, pergeseran dalam system pelayanan kesehatan dan perubahan lain dalam pasaran kerja professional telah membuat masalah surat kepercayaan bagi praktik psikologi menjadi hal yang semakin mendesak. Karena itu, American Psycholoical Association telah mengambil beberapa langkah untuk menegakkan manajemen yang tertib atas banyak konflik potensial yang inheren dalam atmosfir dewasa ini. Salah satu langkah ini adalah penciptaan APA college of Professional Psychology, yang akan mengeluarkan surat kepercayaan bagi berbagai keahlian dalam psikologi melalui prosedur yang mencakup pengujian dan juga persyaratan pendidikan serta pengalaman. Langkah lainnya adalah pengembangan proses dimana spesialisasi dan kemahiran praktik psikologi bisa diakui secara formal. Pedoman lebih lanjut menyangkut isu spesifik kualifikasi penggunaan tes dan juga prosedur baru untuk mengakreditasi spesialisasi penaksiran pasti akan timbul dimasa depan.


Tugas portofolio ke-4

A. PEKERJAAN & WAKTU LUANG

I. apa itu nilai pekerjaan?
Nilai pekerjaan adalah bahwa nilai dari apa yang kita kerjakan sebenarnya sangat bergantung kepada cara berpikir kita terhadap pekerjaan itu. Sekecil apapun pekerjaan yang kita lakukan, jika kita memahami bahwa pekerjaan itu adalah bagian dari sebuah perencanaan besar, atau bahwa pekerjaan itu adalah proses menuju terwujudnya sesuatu yang besar, maka tidak akan ada lagi perasaan kecil dalam hati kita ketika mengerjakan pekerjaan itu.
apa yang dicari dalam pekerjaan?
Yang dicari dalam pekerjaan adalah dimana bagian dari sebuah perencanaan besar atau bahwa pekerjaan itu menuju proses terwujudnya suatu yang besar.
Kalian mungkin berkata bahwa apa yang orang cari pada pekerjaan itu semuanya tergantung pada kemauan orang itu sendiri dan ada beberapa fakta mengenai ini. Tapi Daniel Yankelovich menemukan sebuah consensus yang berharga dari jawaban atas pertanyaan yang menyilang terhadap para pekerja termasuk kerah-bur dan kerah-putih dan para professional. Dua frekuensi tertinggi memberikan respon “ kerja itu menarik” dan memiliki “ rekan kerja yang ramah tamah” dengan masing-masing responden memberikan 70% pendapat dari pada pekerja. Di ikuti dengan 2 tambahan jawaban dalam melakukan pekerjaan yang berarti disebut sebagai “kesempatan untuk menggunakan pikiran anda” dan “ hasil kerja yang anda bisa lihat”- memberikan 65-62% dari masing-masing pendapat para pekerja. Sementara upah yang bagus berada di urutan ke-5 dari peringkat “ yang diberikan oleh 62% pekerja). Pekerja berkerah-biru member banyak tekanan pada uang. Dan para professional member sedikit tekanan pada uang, dengan pekerja berkerah-putih berada diantara keduanya.
Hasil yang serupa ditemukan pada survey mahasiswa baru, pada kelas 8 ketika ditanya tingkat apa yang paling penting dalam kepuasan bekerja, 5 kriteria teratas secara menurun menajadi kegiatan yang menarik untuk dilakukan. Menggunakan keahlian dan kemampuan. Berpeluang bagus dalam periklanan, masa depan yang terjamin, dan hasil yang nyata. Upah yang baik menempati urutan ke-8. Oenyda yang tidak kuliah memberikan respon yang serupa kecual mereka lebih memntingkan upah yang baik menempati posisi 8 (Bachman,Johnson,1979)
Responden pada survey psikologi hari ini termasuk kebanyakan dewasa alwal dan pekerja berpendidikan membuat perbedaan yang tajam antara apa yang merka suka tentang pekerjaan mereka dan apa pemikiran yang paling penting mengenai pekerjaan secara umum. seperti yang di ditunjukkan pada table 9.1. Aspek yang paling memuaskan dalam bekerja seperti keramah tamahan sesame rekan kerja. Kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan pekerjaan, dan kehormatan yang diterima oleh rekan sepekerjaan. Di lain pihak, aspek yang paling penting dalam melakukan pekerjaan adalah berkaitan dengan pertumbuhan pribadi atau aktualisasi diri. Termasuk kesempatan untuk melakukan sesuatu yang membuat diri sendiri senang melakukannya. Sesuatu yang berharga dan mempelajari hal yang baru. Aktualisasi ini lebih pentung daripada uang. Ketika responden tertekan pada kabar apapun mereka akan menerima pekerjaan berupah lebih tinggi yang mana kurang menarik. Hampir 2/3 responden mengatakan tidak rela. Di lain pihak, hampir setengah (46%) dari responden tidak akan menerima pekerjaan yang lebih menarik jika upahnya kurang dari pekerjaan yang mereka miliki saat ini. Bagaimanapun, hampir kebanyakan responden (41%) ihklas untuk melakukan pertukaran, mereka yang setidaknya ikhlas untuk memtong upahnya adalah wanita yang sudah bercerai (55%), pria yang sudah menikah (49%), Janda (47%) dan perempuan yang hidup dengan seseorang (47%) (Renvick, Lawler,1976).

Fungsi psikologis dari pekerjaan?
Fungsi psikologinya yaitu : Meskipun apa kata orang tentang memiliki pekeraan untuk hidup. Itu mungkin jelas sekarang bahwa setiap orang bekerja keras untuk uangnya sendiri. Survei membuktikan kebanyakan orang akan melanjutkan pekerjaanya bahkan jika mereka memiliki cukup uang untuk hidup nyaman seumur hidupnya (Renwick&Lawler,1978). Kenyataanya adalah bekerja itu meenuhi kebutuhan psikologis dan social yang penting. Rasa pemenuhan pribadi, orang membutuhkan perasaan kalau mereka tumbuh, mempelajarai keahlian baru, dan mencapai sesuatu yang berharga ketika perasaan ini kurang, mereka mungkin pindah ke pekerjaan yang menjanjikan pencapaian yang lebih atau hasil yang jelas. Contohnya, seorang individu yang pekerjaanya terarah mungkin meninggalkan meja untuk bekerja menjual barang atau konstruksi. Bahkan orang yang sudah mendapatkan banyak uang tidak akan mau mengurangi waktu dan energy yang di habiskan oleh pekerjaan mereka.kemampuan karena kebutuhan akan penghargaan dan penguasaan (Morgan,1972).


II. Fase-fase dalam memilih pekerjaan
Fase-fase dalam pekejaan adalah Orang denderung mengidentifikasi dengan apa yang mereka lakukan. Bagaimana seiring kalian mendengar seseorang memperkenalakan dirinya dengan berkata “saya bekerja untuk IBM” atau “ saya seorang suster”. Studs Tarket (1972) menemukan bahwa pekerjaan mereka membosankan,pekerjaan mekanis yang sering membuat mereka merasa menjadi “mekanik”, atau “robot”. Dilain pihak, mereka tertarik pada tantangan dan pemenuhan pekerjaan pada seni atau profesi yang menunjukan tujuan hidup mereka, biasanya sebagai hasil dari pekerjaan yang mereka lakukan.


III. Hubunga antara karakteristik pribadi dengan karakteristik pekerjaan dalam memilih pekerjaan yg cocok
3.1 Karakteristik pribadi
Sebuah awal yang bagus adalah memilih ketertarikan apa yang kamu punya pada diri sendiri dan kemampuan. Kalian adalah sebuah gabungan unik dari sifat pribadi,ketertarikan,keahlian dan harga. Semakin baik yang kalian dapat ketahui mengenai diri kalian sendiri maka lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.
Apa yang paling membuat anda tertarik. data atau sesuatu? pelajaran apa yang paling anda sukai di sekolah? Kegiatan Ekstrakurikuler apa yang anda sukai? Bagaimana dengan kerja paruh waktu? Coba temukan mengenai apa pekerjaan tersebut yang membuat mereka tertarik kepada anda. Apakah itu kegiatanya sendiri? Atau orang-orang didalamnya?
Bagaimana dengan kemampuan anda? Apa pekerjaan terbaik yang anda bisa lakukan?yang paling anda kuasai? tidak peduli berapa banyak kemampuan yang anda miliki. Penting untuk menyadari bahwa masing-masing dari kita berkualitas untuk banyak kedudukan yang berbeda.tidak hanya satu. Seperti olahraga athletic termasuk terbatas untuk sejumlah orang yang memiliki otot dan keahlian. Jadi kebanyakan pekerjaan memerlukan hanya beberapa keahlian spesifik atau karakteristik. Rahasianya terletak pada menemukan jenis pekerjaan yang memerlukan kekuatan tertentu yang anda miliki.
Untuk memperluas kedua ketertarikan dan bakat kalian akan berubah dengan pengalaman dan waktu. Penelitian sudah menunjukkan kategori ketertarikan yang luas, seperti pada bidang obat-obatan. teknik atau bisnis, tetap stabil dari para remaja.(Campbell,1971). Jika kalian menyukai sesuatu pada saat anda belasan dan awal 20, kesempatan yang sama akan kalian sukai pada tahun-tahun selanjutnya.
Mungkin kalian pernah mendengar seseorang mengambil sebuah tes psikologi untuk membantu pemilihan karir. Sebenarnya, kebanyakan dari persediaan ketertarikan anda daripada sebuah test biasa. Saat ini, satu dari kebanyakan menggunakan instrument tes adalah Strong-Campbell Interest Inventory (SCII) yang mana menggabungkan banyak item dari versi awalnya Strong Inventory for males and females dengan menghilangkan item yang berdasarkan jenis kelamin. hasilnya, yang mana biasanya dibagi secara terbuka dengan individu, menunjukan bagaimana ketertarikan seorang individu dibandingkan dengan orang-orang lain yang memiliki kedudukan yang berbeda.
Apakah tes ketertarikan tersebut membantu anda membuat keputusan yang tepat pada pemilihan kerja? Semua tergantung dari bagaimana kita menggunakanya. Jika kalian mengandalkan hasil tersebut sebagai sebuah pengganti untuk membuat keputusan pribadi, maka jawabanya akan negative. Tapi jika kalian menggunakan hasil tersebut sebagai sebuah sumber untuk mengklarifikasi ketertarikan kalian dalam rangka untuk membuat sebuah keputusan,maka jawabanya pasti positif. Seperti halnya instrument yang menunjukan reliabilitas yang besar dalam memprediksi apa seorang individu akan bersikeras atau keluar dari bidang pekerjaan tersebut. Mereka tidak bisa memprediksi kesuksesan pada bidang yang diberikan karena kebanyak faktor subjektif terlibat didalamnya. Tapi sudah itemukan bahwa apa yang membuat berhasil biasanya mendemonstrasikan lebih tinggi daripada rata-rata skor ketertarikan, sementara siapa yang akan keluar nanti biasanya lebih rendah daripada rata-rata skor (Shertzer,1981)

3.2 karakteristik pekerjaan
Sekali anda memulai menjelajahi ketertarikan anda sendiri,kemampuan,dan nilai, kalian siap untuk mencari pekerjaan yang cocok dengan karakteristik pribadi anda. Dengan lebih dari 20.000 pekerjaan yang berbeda untuk dipilih,ini bukanlah tugas mudah. Untungnyam ada sumber buku untuk membati pencarian tersebut. Seperti yang banyak digunakan Dictionary of Occupational (DOT) dan Occupational Outlook Hand-book. Kedua buku direvisi secara teratur oleh pemerintah percetakan. Sebagai tambahan, berbagai macam pekerjaan sudah teratur pada dasar keluarga ataukelompok dari pekerjaan yang terkait. Masing-masing kelompok menunjukan tokoh 9-1 berisi ratusan pekerjaan yang terdekat. Contohnya, bidang kesehatan termasuk sejumlah besar pekerja kesehatan-dokter,perawat,apoteker, dokter gigi,kebersihan gigi,hanya untuk beberapa nama. Ini sering membantu memilih 2 dari 3 pekerjaan kelompok yang kalian paling tertarikm dan mulai menelusuri beberapa pekerjaan spesifik pada kelompoknya.
Sebuah perangkat yang membantu untuk menemukan pekerjaan yang paling cocok untuk kamu adalah John Holland’s Self Directied Search For Vocational Planning. Yang mana dapat dikelola sendiri. Ini berdasarkan dari kenyataan bahwa manusia di bidang pekerjaan yang samasering memiliki sifat yang mirip,ketertarikan dan kebiasaan dalam melakukan sesuatu. Holland (1973) menggambarkan 6 dari jenis kepribadian bersama dengan lingkungan kerja mereka yang baik. Setelah mencocokan sejumlah kegiatan,ketertarikan dan perkiraan kemampuan anda sendiri, kalian menjumblahkan item untuk menemukan 3 jenis kepribadian yang paling menyerupai.kemudian pada pekerjaan yang terpisah penemu buklet, kalian mencocokan berbagai jenis kepribadian digabungkan dengan beberapa pekerjaan yang cocok. O’connel dan Sedlacek (1972) sudah menemukan Self-Directed search lebih handal dan sedikit membantu untuk perencanaan ketertarikan jurusan.


IV. Kepuasan kerja dan penyesuaian diri dalam pekerjaan
Pengertian Kepuasan Kerja
Locke mengatakan kepuasan kerja ialah “the appraisal of one’s job as attaining or allowing the attainment of one’s important job values, providing these values are congruent with or help fulfill one’s basic needs (Munandar, 2008 ).” Secara singkat dikatakan bahwa tenaga kerja yang puas dengan pekerjaannya merasa senang dengan pekerjaannya.
Howell dan Dipboye(1986) dalam Munandar (2008) memandang kepuasan kerja sebagai hasil keseluruhan dari derajat rasa suka atau tidak sukanya tenaga kerja terhadap berbagai aspek dari pekerjaannya.
Wexley &Yulk (1977) dalam As’ad ( 2008 ) kepuasan kerja ialah “is the way an employee feels about his her job”. Maksudnya adalah kepuasan kerja sebagai “perasaan seseorang terhadap pekerjaan”. Kemudian oleh Vroom (1964) dikatakan sebagai “refleksi dari job attitude yang bernilai positif”.
Kepuasan kerja merupakan penilaian dari pekerja yaitu seberapa jauh pekerjaannya secara keseluruhan memuaskan kebutuhannya. (Hoppeck dalam As’ad, 2008)
Tiffin (1958) berpendapat bahwa kepuasan kerja berhubungan erat dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaannya sendiri, situasi kerja, kerjasama antara peminpin dengan sesama karyawan. Kemudian Blum (1956) mengemukakan bahwa kepuasan kerja merupakan sikap umum yang merupakan hasil dari beberapa sikap khusus terhadap faktor-faktor pekerjaan, penyesuaian diri dan hubungan social individual di luar kerja (As’ad, 2008).
Dari penjelasan di atas penulis menyimpulkan bahwa kepuasan kerja merupakan perasaan dan sikap positif karyawan terhadap pekerjaannya, karena apa yang telah dicapai sesuai dengan harapan karyawan, serta adanya penyesuaian diri karyawan dengan lingkungan kerja. Dari berbagai definisi para tokoh, saya akan menggunakan definisi kepuasan kerja dari Tiffin, karena definisi ini yang paling mendekati dan sesuai dengan penelitian saya.
Teori-Teori Kepuasan Kerja :
  • Discrepancy Theory --> Porter (1961) dalam As’ad (2008) mengukur kepuasan kerja seseorang dengan menghitung selisih antara apa yang seharusnya dengan kenyataannya yang dirasakan (difference between how much of something there should be and how much there “is now”. Locke (1989) menerangkan bahwa kepuasan kerja seseorang bergantung kepada discrepancy antara should be (ecpectation, need, atau values) dengan apa yang menurut perasaannya atau persepsinya telah diperoleh atau dicapai melalui pekerjaan. Dengan demikian, orang akan merasa puas bila tidak ada perbedaan antara yang diinginkan dengan persepsinya atas kenyataan, karena batas minimum yang diinginkan telah terpenuhi. Bila yang didapat ternyata lebih besar daripada yang diinginkan, maka orang akan menjadi lebih puas lagi walaupun terdapat discrepancy, tetapi merupakan discrepancy positif. Sebaiknya semakin jauh kenyataan yang dirasakan itu di bawah standar minimum sehingga menjadi negative discrepancy, maka makin besar pula ketidakpuasan seseorang terhadap pekerjaan.
  • Equity Theory --> Prinsip teori ini adalah bahwa orag akan merasa puas atau tidak puas, tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan (equity) atau tidak atas suatu situasi. Perasaan equity dan inequity atas suatu situasi, diperoleh orang dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain yang sekelas, sekantor maupun di tempat lain. Elemen-elemen equity ada tiga yaitu (Wexley & Yulk (1977) dalam As’ad (2008)) : a). input, Input adalah “is anything of value that an amployee perceives that the contributes to his her job.” Artinya ialah segala sesuatu yang berharga yang dirasakan karyawan sebagai sumbangan terhadap peerjaan. Dalam hal ini misalnya education, experience, skills, amount of effort expected, number of hours worked, and personal tools dan sebagainya. b). Out comes,  Out comes ialah “is anything of value that the employee perceives he obtains from the job.” Artinya adalah segala sesuatu yang berharga, yang dirasakan karyawan sebagai “hasil” dari pekerjaannya seperti misalnya pay, fringe benefits, status symbols, recognition, opportunity for achievement or self-expression. c). Comparison persons, Comparisoan persons ialah kepada orang lain dengan siapa karyawan membandingkan rasio input-out comes yang dimilikinya. Comparison persons ini bisa berupa seseorang di perusahaan yang sama, atau di tempat lain, atau bisa pula dengan dirinya sendiri di waktu lampau. Menurut teori ini setiap karyawan akan membandingkan ratio-out comes dirinya dengan ratio-out comes orang lain. Bila perbandingan itu dianggapnya cukup adil (equity), maka ia akan merasa puas. Bila perbandingan itu tidak seimbang tetapi menguntungkan (over compensation in-equity), bisa menimbulkan kepuasan tetapi bisa pula tidak (misalnya pada orang yang moralis). Tetapi bila perbandingan itu tidak seimbang dan merugikan (under compensation in-equity), akan timbul ketidakpuasan (wexley & Yukl, 1977).
  • Two Factor Theory --> Prinsip teori ini ialah bahwa kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja itu merupakan dua hal yang berbeda (Herzberg, 1966). Artinya kepuasan dan ketidakpuasan terhadap pekerjaan itu tidak merupakan suatu variabel yang kontinyu. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Herzberg (1959). Berdasarkan atas hasil penelitian beliau, membagi situasi yang mempengaruhi sikap seseorang terhadap pekerjaannya menjadi dua kelompok, yaitu : kelompok satisfiers atau motivator dan kelompok dissatisfies atau hygiene factors. Satisfiers (motivator) ialah faktor-faktor atau situasi yang dibuktikannya sebagai sumber kepuasan kerja yang terdiri dari “Achievement, recognition, work it self, responsibility and advancement. Dikatakannya bahwa hadirnya factor ini akan menimbulkan kepuasan, tetapi tidak hadirnya factor ini tidaklah selalu mengakibatkan ketidakpuasan. Dissatisfiers (hygiene factors) ialah faktor-faktor yang terbukti menjadi sumber ketidakpuasan, yang terdiri dari company policy and administration, supervision technical, salary, interpersonal relations, working condition, job security andstatus (Wexley& Jukl, 1977). Perbaikan terhadap kondisi atas situasi ini akan mengurangi atau menghilangkan ketidakpuasan, tetapi tidak akan menimbulkan kepuasan karena ia bukan sumber kepuasan kerja. Jadi, perbaikan salary dan working conditions tidak akan menimbulkan kepuasan tetapi hanya mengurangi ketidakpuasan.
Faktor-Faktor Kepuasan Kerja
Harold E. Burt (dalam As’ad , 2008) mengemukakan pendapatnya tentang factor-faktor yang dapat menimbulkan kepuasan kerja. Factor- factor tersebut adalah :
  • Factor hubungan antar karyawan, antara lain :
1. Hubungan antara manager dengan karyawan
2. Factor fisis dan kondisi kerja 
3. Hubungan social di antara karyawan
4. Sugesti dari teman sekerja 
5. Emosi dan situasi kerja
  • Factor individual, yaitu yang berhubungan dengan :
1. Sikap orang terhadap pekerjaannya 
2. Umur orang sewaktu bekerja 
3. Jenis kelamin (pernah dilakukan penelitian oleh Lawler, 1973, dikutip oleh Wexley & Yukl, 1979)

  • Factor-faktor luar (extern), yang berhubungan dengan :
1. Keadaan keluarga karyawan 
2. Rekreasi 
3. Pendidikan (training, up grading dan sebagainya)

Menurut Sagala dan Rivai (2009), factor-faktor yang biasanya digunakan untuk mengukur kepuasan kerja seorang karyawan adalah :
  • Isi pekerjaan, penampilan tugas pekerjaan yang actual dan sebagai control terhadap pekerjaan
  • Supervise
  • Organisasi dan manjemen
  • Kesempatan untuk maju
  • Gaji dan keuntungan dalam financial lainnya seperti adanya insentif
  • Rekan kerja 
  • Kondisi pekerjaan
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Gilmer (1966) dalam As’ad (2008) sebagai berikut : 
  1. Kesempatan untuk maju. Dalam hal ini ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan peningkatan kemampuan selama kerja. 
  2. Keamanan kerja. Factor ini serong disebut sebagai penunjang kepuasan kerja, baik bagi karyawan pria maupun wanita. Keadaan yang aman sangat mempengaruhi perasaan karyawan selama kerja. 
  3. Gaji. Gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan dan jarang orang mengekspresikan kepuasna kerjanya dengan sejumlah uang yang diperolehnya. 
  4. Perusahaan dan manajemen. Perusahaan dan manajemen yang baik adalah yang mampu memberikan situasi dan kondisi kerja yang stabil. Factor ini yang menentukan kepuasan kerja karyawan. 
  5. Pengawasan (supervisi). Bagi karyawan, supervisor dianggap sebagai figure ayah dan sekaligus atasannya. Supervise yang buruk dapat berakibat absensi dan turn over. 
  6. Factor intrinsic dari pekerjaan. Atribut yang ada pada pekerjaan mensyaratkan ketrampilan tertentu. Sukar dan mudahnya serta kebanggaan akan tugas akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan. 
  7. Kondisi kerja. Termasuk disini adalah kondisi tempat, vertical, penyinaran, kantin, dan tempat parkir. 
  8. Aspek social dalam pekerjaan. Merupakan salah satu sikap yang sulit digambarkan tetapi dipandang sebagai factor yang menunjang puas atau tidak puas dalam kerja.
  9. Komunikasi. Komunikasi yang lancer antar karyawna dengan pihak manajemen banyak dipakai alasan untuk menyukai jabatannya. Dalam hal ini adanya kesediaan pihak atasan untuk mau mendengar, memahami dan mengakui pendapat ataupun prestasi karyawannya sangat berperan dalam menimbulkan rasa puas terhadap kerja. 
  10. Fasilitas. Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pension, atau perumahan merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa cemas.

Dampak Dari Kepuasan Dan Ketidakpuasan Kerja
  • Dampak Terhadap Produktivitas, Terdapat pandangan bahwa kepuasan kerja merupakan akibat, bukan sebab dari produktivitas. Lawler dan Porter (dalam Munandar, 2001) menjelaskan bahwa produktivitas yang tinggi menyebabkan peningkatan kepuasan kerja hanya jika tenaga kerja mempersepsikan bahwa ganjaran intrinsic (misalnya perasaan telah mencapai sesuatu) dan ganjaran ekstrinsik (misalnya gaji) yang diterima secara adil dan wajar diasosiasikan sebagai unjuk kerja yang unggul. Sebaliknya, jika tenaga kerja tidak mempersepsikan ganjaran instrinsik dan ekstrinsik berasosiasi terhadap unjuk kerja, maka kenaikan dalam unjuk kerja tidak akan berhubungan dengan kenaikan dalam kepuasan kerja (dalam Munandar, 2001)
  • Dampak Terhadap Kehadiran (Absenteisme) Dan Keluarnya Tenaga Kerja (Turnover), Porter dan Steers (dalam Munandar, 2008) menyimpulkan bahwa ketidakhadiran dan berhenti bekerja merupakan jawaban yang berbeda secara kualitatif, ketidakhadiran bersifat lebih spontan dan tidak mencerminkan ketidakpuasan kerja, sebaliknya berhenti atau keluar dari pekerjaan mempunyai akibat ekonomis yang besar, maka lebih besar kemungkinannya memiliki hubungan terhadap ketidakpuasan kerja.
Menurut Robbins (dalam Munandar, 2001) ketidakpuasan tenaga kerja dapat diungkapkan dengan empat cara.
  1. Keluar (exit) merupakan ketidakpuasan kerja yang diungkapkan dengan meninggalkan pekerjaan yaitu, mencari pekerjaan lain. 
  2. Menyuarakan (voice) merupakan ketidakpuasan yang diungkapkan melalui usaha aktif dan konstruktif untuk memperbaiki kondisi seperti, memberikan saran perbaikan, mendiskusikan masalah dengan atasannya. 
  3. Mengabaikan (Neglect) merupakan ketidakpuasan yang diungkapkan melalui sikap membiarkan keadaan menjadi lebih buruk, seperti terlambat. 
  4. Kesetiaan (loyality) merupakan ketidakpuasan yang diungkapkan dengan menunggu secara pasif sampai kondisinya menjadi lebih baik.
  • Dampak Terhadap Kesehatan, Terdapat bukti bahwa kepuasan kerja berhubungan dengan kesehatan fisik dan mental. Tingkat dari kepuasan kerja berhubungan dengan kesehatan, sehingga penngkatan dari yag satu dapat meningkatkan yang lain dan sebaliknya penurunan yang atu mempunyai akibat yang negative juga pada yang lain (dalam Munandar, 2001).

V. Bagaimana mengisi waktu luang dengan cara positf?
Kata Thomas Edison: Waktu adalah satu-satunya modal yang dimiliki oleh manusia, dan ia tidak boleh sampai kehilangan waktu.


Meluangkan waktu itu ternyata penting dan banyak cara/kegiatan positif yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang. Misalnya olahraga, jalan-jalan, melakukan hobby, atau ngeblog. Selain itu, mengisi waktu luang setelah kesibukan yang mendera ibarat bayaran dari pekerjaan itu sendiri.
Kita tidak pernah menduga kalau kegiatan yang dilakukan di saat waktu luang bisa juga menghasilkan atau mendapat penghargaan. Siapa yang tahu kalau suatu saat nanti, kegiatan yang dilakukan di waktu luang, bisa menjadi penghasilan terbesar.
Dan, bagaimana kita bisa punya waktu luang di sela-sela kesibukan dengan mengaturnya sebaik mungkin? Berikut ini tips dan triknya:
  1. Jangan pernah terjebak dgn waktu. Bukan waktu yg mengatur kita, tapi kitalah yang mengatur waktu,
  2. Coba sesuatu yang baru yang tidak menyita waktu kerja. Misalnya dengan menulis di smartphone yang kita miliki
  3. Tentukan prioritas. Dengan prioritas bisa diketahui mana yang mendesak, mana yang kurang. Tanpa prioritas, waktu terbuang percuma.
  4. Buat yang super sibuk, buatlah agenda yang harus ditaati. Masukkan waktu bekerja, waktu untuk keluarga, dan waktu untuk diri sendiri.
  5. Pastikan dalam agenda, 50 persen waktu yang dilakukan adalah untuk kegiatan positif atau produktif.
  6. Jangan melakukan pekerjaan/hal yang lain sebelum menuntaskan pekerjaan yang lebih dulu dilakukan. Yang ada keduanya berantakan.
  7. Jika tidak berhubungan dgn pekerjaan, jauhkan diri dari sosial media, hingga pekerjaan tuntas diselesaikan
Menggunakan waktu dengan bijak, maka tidak ada istilah tidak punya waktu luang! Tidak ada waktu yang terbuang percuma.
Kata Stephen R. Covey: Kuncinya terletak bukan pada bagaimana Anda menghabiskan waktu, namun dalam menginvestasikan waktu Anda. Melakukan dua hal bersamaan sama artinya dengan tidak melakukan sesuatu.
Jika merasa jenuh dengan waktu yang telah dihabiskan, ubah kebiasaan itu. Manfaatkanlah waktu luang.


B. SELF DIRECTED
Self-directed changes adalah sebuah teori yang mengajarkan tentang bagaimana kita bisa mengubah diri kearah yang lebih baik dari kenyataan hidup yang kurang mendukung.
Kalau kita tidak bisa mengantisipasi perubahan, maka kita perlu menjadikan perubahan itu sebagai dorngan untuk mengubah diri.
Bagaimana caranya???
Mudah-mudah saja kok! Menurut SDCT (Self-Directed Change Theory) ada 3 cara, yaitu sebagai berikut:

  1. Yang pertama, kita perlu memunculkan rasa tidak puas terhadap kondisi aktual yan kita hadapi saat ini (actual),
  2. Yang kedua, kita perlu memiliki gambaran yang jelas tentang kondisi ideal ang kita inginkan (ideal),
  3. Yang ketiga, kita perlu memiliki konsep yang jelas tentang apa yang bisa kita lakukan untuk bergerak dari kondisi aktual menuju kondisi ideal (Action Step)
Tiga langkah di atas harus berupa satu rangkaian yang tak terpisah. Jika sampai terpisah, akibatnya malah akan jelek. Misalnya, kita tidak puas dengan keadaan sekarang, tetapi rasa itu tidak kita gunakan untuk memunculkan gambaran yang jelas tentang keadaan yang kita inginkan dan tidak pula kita gunakan untuk mendorong mendorong aksi, apa kira-kira yang akan terjadi? Yang paling berpotensi akan terjadi adalah akan muncul konflik-diri. tapi sebaliknya, jika kita sanggup mengelola ketidakpuasan itu menjadi dorongan untuk mendinamiskan batin, pasti hasilnya jauh lebih baik.
Self Directed Change meliliki beberapa tahapan, diantaranya:

  • Meningkatkan Kontrol Diri --> Meningkatkan control diri yaitu, Kontrol diri berkaitan dengan bagaimana cara seseorang mengendalikan emosi serta dorongan-dorongan dalam dirinya (Harlock). Ketika seseorang ingin merubah kebiasaannya terhadap perbedaan yang besar. Contohnya: misalnya seorang perokok berat yang ingin lepas dari kebiasaannya merokok.
  • Menetapkan Tujuan --> Menetapkan tujuan adalah mengubah hal yang buruk menjadi lebih baik lagi. Kita harus menetapkan target unutk mempunyai hidup yang lebih baik lagi. Contoh: kita harus menahan keinginan kita untuk merokok mungkin kita bisa mengganti rokok dengan permen-permen pengganti rokok, dan sebagainya.
  • Pencatatan Perilaku --> Pencatatan perilaku maksudnya adalah kita mencatat hal apa saja yang bisa di rubah dari kebiasaan kita. Contoh: misalnya jika kita mempunyai kebiasaan merokok, catat hal-hal apa saja yang mungkin mengganggu kita untuk tidak merokok. Misalnya dengan menhindari teman yang sedang merokok. Mungkin akan membantu kita untuk mempermudah godaan-godaan yang datang.
  • Menyaring Anteseden Perilaku --> Menyaring anteseden perilaku adalah menuliskan kebiasaan-kebiasaan yang ingin kita perbaiki. Contoh: selain merokok, misalnya kita sering meminum minuman keras. Lalu kita tuliskan kebiasan tersebut untuk di ubah menjadi lebih baik. Dari situ mungkin kita akan berpikir sebenarnya selama ini baik atau burukkah kebiasaan tersebut untuk kesehatan kita.
  • Menyusun Konsekuensi Yang Efektif --> Jika kita sudah berhasil mengontrol kondisi yang memicu kebiasaan kita, kita perlu meningkatkan meningkatkan pengendalian diri, mengatur konsekuensi dari perilaku kita sehingga orang lain dapat menerimanya.
  • Menerapkan Pencana Intervenesi --> Membandingkan seberapa berhasil kita mencapai tujuan-tujuan yang kita kehendaki. Misalnya, menghitung berapa batang atau bungkus rokok yang di hisap dari sebelum kita menerapkan tahapan-tahapan ini sampai sudah menerapkan tahapan ini.
  • Evaluasi --> Evaluasi adalah, melihat berapa besar kemajuan yang sudah kita lakukan untuk perubahan yang lebih baik. Pastikan setiap tahapan terpenuhi. Jika memang ada tahapan yang belum bisa terpenuhi lebih baik kita mengulang tahapan-tahapan tersebut agar tujuan dapat tercapai dengan baik.
  • Cara meningkatan kontrol diri --> Dalam perkembangan kontrol-diri, beberapa ahli menganggap bahwa pada usia remaja kontrol-diri sudah mencapai akhir perkembangan, penelitian membuktikan bahwa kontrol-diri yang rendah pada masa remaja berhubungan dengan kontrol-diri yang rendah pula pada masa dewasa.
Namun ahli lain mengatakan bahwa kontrol-diri dapat berkembang sepanjang kehidupan.
Seperti yang dilaporkan oleh Fujita dkk,kontrol-diri dapat ditingkatkan melalui beberapa cara berfikir yang saling berhubungan :

  1. Global Processing, mencoba fokus pada gambaran besar dari tujuan hidup atau cita-cita kita, sehingga setiap kegiatan atau tindakan kita dilihat sebagai bagian dari pencapaian tujuan akhir.
  2. Abstrac listening, mencoba menolak detil-detil dalam situasi khusus untuk membawa kita berfikir bagaimana tindakan kita sesuai dengan rencana kerja kita secara keseluruhan. Contohnya : seseorang mungkin harus mengurangi berfikir tentang detil-detil beratnya latihan fisik tetapi mencoba untuk fokus pada gambaran fisik yang ideal yang akan dicapai bila dia tetap menjalankan latihan dengan baik.
  3. High-level categorization, berfikir tentang konsep tingkat tinggi daripada keadaan yang khusus atau sesaat. Katagorisasi tugas dapat membantu kita untuk mengatur fokus dan mencapai disiplin-diri yang lebih besar.
Beberapa hal diatas dapat diterapkan pada banyak situasi dimana pada saat itu dibutuhkan kontrol-diri.
Pendek kata ketiga cara berfikir diatas adalah cara yang berbeda untuk mengatakan hal yang sama yaitu : berfikir global, obyektif dan abstak , sehingga peningkatan kontrol-diri akan mengikuti kemudian.

II. Cara menetapkan suatu tujuan
Kita semua memiliki hal-hal yang ingin kita capai dalam hidup dan, untuk sebagian besar, kami melakukan yang terbaik untuk mencapai Tujuantersebut. Kadang-kadang, bagaimanapun, kami berhasil menetapkan tujuan yang tidak efektif atau dicapai dan ini dapat menyebabkan kita banyak perselisihan.
Bagaimana Anda tahu jika tujuan Anda adalah efektif dan dapat dicapai?
Hal pertama yang harus dilakukan adalah menuliskan sumber daya yang Anda perlukan untuk mencapai tujuan Anda, baik sumber daya fisik dan yang mental. Jika ada sesuatu yang Anda butuhkan untuk menyelesaikan sebelum Anda dapat membuat tujuan Anda menjadi kenyataan, memprioritaskan langkah-langkah yang harus Anda ambil untuk menyelesaikan tugas yang pertama. Sebagai contoh, Anda mungkin perlu jumprope jika tujuan Anda adalah untuk latihan. Setelah sumber daya Anda berada di tempat, Anda telah membuka jalan raya untuk pencapaian. Mari kita lihat bagaimana untuk memasuki jalan di-sehingga Anda dapat berada di jalan.
Berikut adalah beberapa strategi yang bisa Anda gunakan untuk menciptakan tujuan yang efektif Anda benar-benar dapat mencapai:

  1. Pastikan tujuan Anda adalah spesifik. Tetapkan tujuan terukur sehingga Anda dapat mencapai dan berhasil. Menentukan jumlah yang tepat dan jangka waktu dari apa pun yang Anda ingin capai. * Menetapkan tujuan untuk menjadi seorang pelari cepat atau memasak lebih baik tidak bekerja karena tidak ada hasil akhir yang spesifik. Anda tidak akan dapat menilai apakah Anda pernah mencapai tujuan itu karena, tidak peduli apa, selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik pada sesuatu. * Di sisi lain, mengatakan tujuan Anda adalah untuk "meningkatkan kecepatan Anda berjalan dengan mencukur 10 detik dari Waktu yang diperlukan untuk menjalankan program Anda" adalah spesifik dan Anda dapat mengetahui bahwa anda telah mencapai hal itu.
  2. Tujuan Anda juga harus dapat dicapai dan realistis. Anda tidak akan menetapkan tujuan Anda untuk menurunkan £ 40 dalam 10 hari berikutnya, karena itu hanya tidak realistis. Menetapkan tujuan untuk kehilangan £ 40 selama 12-14 minggu berikutnya adalah tujuan nyata dan dapat dicapai. * Tujuan tercapai yang kontraproduktif. Tidak hanya bisa Anda pernah menyelesaikan tujuan yang tak terjangkau, tetapi juga dapat mencegah Anda dari bahkan mencoba. Dengan menetapkan tujuan Anda tidak mungkin bertemu, Anda sedang menyiapkan diri untuk kegagalan dan menurunkan Anda sendiri kepercayaan diri.
  3. Beri diri Anda batas waktu untuk tujuan Anda. Menetapkan tenggat waktu membuat prioritas tujuan, terus dalam pikiran Anda, dan membuatnya lebih mudah untuk dicapai. Jika Anda tahu Anda hanya memiliki kerangka waktu tertentu di mana untuk mencapai sesuatu, Anda cenderung untuk fokus lebih banyak waktu dan energi pada tugas itu. * Jika Anda memiliki tujuan besar, kemudian membaginya menjadi tujuan jangka pendek, atau langkah. Tujuan yang lebih kecil membuat Anda tetap fokus pada pencapaian tujuan yang lebih besar sepanjang mereka terkait satu sama lain. * Sebagai contoh, jika tujuan Anda adalah untuk dipromosikan dalam enam bulan, kemudian mendirikan enam bulan satu tujuan yang dirancang untuk meningkatkan kinerja pekerjaan Anda akan berkontribusi terhadap tujuan keseluruhan.
  4. Tuliskan tujuan Anda. Anda harus tetap dipasang di tempat yang Anda akan melihat setiap hari. Kebanyakan orang memiliki lebih dari satu gol pada suatu waktu. Anda dapat menetapkan tujuan dalam berbagai bidang: keluarga, pekerjaan, Kesehatan, pendidikan, hobi, atau bagian dari kehidupan Anda di mana Anda ingin membuat perubahan. Pertanyaannya adalah bagaimana untuk menangani semua tujuan ini pada waktu yang sama. Menuliskan setiap tujuan dapat membantu Anda untuk mengatur mereka, memprioritaskan mereka, dan lebih baik meMotivasi Anda untuk bekerja untuk mencapai mereka. * Setelah Anda memiliki mereka ditulis, Anda dapat melihat cara mereka terhubung satu sama lain dan dapat menemukan cara-cara untuk bekerja pada mereka pada waktu yang sama. * Sebagai contoh, katakanlah satu tujuan Anda adalah untuk mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan uang lebih banyak dan lainnya adalah untuk melanjutkan pendidikan Anda. Setelah Anda menyelesaikan pendidikan Anda, Anda harus dapat lahan pekerjaan yang lebih baik. Apakah Anda melihat bagaimana satu gol feed ke yang lain? * Mungkin salah satu tujuannya adalah untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga Anda dan satu sama lain adalah olahraga. Nah, jika Anda berolahraga sebagai sebuah keluarga sekali atau dua kali seminggu, Anda akan mencapai kedua tujuan pada waktu yang sama. Menggunakan Tujuan pengaturan tips akan membuat tujuan Anda lebih spesifik, efektif, dan dapat dicapai. Setelah Anda memutuskan pada tujuan dan keinginan Anda, membuat rencana langkah-langkah tindakan dan tongkat dengan itu. Dalam waktu, Anda akan mencapai tujuan tersebut dan Anda akan memiliki sistem di tempat untuk usaha apapun!

III. Cara Menyusun Konsekuensi Yang Efektif
Semua berkonsekuensi. Kalau tidak mau berkonsekuensi jangan mengambil tindakan apapun, tapi itupun menimbulkan konsekuensi. Dunia ini selalu memberikan dua nilai atau batasan yaitu baik-buruk atau 2 sisi yang berkonotasi ke arah positif atau negatif. Begitu juga dengan konsekuensi. Parameter positif atau negatif tergantung bagaimana memilihnya. Reinhold Niebuhr mengatakan “All human sin seems so much worse in its consequences than in its intentions“. Keberanianlah yang menyempitkan jarak ketakutan akibat dari konsekuensi.
Mempersiapkan, itu sebuah tindakan karena tahu dengan konsekuensi. Mengabaikan berarti memperbesar konsekuensi. Hal ini berlaku terhadap hal yang baik maupun buruk, walaupun konteksnya lebih ke arah yang buruk. Setiap sisi, elemen obyek dan yang terkait harus benar-benar dipahami kalau perlu sampai hal yang paling detail sehingga terakomodir semua. Langkah tadi akan menghasilkan sebuah desain yang jelas sehingga segala dampak dari konsekuensi terinventarisasi dengan baik dan berujung pada proses minimalisasi kegagalan. Tapi tidak jarang hal ini diabaikan dengan menganggap sebagai bentuk kegiatan yang bertele-tele. Mereka sebenarnya sangat tahu tapi selalu menghibur diri dan menguatkan diri dengan kalimat “ah lihat aja nanti yang penting lakuin dulu….“. Begitu sederhana. Hanya orang-orang yang bermental tebal atau masuk kategori nekad yang bisa menganggap enteng sebuah konsekuensi dari sebuah tindakan (berat). Nekad itu kadang bisa menguatkan dari rasa ketidakpercayaan diri, dan tidak jarang membuahkan hasil sesuai dengan rencana, tapi itu mungkin masuk kategori nekad cermat.

IV. Menerapkan Rencana Intervensi
Adapun rencana intervensi yang dibuat praktikan untuk menangani masalah klien “MG” adalah sebagai berikut:

  • Social Case Work Method, Metode Bimbingan Sosial Individu menekankan pada pertolongan secara khusus terhadap individu yang mengalami masalah tersebut.
  • Social Group Work Method,Metode Bimbingan Sosial Kelompok menekankan bahwa pertolongan dapat dilakukan dengan melakukan modifikasi peran kelompok untuk dapat saling membantu menghadapi masalahnya.
  • Motivation Training, Training motivasi akan dibawakan oleh trainer profesional dengan materi seputar merancang masa depan. Apa Saja Yang Dilakukan Dalam Proses Evaluasi. Evaluasi adalah proses penilaian. Dalam perusahaan, evaluasi dapat diartikan sebagai proses pengukuran akan efektifitas strategi yang digunakan dalam upaya mencapai tujuan perusahaan. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut akan digunakan sebagai analisis situasi program berikutnya.
Dalam mengadakan sebuah proses evaluasi, terdapat beberapa hal yang akan dibahas yaitu apa yang menjadi bahan evaluasi, bagaimana proses evaluasi, kapan evaluasi diadakan, mengapa perlu diadakan evaluasi, dimana proses evaluasi diadakan, dan pihak yang mengadakan evaluasi. Hal yang perlu dilakukan evaluasi tersebut adalah narasumber yang ada, efektifitas penyebaran pesan, pemilihan media yang tepat dan pengambilan keputusan anggaran dalam mengadakan sejumlah promosi dan periklanan. Evaluasi tersebut perlu diadakan dengan tujuan untuk menghindari kesalahan perhitungan pembiayaan, memilih strategi terbaik dari berbagai alternatif strategis yang ada, meningkatkan efisiensi iklan secara general, dan melihat apakah tujuan sudah tercapai. Di sisi lain, perusahaan kadang-kadang enggan untuk mengadakan evaluasi karena biayanya yang mahal, terdapat masalah dengan penelitian, ketidaksetujuan akan apa yang hendak dievaluasi, merasa telah mencapai tujuan, dan banyak membuang waktu.

Secara garis besar, proses evaluasi terbagi menjadi di awal (pretest) dan diakhir (posttest). Pretest merupakan sebuah evaluasi yang diadakan untuk menguji konsep dan eksekusi yang direncanakan. Sedangkan, posttest merupakan evaluasi yang diadakan untuk melihat tercapainya tujuan dan dijadikan sebagai masukan untuk analisis situasi berikutnya.

Evaluasi dapat dilakukan di dalam atau diluar ruangan. Evaluasi yang diadakan di dalam ruangan pada umumnya menggunakan metode penelitian laboratorium dan sampel akan dijadikan sebagai kelompok percobaan. Kelemahannya, realisme dari metode ini kurang dapat diterapkan. Sementara, evaluasi yang diadakan di luar ruangan akan menggunakan metode penelitian lapangan dimana kelompok percobaan tetap dibiarkan menikmati kebebasan dari lingkungan sekitar. Realisme dari metode ini lebih dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mencapai evaluasi tersebut dengan baik, diperlukan sejumlah tahapan yang harus dilalui yakni menentukan permasalahan secara jelas, mengembangkan pendekatan permasalahan, memformulasikan desain penelitian, melakukan penelitian lapangan untuk mengumpulkan data, menganalisis data yang diperoleh, dan kemampuan menyampaikan hasil penelitian.










Sabtu, 25 Mei 2013

TUGAS PORTOFOLIO KE-3

A. HUBUNGAN INTERPERSONAL
1. model pertukaran sosial  Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley, dua orang pemuka dari teori ini menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut :
“Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya”.
 Ganjaran yang dimaksud adalah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran dapat berupa uang, penerimaan sosial, atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Sedangkan yang dimaksud dengan biaya adalah akibat yang negatif yang terjadi dalam suatu hubungan. Biaya itu dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri dan kondisi-kondisi lain yang dapat menimbulkan efek-efek tidak menyenangkan. analisis transaksional Analisis transaksional (AT) adalah suatu pendekatan psikoteraputik yang sangat dapat diterapkan dalam praktik pekerjaan sosial klinis (Cooper & Turner, 1996). Analisis Transaksional-gagasan Eric Berne (1910-1970) merupakan suatu pendekatan untuk mensistematisasi, menganalisis, dan mengubah saling pengaruh diantara manusia, yang menekankan interaksi keduanya (antara diri dan manusia lain) dan kesadaran internal (regulasi dan ekspresi diri).Tinjauan teoritik tentang analisis transaksional dikaitkan dengan suatu pendekatan yang mengaitkan internal (interpsikis) dengan interpersonal dan relasional. Pada intinya, makna analisis transaksional adalah untuk memperkaya kemampuan-kemampuan menghadapi (coping) dan mengatur (regulatory) situasi yang paling dalam dan interaksi kehidupan nyata.
Analisis transaksional dibagi kedalam kategori-kategori sebagai berikut :

  • Keadaan ego (ego states)
  • Transaksi (transactions)
  • Permainan dan drama segitiga (games and the drama triangle)
  • Naskah (scripts)
  • Gerakan dan lakon cerita (strokes and scriptwork)
  • Posisi kehidupan (life position)
  • Perintah dan keputusan ulang naskah (script injunctions and redecision)

2. pembentukan kesan,  Ellen Berscheid (Berscheid, 1985; Berscheid & Peplau 1983; Berscheid & Reis, 1998) menyatakan bahwa apa yang membuat orang-orang dari berbagai usia merasa bahagia, dari daftar jawaban yang ada, yang tertinggi atau mendekati tertinggi adalah membangun dan mengelola persahabatan dan memiliki hubungan yang positif serta hangat. Tiadanya hubungan yang bermakna dengan orang-orang lain membuat individu merasa kesepian, kurang berharga, putus asa, tak berdaya, dan keterasingan. Ahli Psikologi Sosial, Arthur Aron menyatakan bahwa motivasi utama manusia adalah ’ekspresi diri’ (self expression). 

Penyebab ketertarikan, dimulai dari awal rasa suka hingga cinta berkembang dalam hubungan yang erat meliputi :
  • Aspek kedekatan
  • Kesamaan 
  • Kesukaan timbal balik 
  • Ktertarikan fisik dan kesukaan
Teori Ketertarikan Interpersonal 
  • Social Exchange Theory : Teori ini mengacu pada pernyataan sederhana bahwa relasi berlangsung mengikuti model ekonomi ‘costs and benefits’ seperti kondisi pasar, yang telah diperluas oleh para psikolog dan sosiolog menjadi teori pertukaran sosial (social exchange theory) yang lebih kompleks. Teori pertukaran sosial menyatakan bahwa perasaan orang tentang suatu hubungan tergantung pada persepsinya mengenai hasil positif (rewards) dan ongkos (costs) hubungan, jenis hubungan yang mereka jalani, dan kesempatan mereka untuk memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain. 
  • Equity Theory : Beberapa peneliti mengritik teori pertukaran sosial yang mengabaikan pentingnya keadilan atau keseimbangan dalam hubungan. Para pendukung teori ini berpendapat bahwa orang tidak sekedar berusaha mendapatkan rewards sebanyak-banyaknya dan mengurangi costs, melainkan juga peduli mengenai keseimbangan dalam hubungan, yaitu bahwa rewards dan costs yang mereka alami dan kontribusi yang mereka berikan dalam hubungan tersebut kira-kira seimbang dengan pihak lain. Teori ini menggambarkan bahwa hubungan yang seimbang adalah yang membahagiakan dan relatif stabil. 

3. Model Peran 
Terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai-nilai social, yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya. Keempat asumsi tersebut sebagai berikut :
  • Secara implicit bermain peran mendukung sustau situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ‘’di sini pada saat ini’’. Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan analogy mengenai situasi kehidupan nyata. Tewrhadap analogy yang diwujudkan dalam bermain peran, para peserta didik dapat menampilkan respons emosional sambil belajar dari respons orang lain. 
  • Kedua, bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Mengungkapkan perasaan untuk mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama dari psikodrama (jenis bermain peran yang lebih menekankan pada penyembuhan). Namun demikian, terdapat perbedaan penekanan antara bermain peran dalam konteks pembelajaran dengan psikodrama. Bermain peran dalam konteks pembelajaran memandang bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan kegiatan utama dan integral dari pembelajaran; sedangkan dalam psikodrama, pemeranan dan keterlibatan emosional pengamat itulah yang paling utama. Perbedaan lainnya, dalam psikodrama bobot emosional lebih ditonjolkan daripada bobot intelektual, sedangkan pada bermain peran peran keduanya memegang peranan yang sangat penting dalam pembelajaran. 
  • Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Dengan demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Dengan demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Oleh sebab itu, model mengajar ini berusaha mengurangi peran guru yang teralu mendominasi pembelajaran dalam pendekatan tradisional. Model bermain peran mendorong peserta didik untuk turut aktif dalam pemecahan masalah sambil menyimak secara seksama bagaimana orang lain berbicara mengenai masalah yang sedang dihadapi. 
  • Model bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan system keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan. Dengan demikian, para pserta didik dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah. Tanpa bantuan orang lain, para peserta didik sulit untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya. 
Terdapat tiga hal yang menentukan kualitas dan keefektifan bermain peran sebagai model pembelajaran, yakni (1) kualitas pemeranan, (2) analisis dalam diskusi, (3) pandangan peserta didik terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi.

Konflik
Konflik adalah adanya pertentangan yang timbul di dalam seseorang (masalah intern) maupun dengan orang lain (masalah ekstern) yang ada di sekitarnya. Konflik dapat berupad perselisihan (disagreement), adanya keteganyan (the presence of tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antar kedua belah pihak, sampai kepada mana pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai pengahalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan masing-masing. 
Substantive conflicts merupakan perselisihan yang berkaitan dengan tujuan kelompok,pengalokasian sumber dalam suatu organisasi, distrubusi kebijaksanaan serta prosedur serta pembagaian jabatan pekerjaan. Emotional conflicts terjadi akibat adanya perasaan marah, tidak percaya, tidak simpatik, takut dan penolakan, serta adanya pertantangan antar pribadi (personality clashes).  Dalam sebuah organisasi, pekerjaan individual maupun sekelompok pekerja saling berkait dengan pekerjaan pihak-pihak lain. Ketika suatu konflik muncul di dalam sebuah organisasi, penyebabnya selalu diidentifikasikan dengan komunikasi yang tidak efektif yang menjadi kambing hitam

Adequancy peran & autentisitas dalam  hubungan peran
Kecukupan perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada preskripsi ( ketentuan ) dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut.

4. Definisi Intimacy 
Sternberg (dalam Papalia, 2004) intimacy adalah komponen emosi dari cinta yang meliputi perasaan dengan orang lain, seperti perasaan hangat, sharing, dan kedekatan emosi serta mengandung pengertian sebagai elemen afeksi yang mendorong individu untuk selalu melakukan kedekatan emosional dengan orang yang dicintainya. Menurut Baur and Crooks (2008) Intimacyjuga merupakan salah satu upaya untuk membantu orang lain, keterbukaan dalam sharing, bertukar pikiran, dan merasakan sedih ataupun senangnya dengan seseorang yang dicintainya. Bentuk-bentuk intim yaitu dari persaudaraan, persahabatan dan percintaan. Pertama persaudaraan yaitu  hubungan intim yang terhadap saudara didasarkan adanya hubungan darah.
Pada persaudaraan itu di dalamnya terkandung keakraban. Kehidupan bersama tersebut memungkinkan segala hubungan terjadi, misalanya keakraban, kedekatan, dan interaksi. 
Baumgardner dan Clothers dalam Hanurawan, (2010). Keintiman adalah suatu konsep yang mengacu pada perasaan kedekatan atau perasaan keterhubungan diantara dua orang. Perasan-perasaan itu seperti pada fenomena seseorang memikirkan kesejahteraan orang lain, pemahaman timbal balik dengan orang lain, dan kemampuan berbagi (sharring) dengan orang lain. Dalam keintiman, orang yang melakukan interaksi sosial pada suatu hubungan cinta menjadi saling memahami diantara kedua belah pihak dan terdapat fenomena kehangatan afeksi diantara kedua belah pihak. Berdasarkan teori di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud denganintimasi adalah suatu hubungan timbal balik antar individu, yang terwujud dengan saling berbagi perasaan dan pikiran yang mendalam, saling membuka diri serta menerima dan menghargai satu sama lain. 
Dimensi Intimasi :
  • Intensity 
  • Commitment  
  • Emotion 
  • Sexuality 
  • Gender 
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keintiman
Atwater, (1983) mengatakan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keintiman, yaitu : 

"Saling terbuka"

Saling berbagi pikiran dan perasaan yang dalam, serta rasa saling percaya diperlukan untuk membina dan mempertahankan keintiman.  

5. Intimacy dan Pertumbuhan 
Menurut Crooks & baur, (1983) ada beberapa tahapan perkembangan terjadinya iintimasi, yaitu sebagai berikut :
  • Penerimaan diri, Erikson dalam Crooks & Baur, (1983) percaya bahwa penerimaan diri yang positif adalah suatu persyaratan untuk suatu hubungan yang memuaskan. Dengan perasaan positif, individu yang dapat menerima diri dapat menjadi fondasi untuk menjalin intimasi di dalam hubungan.
  • Saling berinteraksi, Bila ada interaksi yang berjalan di antara dua individu maka hal tersebut dapat menjadi dasar yang baik di dalam suatu hubungan yang positif.
  • Memberi tanggapan, Jenis-jenis respon atau tanggapan tertentu, misalnya dengan individu saling mendengarkan, mengerti, dan memahami pandangan maka kelestarian hubungan akan terjaga.
  • Perhatian, Perhatian yang dicurahkan oleh individu dapat memotivasikan pasangan dan menjaga kesejahteraan hubungan.
  • Rasa percaya, Dengan rasa percaya bahwa pasangan akan berlaku secara konsisten, berusaha untuk membina pertumbuhan dan mempertahankan stabilitas hubungan, maka keutuhan hubungan akan selalu terjaga.
  • Kasih sayang, Pengekspresian kasih sayang kepada pasangan dapat meningkatkan jalinan intimasi diantara pasangan.
  • Kemampuan untuk bergembira bersama pasangan, Individu dapat mengutarakan kegembiraan dan kesenangan dengan cara menghabiskan waktu bersama.
  • Berhubungan seksual, Kadang pasangan melakukan hal ini untuk pengekspresian perasaannya, namun bila pasangan melakukan hal tersebut tanpa melalui tahpan-tahapan sebelumnya, maka akan terjadi perasaan kedekatan emosional diantara keduanya.

B. CINTA DAN PERKAWINAN

1. bagaimana memilih pasangan?
Harus seiman, sevisi. Allah memiliki suatu standar khusus dalam memilih pasangan hidup Pasangan hidup haruslah seiman, seimbang, sepadan dan sevisi.
a) Seiman.
Alkitab melarang dengan keras kita memilih pasangan di luar Kristus karena terang tidak bisa bersatu dengan gelap. Tidak ada istilah spekulasi dalam hal ini. Kita tidak dapat seolah-olah bersifat seperti seorang ‘pahlawan’ yang akan menobatkan pasangan kita
b) Seimbang
bukan berarti bahwa segalanya harus sama, tetapi seimbang berarti kita dapat mengikuti jalan pikiran dan tindakan pasangan kita. Contoh yang tidak seimbang. Yang laki sangat pintar, lulusan S3, sedangkan yang perempuan lulusan SD, maka kedua orang ini akan sulit berkomunikasi. Sebenarnya kekayaan, kedudukan, kepandaian, suku dan lain-lain tidak menghalangi kita, dan bukan merupakan syarat utama, tetapi akan menjadi masalah apabila tidak dibicarakan dan diatasi sejak awal. Yang penting di sini adalah seimbang dalam jalan pikiran dan tingkat kerohanian (sama-sama bisa melayani dan menggenapi rencana Tuhan dalam hidup mereka)
c) Sevisi
berarti kita memiliki visi yang sama dengan pasangan kita. Visi yang sama tidak berarti melayani atau memiliki panggilan dalam bidang yang sama, tetapi bersifat saling mendukung untuk mendukung suatu visi yang dapat dicapai dengan kerjasama di antara mereka. Contoh: yang laki seorang penginjil, yang perempuan seorang pendoa yang bersama-sama bekerja untuk memenangkan jiwa-jiwa. 

2. seluk-beluk dalam hubungan perkawinan
Kehidupan pernikahan tentunya tidak akan selamanya berjalan mulus. Ada waktunya Anda dan pasangan menghadapi berbagai cobaan yang bisa menimbulkan keretakan. Jika bisa melewati momen tersebut artinya Anda lulus dari ujian yang memang umum dialami suami-istri. Namun kalau gagal, bukan tidak mungkin pernikahan berakhir cerai. seperti :
  • Kehidupan Seks Monoton, Isu seks juga bisa menjadi pemicu pertengkaran. Pasangan yan sudah menjalani hubungan yang lama akan merasa kehidupan seks mereka tidak seperti dulu lagi. Sebenarnya kehidupan seks yang baik dapat mempererat dan membuat hubungan menjadi lebih harmonis. Untuk mengatasi hal ini sebaiknya selalu berinovasi dalam kehidupan seks Anda dan tidak malu kepada pasangan untuk membicarakannya.
  • Pengambilaan Keputusan Penting, Semua pasangan pasti pernah atau akan menghadapi keadaan dimana harus memilih keputusan yang paling benar. Entah itu mulai dari hal kecil sampai hal besar seperti pada saat menerima pekerjaan baru, membeli rumah baru, sampai keinginan menambah momongan. Apabila anda dan pasangan dihadapkan pada suatu masalah yang mengharuskan membuat keputusan, coba buatlah pro dan kontra yang akan timbul apabila keputusan itu diambil dan selalu bicarakan kepada pasangan terebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu.
  • Timbul Perasaan Bosan, Seperti halnya Anda bosan mengenakan sepatu atau tas kesayangan setiap hari, Anda juga bisa merasakan perasaan yang sama terhadap pasangan. Timbulnya perasaan ini karena Anda sudah bersama dengan pasangan dalam jangka waktu yang lama. Cobalah untuk menghargai keberadaan pasangan yang sudah menemani Anda dalam masa yang mudah maupun sulit dan terbuka dalam setiap masalah.
  • Tragedi yang Tidak Terduga, Anda dan pasangan mungkin sudah terbiasa untuk mengatasi masalah yang timbul sehari-hari tapi ingatlah masih ada banyak tragedi yaang tidak terduga seperti saat dimana orangtua meninggal dunia atau pasangan anda divonis mengidap penyakit kronis. Tidak ada solusi yang mudah jika tragedi tersebut menghampiri Anda dan pasangan dan masalah ini bisa mengganggu kehidupan sehari-hari. Tragedi ini akan membuat Anda frustasi atau stres. Tapi jawaban dari semuanya adalah yakini diri bahwa Anda mempunyai pasangan yang selalu mendukung dan menyayangi Anda.
  • Krisis Usia Paruh Baya, Tidak dipungkiri bahwa Anda dan pasangan akan mengalami penuaan, kemudian mengalami krisis usia paruh baya. Untuk mempertahankan keharmonisan dengan pasangan dan meminimalkan dampak psikologis dari krisis usia paruh baya tersebut mulailah bernostalgia tentang masa muda Anda dengan pasangan dan mencari passion dalam diri anda untuk membangkitkan semangat yang baru di usia yang sudah tidak muda lagi bersama pasangan.
 
3. penyesuaian dan pertumbuhan dalam perkawinan
Perkawinan tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan dalam hidup yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah perkawinan, sering tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan serta terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak.
Relasi yang diharapkan dalam sebuah perkawinan tentu saja relasi yang erat dan hangat. Tapi karena adanya perbedaan kebiasaan atau persepsi antara suami-istri, selalu ada hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. Dalam kondisi perkawinan seperti ini, tentu sulit mendapatkan sebuah keluarga yang harmonis.
Pada dasarnya, diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah perkawinan, yang mencakup perubahan diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila hanya mengharap pihak pasangan yang berubah, berarti kita belum melakukan penyesuaian.
Banyak yang bilang pertengkaran adalah bumbu dalam sebuah hubungan. Bahkan bisa menguatkan ikatan cinta. Hanya, tak semua pasangan mampu mengelola dengan baik sehingga kemarahan akan terakumulasi dan berpotensi merusak hubungan.


4. perceraian dan pernikahan kembali
Pernikahan bukanlah akhir kisah indah bak dongeng cinderella, namun dalam perjalanannya, pernikahan justru banyak menemui masalah. Menikah Kembali setelah perceraian mungkin menjadi keputusan yang membingungkan untuk diambil. Karena orang akan mencoba untuk menghindari semua kesalahan yang terjadi dalam perkawinan sebelumnya dan mereka tidak yakin mereka bisa memperbaiki masalah yang dialami. Mereka biasanya kurang percaya dalam diri mereka untuk memimpin pernikahan yang berhasil karena kegagalan lama menghantui mereka dan membuat mereka ragu-ragu untuk mengambil keputusan.
Apa yang akan mempengaruhi peluang untuk menikah setelah bercerai? Ada banyak faktor. Misalnya seorang wanita muda pun bisa memiliki kesempatan kurang dari menikah lagi jika dia memiliki beberapa anak. Ada banyak faktor seperti faktor pendidikan, pendapatan dan sosial.
Sebagai manusia, kita memang mempunyai daya tarik atau daya ketertarikan yang tinggi terhadap hal-hal yang baru. Jadi, semua hal yang telah kita miliki dan nikmati untuk suatu periode tertentu akan kehilangan daya tariknya. Misalnya, Anda mencintai pria yang sekarang menjadi pasangan karena kegantengan, kelembutan dan tanggung jawabnya. Lama-kelamaan, semua itu berubah menjadi sesuatu yang biasa. Itu adalah kodrat manusia. Sesuatu yang baru cenderung mempunyai daya tarik yang lebih kuat dan kalau sudah terbiasa daya tarik itu akan mulai menghilang pula. Ada kalanya, hal-hal yang sama, yang terus-menerus kita lakukan akan membuat jenuh dalam pernikahan.
Esensi dalam pernikahan adalah menyatukan dua manusia yang berbeda latar belakang. Untuk itu kesamaan pandangan dalam kehidupan lebih penting untuk diusahakan bersama.
Jika ingin sukses dalam pernikahan baru, perlu menyadari tentang beberapa hal tertentu, jangan biarkan kegagalan masa lalu mengecilkan hati. Menikah Kembali setelah perceraian bisa menjadi pengalaman menarik. tinggalkan masa lalu dan berharap untuk masa depan yang lebih baik.

5. alternatif selain pernikahan
Paradigma terhadap lajang cenderung memojokkan. pertanyaannya kapan menikah?? Ganteng-ganteng kok ga menikah? Apakah Melajang Sebuah Pilihan??
Ada banyak alasan untuk tetap melajang. Perkembangan jaman, perubahan gaya hidup, kesibukan pekerjaan yang menyita waktu, belum bertemu dengan pujaan hati yang cocok, biaya hidup yang tinggi, perceraian yang kian marak, dan berbagai alasan lainnya membuat seorang memilih untuk tetap hidup melajang. Batasan usia untuk menikah kini semakin bergeser, apalagi tingkat pendidikan dan kesibukan meniti karir juga ikut berperan dalam memperpanjang batasan usia seorang untuk menikah. Keputusan untuk melajang bukan lagi terpaksa, tetapi merupakan sebuah pilihan. Itulah sebabnya, banyak pria dan perempuan yang memilih untuk tetap hidup melajang.
Persepsi masyarakat terhadap orang yang melajang, seiring dengan perkembangan jaman, juga berubah. Seringkali kita melihat seorang yang masih hidup melajang, mempunyai wajah dan penampilan di atas rata-rata dan supel. Baik pelajang pria maupun wanita, mereka pun pandai bergaul, memiliki posisi pekerjaan yang cukup menjanjikan, tingkat pendidikan yang baik.
Alasan yang paling sering dikemukakan oleh seorang single adalah tidak ingin kebebasannya dikekang. Apalagi jika mereka telah sekian lama menikmati kebebasan bagaikan burung yang terbang bebas di angkasa. Jika hendak pergi, tidak perlu meminta ijin dan menganggap pernikahan akan membelenggu kebebasan. Belum lagi jika mendapatkan pasangan yang sangat posesif dan cemburu.
Banyak perusahaan lebih memilih karyawan yang masih berstatus lajang untuk mengisi posisi tertentu. Pertimbangannya, para pelajang lebih dapat berkonsentrasi terhadap pekerjaan. Hal ini juga menjadi alasan seorang tetap hidup melajang.
Banyak pria menempatkan pernikahan pada prioritas kesekian, sedangkan karir lebih mendapat prioritas utama. Dengan hidup melayang, mereka bisa lebih konsentrasi dan fokus pada pekerjaan, sehingga promosi dan kenaikan jabatan lebih mudah diperoleh. Biasanya, pelajang lebih bersedia untuk bekerja lembur dan tugas ke luar kota dalam jangka waktu yang lama, dibandingkan karyawan yang telah menikah.
Kemapanan dan kondisi ekonomi pun menjadi alasan tetap melajang. Pria sering kali merasa kurang percaya diri jika belum memiliki kendaraan atau rumah pribadi. Sementara, perempuan lajang merasa senang jika sebelum menikah bisa hidup mandiri dan memiliki karir bagus. Mereka bangga memiliki sesuatu yang dihasilkan dari hasil keringat sendiri. Selain itu, ada kepuasaan tersendiri.
Banyak yang mengatakan seorang masih melajang karena terlalu banyak memilih atau ingin mendapat pasangan yang sempurna sehingga sulit mendapatkan jodoh. Pernikahan adalah untuk seumur hidup. Rasanya tidak mungkin menghabiskan masa hidup kita dengan seorang yang tidak kita cintai. Lebih baik terlambat menikah daripada menikah akhirnya berakhir dengan perceraian.
Lajang pun lebih mempunyai waktu untuk dirinya sendiri, berpenampilan lebih baik, dan dapat melakukan kegiatan hobi tanpa ada keberatan dari pasangan. Mereka bebas untuk melakukan acara berwisata ke tempat yang disukai dengan sesama pelajang.
Pelajang biasanya terlihat lebih muda dari usia sebenarnya jika dibandingkan dengan teman-teman yang berusia sama dengannya, tetapi telah menikah.
Ketika diundang ke pernikahan kerabat, pelajang biasanya menghindarinya. Kalaupun datang, mereka berusaha untuk berkumpul dengan para sepupu yang masih melajang dan sesama pelajang. Hal ini untuk menghindari pertanyaan singkat dan sederhana dari kerabat yang seusia dengan orangtua mereka. Kapan menikah? Kapan menyusul? Sudah ada calon? Pertanyaan tersebut, sekalipun sederhana, tetapi sulit untuk dijawab oleh pelajang.
Seringkali, pelajang juga menjadi sasaran keluarga untuk dicarikan jodoh, terutama bila saudara sepupu yang seumuran telah menikah atau adik sudah mempunyai pacar. Sementara orangtua menginginkan agar adik tidak melangkahi kakak, agar kakak tidak berat jodoh.
Tidak dapat dipungkuri, sebenarnya lajang juga mempunyai keinginan untuk menikah, memiliki pasangan untuk berbagi dalam suka dan duka. Apalagi melihat teman yang seumuran yang telah memiliki sepasang anak yang lucu dan menggemaskan. Bisa jadi, mereka belum menemukan pasangan atau jodoh yang cocok di hati. Itulah alasan mereka untuk tetap menjalani hidup sebagai lajang.
Melajang adalah sebuah sebuah pilihan dan bukan terpaksa, selama pelajang menikmati hidupnya. Pelajang akan mengakhiri masa lajangnya dengan senang hati jika telah menemukan seorang yang telah cocok di hati.
Kehidupan melajang bukanlah sebuah hal yang perlu ditakuti. Bukan pula sebuah pemberontakan terhadap sebuah ikatan pernikahan. Hanya, mereka belum ketemu jodoh yang cocok untuk berbagi dalam suka dan duka serta menghabiskan waktu bersama di hari tua.
Arus modernisasi dan gender membuat para perempuan Indonesia dapat menempati posisi yang setara bahkan melebihi pria. Bahkan sekarang banyak perempuan yang mempunyai penghasilan lebih besar dari pria. Ditambah dengan konsep pilihan melajang, terutama kota-kota besar, mendorong perempuan Indonesia untuk hidup sendiri.

Referensi:
-         http://id.wikipedia.org/wiki/Perkawinan
-         http://id.wikipedia.org/wiki/Cinta
-         Adhim, Mohammad Fauzil (2002) Indahnya Perkawinan Dini Jakarta: Gema Insani Press (GIP)


followers